Coretan

Apa yang Kerap Dibicarakan Orang Usai Sesamanya Meninggal

Gambar dari sini

Saya tak suka kematian, sebab saya tak suka kesedihan. Terakhir kali saya menangis seperti orang stress adalah ketika ayah saya meninggal -tepat bulan ini, 3 tahun lalu. Tapi saya ‘terpaksa’ dihadapkan lagi pada  kejadian yang sama nahasnya beberapa waktu lalu. Seorang saudara dekat baru saja meninggal, kemudian saya datang untuk ikut menunggui jenazah beliau. Di sana, sanak keluarga yang bisa dibilang sudah tak pernah bertemu sejak zaman batu akhirnya bertatap muka. Harus saya akui, keluarga saya tak seharmonis itu, banyak intrik yang sewaktu kecil tak saya mengerti, tapi justru kini membuat saya lelah –ketika saya sudah memahaminya.

Di sana, mereka memperbincangkan hal-hal duniawi. Ini yang kerap membuat saya penasaran. Di belahan dunia sana, atau mungkin di tempat kalian, hal apa yang kerap dibicarakan orang-orang usai sesamanya meninggal dunia? Apakah warisannya? Ahli warisnya? Penyakitnya? Bisakah kita barang sebentar saja membicarakan hal-hal baik yang mungkin membuat beliau bahagia bila mendengarnya? Tak bisakah kita bicara tentang apa saja kebaikannya, jasanya, atau setidaknya kerelaan kita pada cobaan hari itu?

Sama seperti orang yang senang memasang doa di sosial media tapi tak pernah tahu apakah Tuhannya punya akun sosmed atau tidak, kita juga tidak akan tahu apakah jiwa orang yang meninggal itu masih ada di sana, tengah melihat kita yang sedang bercakap-cakap sambil makan kacang atau minum kopi.

Apa yang ada di pikiran orang yang melayat itu?

Barangkali ada 3 generasi yang akan selalu berkumpul ketika seseorang meninggal. Anak kecil akan berlarian ke sana dan ke mari, sebab mereka tak tahu apa itu ajal atau kematian. Generasi muda akan sadar sejenak bahwa mereka akan menua seiring waktu, lalu tiba di akhir. Sedangkan generasi tua adalah generasi yang banyak merenung, sebab kerabat seumuran mereka sudah pergi satu per satu karena siklus kehidupan.

Lalu masihkah kita membicarakan hal duniawi, ketika kita melihat di depan mata sendiri, bahwa ketika pergi dari dunia ini, kita tak membawa satu butir emas pun?

Apa yang kira-kira ada di pikiran orang yang melayat itu?

Apa yang dirasakan mereka yang pergi itu? Kecewakah ia pada orang-orang yang ia tinggalkan?

Sungguh, saya tidak suka suasana duka. Bahkan suara sirine ambulans saja bisa membuat saya menangis karena terlalu trauma pada kejadian tiga tahun lalu.

Saya benar-benar tidak suka kesedihan yang seperti ini.

Sialan.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *