Coretan

Sebab Karya Tak Pernah Mati

Gambar dari sini

Tempo hari saya menunjukkan sebuah lagu kepada karib saya –lelaki slebor asal Sumatera sana, Lagunya pun saya dapatkan dari teman lain lagi. Ia mendengarkan sebentar, kemudian berkomentar, “ini lagu propaganda, ya?”

Saya tertawa, “mungkin begitu.”

Ia berkata lagi, bahwa ia bisa menebak hanya dengan sekali dengar, sebab sudah jelas tergambar di liriknya. Saya nyeletuk, bahwa sebuah lagu sebegitu hebatnya, kadang awalnya tidak kita suka, namun bisa melekat di dalam kepala dan lama kelamaan kita akan memutarnya berulang-ulang tanpa sadar.

Ia tertawa. “Hati-hatilah qe makanya.”

Qe dalam bahasa Aceh berarti ‘kamu’. Saya juga memberikan emotikon tertawa. Saya bilang, saya akan baik-baik saja, sebab saya cukup percaya diri bahwa saya adalah anak muda yang punya sikap. Itu saja.

Speaking of propaganda, setelah beberapa kali membaca tulisan sana-sini, mendengar lagu sana-sini, saya merasa mereka -orang-orang pembuat karya yang kemudian disebarkan itu, memang punya strategi bagus. Karya memang tak pernah mati, bahkan walau penciptanya mati secara fisik.

Karya itu sama seperti kebenaran, akan terus hidup 🙂 *nah, ketahuan kan ini kutipan tulisan siapa*

Beberapa yang saya tahu adalah lagu, zine, sajak/kutipan, esai, kaos, dan sebagainya. Lagu banyak digunakan anak-anak muda. Entah dari mana asal lagu-lagu itu, kemudian tiba di telinga, kemudian terasa bahwa alunan nadanya enak, kemudian jadi hapal liriknya. Sedangkan sajak/kutipan, siapa yang tak kenal kalimat ‘lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan’ atau ‘hanya ada satu kata: lawan!’

Dua potongan kalimat tersebut adalah karya dua orang berbeda zaman, tapi sama-sama memiliki pengaruh besar bagi anak muda setelah zamannya. Kalimat pertama adalah catatan harian Soe Hok Gie, seorang aktivis Indonesia yang mati muda, yang pada zamannya menentang kediktatoran Soekarno, juga Soeharto. Sedangkan yang kedua adalah milik Wiji Thukul, penyair asal Solo yang hingga kini masih hilang, sejak tragedi Mei 1998 yang kelam.

Selama bertahun-tahun setelahnya, kalimat tersebut jadi bacaan dan andalan para demonstran. Hanya dengan sajak dan tulisan sejenisnya, mereka menguasai kepala banyak orang, mengobarkan semangat yang sama dengan semangat mereka terdahulu. Bahkan banyak kutipan mereka dan kawan-kawannya sesama aktivis yang kemudian dicatut dalam kaos-kaos propaganda. Misalnya seperti vendor kaos kesayangan saya ini –tempat saya biasa mencari kaos yang unik, dan beda dari kaos di pasaran. Dari bio Instagramnya saja sudah jelas, propaganda machine wear! Iya, yang mas adminnya pernah semena-mena ngatain pipi saya mirip bakpau. Hiks.

Hahaha, sekalian iklan, ah. Siapa tahu belanja berikutnya dikasih diskon

Sekali lagi, betapa hebatnya sebuah karya.

Saya harus mengakui, beberapa jenis karya di atas juga adalah media yang tepat untuk propaganda, sebab tak sulit menyebarkannya di kalangan anak muda. Anak muda menyukai musik, dari kalangan mana pun mereka berasal. Yang membedakan hanya jenis musiknya. Sebagian dari mereka suka membaca, maka di sanalah sajak, esai, dan zine berperan.

Kemudian saya takjub dengan kesadaran saya hari ini. Ternyata karya bisa berpengaruh sebesar itu, ulang saya dalam hati, berkali-kali.

“Hati-hatilah qe, jangan sampe kecuci otak.” Kalimat si kawan muncul lagi di notifikasi.

(Visited 79 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Sebab Karya Tak Pernah Mati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *