Gambar dari sini

Setiap kali saya punya masalah, saya selalu memikirkan kata-kata beberapa kawan. Bukan kata, mungkin lebih tepatnya pendapat beberapa kawan tentang saya. Dan lucunya, semua ini ucapan lelaki-lelaki yang berbeda. Suatu kali, pernah ada yang bilang, “gue kadang ngerasa ini sedih. Sedih aja, lo itu perempuan, sendirian, tapi tanggungjawabnya gede. Harus kerja, nggak ada bokap. Kadang gue ngerasa ini sedih aja.”

Menanggapi yang ini saya biasanya tertawa. Saya memang begitu, hidup tak pernah mudah, jenderal. Apalagi di Jakarta yang katanya keras kayak guru matematika zaman SD itu. Lalu, saya teringat kalimat yang kedua. Mengenai pertanyaan, “pernah kepikiran bunuh diri?

Saya menjawab tidak.

Saya tak punya alasan agamis mengapa saya tak bunuh diri di antara masalah hidup saya yang seperti tak berhenti sejak beberapa tahun lalu. Alasan agamis tak sekuat logika, menurut saya. Seseorang boleh takut bunuh diri karena dosa, tapi ketika imannya tak ada lagi, ia tak akan segan-segan untuk membuang nyawanya entah ke selokan atau laut mana pun. Tapi saya punya alasan yang menurut diri saya lebih masuk akal. Iman bisa hilang, tapi logika bertahan lebih lama dalam kepala.

Buat saya, dibanding bunuh diri, jika saya hidup, saya bisa melakukan lebih banyak lagi hal menyenangkan. Bunuh diri hanya akan mengakhiri, sakit pula akhirnya. Kita tak tahu juga bagaimana kelanjutan setelah itu. Tapi jika kita terus hidup, menghadapi masalah-masalah yang ada, kita bisa mengecap banyak hal sesudahnya. Percayalah, mencoba rokok dan alkohol pertama kali pasti jauh lebih asyik ketimbang merasakan leher tergantung di langit-langit kamar.

Itu baru kalau kasusnya kamu gantung diri. Kasus dan akibat lainnya bisa kamu baca di buku salah satu teman saya ini.

Saya kemudian teringat lagi, dulu ketika ayah saya baru meninggal dan pacar saya ketahuan selingkuh dan seorang sahabat saya ketahuan punya rencana busuk untuk saya, seorang teman lain pernah bilang. “Lo tahu mengapa dulu lo gue jaga lebih dari teman yang lain? Karena gue takut lo kenapa-napa setelah kejadian-kejadian itu.”

Saya masih suka tertawa mendengarnya. Saya tak suka bau Baygon, jadi saya takkan menenggak cairan itu. Saya ini takut disuntik, jadi saya tak bisa memilih suntik mati untuk bunuh diri. Saya pikir akan lebih menyenangkan tetap hidup walau dalam kebejatan ketimbang menjadi pengecut dan mengakhiri hidup. Hidup sesat saja, masih mampu membuatmu melihat banyak hal -jika hidup baik terlalu menjadi beban. Tapi bunuh diri tak bisa memberimu kesempatan untuk melihat banyak hal; mencicipi rokok pertamamu, meminum wine atau bir pertamamu, hmm, atau merasakan perihnya tato pertamamu barangkali?

Makanya saya lebih suka tertawa saja. Bunuh diri bukan jalan yang cerdas. Jika hidup menyiksamu, bangunlah dan siksa ia balik. Tunjukkan bahwa kamu bisa menghadapi hidup, dengan cara apa pun. Jangan ketakutan di balik tameng dosa, sebab jika imanmu pergi, mungkin nyawamu jadi tak berharga lagi. Tiap kali kamu berpikir untuk mengakhiri hidup, coba saja bayangkan ini: di luar sana pasti ada orang yang memiliki lebih banyak alasan untuk bunuh diri DARIPADA KAMU. Karena masalah hidup adalah milik semua manusia, bukan kamu seorang.

Satu kalimat lagi yang sering membuat saya tertawa. “Yakin nggak pernah kepikiran bunuh diri? Yang bener?

Dan ini hanya ingin saya jawab. “Bunuh diri bukan untuk orang putus asa, sebab orang putus asa saja kadang masih bisa bangkit. Bunuh diri hanya untuk orang bodoh, yang tak tahu caranya bersenang-senang di atas dunia fana ini.”

😛 Dan demikianlah.

(Visited 148 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Alasan Mengapa Saya Tak Bunuh Diri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *