Gambar dari sini

Sore ini notifikasi LINE saya berbunyi, sebuah chat masuk di grup. Pertanyaan semi serius untuk dijawab, sudah menanti.

Kalau bosan baca buku, kalian ngapain?

Saya menjawab: dengar musik, jalan-jalan, kentjan.

Yang lainnya menjawab: ke mal, nonton film, dan banyak lagi.

Kemudian pertanyaan berubah menjadi, “lalu ketika selesai, kalian balik lagi membaca buku?”

Spontan saya menjawa, “iya. Pasti. Kalau hobi kita di sana, ke mana pun kita pergi, kita akan kembali.”

Hal ini berlaku juga untuk menulis, dan jenis hobi lainnya –tak terbatas pada baca buku. Kalau hobimu tidur, maka jadilah putri tidur. *uopo iki*

Ya, intinya, renjana tak pernah berdusta. Ketika kita hobi baca atau menulis misalnya, mungkin suatu kali kita akan bosan. Penyebabnya banyak hal, barangkali karena banyak pikiran, banyak masalah, sedang kesal, atau merasa monoton dan ingin mencoba kegiatan lain. Tapi sekali lagi, renjana tak pernah berdusta, sebab kita akan selalu kembali. Menjalani hobi itu sama seperti mencintai seseorang. Terkadang kita bosan, merasa ia sudah berubah, tapi pasti kita akan selalu kembali –jika cinta itu benar ada.

Saya pun kadang merasa bosan dengan banyak hal. Bahkan terkadang saking bosannya, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa, padahal belum semua hal menarik dalam hidup ini pernah saya lakoni. Iya, belagu banget ya rasa bosannya. Hehe. Tapi ketika rasa bosan saya sudah pergi, saya bisa menikmati buku dengan nyaman seperti sediakala, pun dengan menulis.

Oh, dan tak ada gunanya kita membaca, menulis, dan menjalani hobi jika kita sedang jenuh (tidak ingin). Terkadang kita takut meninggalkan hobi tersebut untuk sementara karena sudah mengklaim bahwa kita menyukainya. Kita merasa ego kita terbanting ketika harus alpa melakukannya sekali dua kali. Padahal, ketika otakmu itu sedang jenuh, kamu takkan bisa menikmati bacaan, walau sebagus apa pun bukunya. Sama dengan menulis juga, ketika kamu jenuh, sebagus apa pun ide dalam kepalamu itu, takkan bisa kamu olah menjadi tulisan yang sesuai dengan ekspektasi.

Salah satu cara mengatasinya ya ‘berpaling’ dulu mencari kegiatan lain. Nah, yang ini juga berlaku dalam prinsip mencintai. Kita bisa ‘berpaling’ dulu ke teman-teman sekitar untuk melakukan entah kegiatan apa, selama tidak selingkuh sama lawan jenis aja sih.

Fufufu.

Demikianlah saya.

Jadi, ke mana kamu berpaling jika sedang jenuh? *rentangkan pelukan*

 

(Visited 67 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *