Coretan

Mencari Wiji Thukul dalam Labirin Penuh Teka-teki

Judul: Wiji Thukul [Teka-teki Orang Hilang] – Seri Prahara-prahara Orde Baru
Penulis: Tempo
Penerbit: Penerbit KPG / Buku Tempo
Tahun Terbit: Agustus 2015 (Cetakan Kedua)
Harga: Rp 50.000,-
Jumlah halaman: 160 hal.
ISBN: 978-979-91-0921-7

*

Blurb:
Lelaki cadel itu tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang mempesona.

Namun, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam. Dilenyapkan.

Wiji Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Tapi Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya menakutkan sebuah rezin dan kematiannya hingga kini jadi misteri.

Kisah tentang Wiji Thukul adalah jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru”, yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo Mei 2013. Serial ini menyelisik, menyingkap, merekonstruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan.

*

Review:
Sebelum mencari dan membeli buku ini, nama Wiji Thukul saya temukan di salah satu artikel yang beredar di ranah maya –yang saya lupa tepatnya di mana. Di blog itu, ada cerita singkat mengenai beliau, dan puisi terkenalnya berjudul Peringatan, serta Bunga dan Tembok. Saya menyukai diksinya yang bersemangat di antara kalimat-kalimat sederhana. Kemudian, tak lama setelah itu, saya semakin penasaran, siapa sesungguhnya penyair yang dihilangkan paksa oleh Orde Baru tersebut? Seberapa dalam kekuatan sajak-sajaknya, karya-karyanya, hingga ditakuti oleh sebuah rezim? Kala tragedi huru-hara tersebut berlangsung, barangkali saya masih ingusan, masih terlalu kecil untuk paham bahwa di luar sana ada tindakan kesewenang-wenangan, penculikan, pembunuhan, pengekangan hasil karya, dan semacamnya. Tapi manusia sejatinya tidak bodoh, karena itu saya mencari tahu. Sejarah mungkin bisa berbohong, tapi sekali lagi, manusia tidak bodoh. Sejauh apa pun sejarah berbohong, kita tetap bisa memilih untuk menggali kebenarannya.

Saya mulai mencari Majalah Mingguan Tempo edisi Wiji Thukul yang terbit Mei 2013, tapi gagal menemukan edisi fisiknya. Saya kemudian hanya membaca edisi digitalnya, lengkap dengan sebundel kumpulan puisi Thukul berjudul Para Jenderal Marah-marah. Tak berhenti di sana, saya membeli buku kumpulan puisinya yang diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama, berjudul Nyanyian Akar Rumput. Dari dua buku puisi tersebut, saya akhirnya paham mengapa beliau begitu ditakuti Orde Baru. Sajaknya sederhana, sang penyair pun penampilannya sederhana, tapi makna karyanya tak pernah sesederhana itu. Dengan sajaknya, ia dianggap menebar kebencian pada Orde Baru, padahal ia hanya menuliskan apa yang ia rasakan.

Pada sebuah artikel, saya membaca tanggapan Fitri Nganthi Wani –anak sulung Wiji Thukul, mengenai nasib ayahnya yang tak kunjung jelas. “Ayah saya juga penulis catatan harian, penulis sajak, mengapa ia harus dihilangkan.” Begitu kira-kira bunyinya. Dari wawancara itu saya tahu, betapa dalam kekecewaan Wani terhadap orang-orang yang kita sebut sebagai ‘pemerintah’. Pertanyaan terbesarnya, benarkah pernah ada demokrasi di tanah ini, jika orang yang menulis sajak saja harus dibungkam dan dilenyapkan?

Kembali ke ulasan, saya akhirnya mendapatkan buku ini di sebuah web online, setelah mencarinya beberapa waktu. Seperti dugaan saya, membaca majalah Tempo edisi khusus tersebut ternyata tak cukup, sebab pasti ada hal yang lebih dalam, yang dituliskan di dalam buku. Benar saja, walau saya belum pernah menemukan buku biografi lengkap mengenai seorang Wiji Widodo –nama asli Wiji Thukul, tapi setidaknya cerita dalam buku ini sudah cukup banyak.

Teka-teki Orang Hilang menceritakan bagaimana sepak terjang seorang Wiji Thukul remaja, putus sekolah di kelas 2 menengah atas, bergabung dengan Teater Jagat, hingga perjalanannya menikah dengan Siti Dyah Sujirah alias Sipon, kelahiran kedua anak mereka, membentuk Jaker, hingga secara sepihak memasukkan Jaker sebagai salah satu sayap PRD (dan hal ini membuat beberapa teman senimannya –bahkan Cempe Lawu Warta Wisesa, gurunya sendiri, kecewa).

Wiji Thukul adalah seorang anak tukang becak, pria yang tak mampu melafalkan huruf ‘r’ dengan baik, tapi punya semangat tinggi untuk menumbangkan ketidakadilan. Beberapa kali beliau ikut serta dalam demo buruh, bahkan hingga mata kanannya terluka serius dan nyaris buta akibat dikeroyok aparat. Bahkan terlalu sering beliau harus berpindah tempat semasa pelariannya sebab dikejar-kejar oleh pemerintahnya sendiri.

Selain Wiji Thukul, juga ada beberapa nama anggota PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang sempat diburu dan berhasil diculik. 9 orang sudah dibebaskan, 1 orang ditemukan meninggal, dan 13 lainnya masih tidak jelas nasib hidup matinya –salah satu di antara mereka adalah Wiji Thukul. Seorang kawan pernah bilang, mereka yang dibebaskan adalah aktivis biasa yang tak dianggap terlalu berbahaya. Setelah rezim Orba tumbang pada 1998, mereka bisa kembali keluar dari bawah tanah. Bahkan beberapa di antaranya sekarang menjadi politikus. Tapi 13 orang yang masih hilang itu adalah aktivis sejati, aktivis yang sebenarnya, yang saking berbahayanya, mereka ‘tak diizinkan’ untuk keluar kembali ke permukaan, mereka yang benar-benar menjadi target utama perburuan untuk dilenyapkan. Apa pun opini yang beredar di luar sana, entahlah.

Nama Thukul kerap disebut-sebut para regu penculik ketika menyiksa para aktivis buruan mereka. Thukul dikenal sebagai si pembuat pamflet. Salah satu kalimat penculiknya yang saya ingat adalah, “sajak Thukul sebenarnya bagus, sayang otaknya kotor.”

Hal ini membuktikan betapa berbahayanya sosok Wiji Thukul di mata penguasa zaman itu. Betapa takutnya mereka pada sajak-sajak Thukul nan sederhana itu.

Seperti yang pernah ditulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya, Thukul memang bukan sebuah judul atau tokoh tengah halaman dalam sejarah polisik maupun sastra Indonesia, tapi beliau adalah catatan kaki –adanya di akhir bab, dan mengandung informasi penting.

Ada benarnya, barangkali Thukul bukan penyair yang berusaha menyesuaikan diri dengan pembacanya. Ia bisa saja menggunakan selipan bahasa Jawa –dari tempatnya berasal, tak peduli apakah pembacanya di sudut daerah lain akan mengerti atau tidak. Ia adalah ikon kebebasan berkarya, penentang tirani.

Dan terlepas dari semua kegiatan seni, pergerakan politik, atau berbagai pergolakan yang pernah dialami seorang Wiji Thukul, saya kadang merasa bahwa apa yang yang saya rasakan ketika kehilangan ayah tak ada seujung kuku dengan kehilangan yang dirasakan Fitri Nganthi Wani dan adiknya. Setidaknya, saya melihat ayah saya untuk terakhir kali, memeluknya erat-erat, dan tahu bahwa kami jelas takkan bertemu lagi. Maka dari itu, semoga kasus Wiji Thukul segera selesai –bagaimana pun penyelesaiannya. Hingga tak menimbulkan tanda tanya berkepanjangan bagi pihak keluarga.

Sungguh, zaman itu sangat rumit dan kejam sekali ternyata 🙂

*

Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

*

Dalam sebuah buku, seorang sahabat Wiji Thukul menuliskan kisah merebaknya beragam dongeng mengenai Wiji Thukul. Ada yang mengira ia masih hidup, bersembunyi, dan berkarya entah di mana. Seperti semua dongeng bahagia, dalam hati kecil, saya juga berharap dapat melihat kembali Wiji Thukul. Saya membayangkan apa kira-kira yang akan ditulisnya, manakala menyaksikan jenderal-jenderal penculik dari era Orde Soeharto disambut tepuk meriah, didampingi punggawa pengiring, sebagian teman lamanya sendiri, siap ikut pemilu. Namun, bila Wiji Thukul tak kunjung kembali dan rasa pedih berkepanjangan, setidaknya kita berharap bahwa ketidakhadiran Wiji Thukul akan menjadi kutukan yang terus memburu para penculiknya.

(Wiji Thukul dan Kejahatan yang Berkelanjutan – Robertus Robet, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta)

(Visited 140 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Mencari Wiji Thukul dalam Labirin Penuh Teka-teki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *