Gambar dari sini

“Wah, bukunya baru terbit, ya? Kapan nih kasih buat gue?”

“Album baru lagi? Bisa deh bagi-bagi.”

Oke, untuk kamu yang pernah menghasilkan karya, baik album lagu maupun buku, mungkin pernah mendapat celetukan spontan seperti itu. Beberapa teman –katanya sih gitu, ‘meminta’ karyamu dengan gratis diiringi nada bercanda. Ketika kamu mengatakan bahwa mereka bisa membelinya di toko A, toko B, dan seterusnya, biasanya jawaban berikutnya adalah.

“Ah, gitu lo sama temen. Atau lo pasti punya kan album/bukunya? Gue pinjem, deh.”

Katanya sih… temen 😛

Jadi, begini adek-adek, hal pertama yang harus kamu tahu sebelum meminta-minta gratisan karya temanmu adalah: karya itu dibuat dengan menguras tenaga, waktu, serta otak. Setelah karya dipublish, tentu si empunya karya berharap orang-orang memberikan feedback berupa kritik/saran dan sekaligus menghargai karyanya.

Lalu bagaimana cara menghargai karya orang lain? Sederhana saja, salah satunya jangan beli bajakan dan jangan minta gratisan. Mungkin harga satu buku rata-rata sekitar Rp 50.000,- sekarang. Dari nominal sebesar itu, royalti untuk penulis hanya 10%, dan teman yang baik tidak akan minta gratisan –sebab ia akan ikut mendukung hasil karya sahabatnya dengan membeli.

Bukan, ini bukan masalah pelit. Ini masalah bagaimana kamu menjadi manusia seutuhnya, yang tahu caranya menghargai jerih payah orang lain. Coba sesekali posisikan dirimu sebagai si empunya karya. Ketika kamu sudah begadang berbulan-bulan, jatuh bangun, kurang tidur, hanya untuk menyelesaikan karyamu tepat waktu, lalu ketika karya tersebut dijual, temanmu minta gratis dengan santainya. Pasti rasanya cuma mau ngelus dada 😛

Dari sekian banyak penghasilanmu selama sebulan, atau uang jajan yang kamu dapat dari orangtuamu, kamu bisa menyisihkannya untuk mendukung karya temanmu. Jika tak bisa membeli bulan ini, bulan depan pun jadi. Saya yakin cara itu akan jauh lebih bermakna baginya, ketimbang kamu langsung membaca di hari itu juga, tapi meminta-minta –terlebih memaksa.

Bukan, ini memang bukan masalah pelit. Ini adalah salah satu penekanan agar generasi muda lebih menghargai sebuah karya. Menjiplak dan meminta gratisan sama sekali bukan budaya yang sehat, karena hanya akan mengajarimu menjadi manja. Tidak bisa menghasilkan karya sendiri –jika terbiasa menjiplak. Tidak tahu menghargai keringat orang lain –jika terbiasa meminta-minta.

Lalu, sejauh apa kamu sudah menghargai karya teman-temanmu selama ini?

*

Iklan lewat dulu, ah!

Antologi cerpen saya bersama 11 penulis lainnya (Uni Dzalika, Harry Irfan, Danis Syamra, ManDewi, Carolina Ratri, dkk) baru saja terbit melalui Nulisbuku. Antologi berjudul Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain ini bisa kamu pesan baik dalam bentuk Black and White (BW), maupun Full Color (FC). 1 eks versi BW bisa kamu beli dengan harga Rp 55.000,- dan 1 eks versi FC diberi harga Rp 70.000,-

Buku ini memiliki 12 ilustrasi dan tentu yang FC akan lebih oke sebab semua ilustrasinya akan berwarna!

Selain itu, selama masa Pre Order, 40 orang pemesan pertama akan mendapatkan bonus pouch cantik serta kartu pos lucu.

Untuk pemesanan, silakan hubungi Danis di WA: 0815-1742-3512 atau LINE: danissyamra.

PO dibuka sampai tgl 7 Januari 2016. Buku pemesan akan dikirimkan secepat-cepatnya mulai tanggal 14 Januari 2016, sebab sistemnya adalah print on demand, jadi butuh waktu untuk mencetak dan mendistribusikan buku.

Bagian ini yang paling saya suka. Semua keuntungan dari penjualan buku ini akan disumbangkan ke Yayasan Kanker Anak 🙂

Yuk, diorder! Hiyaaatt! 😀

(Visited 275 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Mengapa Kita Harus Menghargai Karya Orang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *