Coretan

Menetap di Jakarta

Siang ini seorang teman bercerita pada saya mengenai masalahnya di rumah. Bahwa ia ingin sekali merantau ke Jakarta, namun belum kunjung mendapat izin dari orangtua. Juga tentang kerabatnya yang konon kembali ke kampung halaman setelah 2 minggu berada di ibukota dan bersumpah takkan kembali lagi karena menganggap Jakarta begitu keras. Terlebih dengan adanya tragedi Sarinah tadi siang, di mana bom-bom bunuh diri meledak dan membuat seisi kota jadi cukup mencekam.

Jadi, ia bertanya pada saya di sebuah chat LINE: mput, benarkah Jakarta sekejam dan seseram cerita orang? Semahal itukah biaya hidup di sana?

Saya seperti dejavu. Hal itulah yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri, di hari pertama saya menginjak kota Jakarta untuk menetap dan melanjutkan studi, beberapa tahun yang lalu. Mput, benarkah ini sebuah pilihan tepat? Bukankah Jakarta itu kejam?

Semua orang di luar Jakarta -atau bahkan orang yang sudah lama tinggal di Jakarta juga masih berpikir demikian. Saya kemudian menjawab, mahal tidaknya pengeluaran itu tergantung bagaimana gaya hidupmu. Kejam tidaknya Jakarta, tergantung bagaimana kekuatanmu menghadapinya. Jakarta keras, harus saya akui itu. Tapi Jakarta bukan untuk perantau yang pengecut. Jakarta itu keras, jenderal. Kita bisa tertawa hari ini dan kekurangan keesokan harinya. Segala hal mungkin di sini. Tapi sekali lagi, mereka yang datang merantau adalah mereka yang tahan banting untuk tinggal di kota seperti ini.

Kota seperti ini, tak perlulah mungkin saya jelaskan seperti apa. Seantero negeri juga tahu, Jakarta itu kota macet, banjir, rawan kriminalitas, terlalu crowded, dan masih banyak hal negatif lainnya. Tapi saya harus bilang juga, Jakarta itu kota penuh mimpi. Hanya saja, jangan bayangkan semua warga Jakarta hidup mewah dan bermobil, jangan pula bayangkan kenek busnya ganteng/cantik, nanti kamu patah hati. Jakarta itu indah, tapi tak sehiperbola yang disajikan sinetron atau FTV layar kaca. Mari bicara realita saja, agar kamu tidak kaget ketika pertama memutuskan tinggal dan menetap di Jakarta.

Jakarta itu kota penuh mimpi. Saya tiba di sini hanya karena ingin melihat bagaimana wujud Kota Tua. Impian saya secetek itu dulu, tapi mungkin saya takkan berhasil bekerja di sini jika saya tak meminta untuk kuliah di Jakarta. Kenyataan berkata bahwa ayah saya meninggal beberapa tahun setelah saya kuliah. Jika saya tetap di daerah, mungkin saya akan jadi manusia yang luntang-lantung karena sulitnya mendapat pekerjaan di sana lebih-lebih ketimbang sulitnya mendapat pekerjaan di ibukota.

Jakarta itu keras, tapi semua cerita senang-sedih serta mimpi saya pernah ada di sini. Walau setelah beberapa tahun, saya memang membuat rencana-rencana baru untuk mulai mencari penghidupan di Bali atau Ubud, tapi saya tak bisa mencap Jakarta sebagai kota yang jelek dan negatif. Jakarta tetap berperan membangun kehidupan saya selama ini, lengkap dengan suka dukanya.

Percayalah, kalian yang ingin menetap di sini hanya butuh adaptasi. Jangan cepat menyerah. Ibukota ini keras, kawan, dan ia tak butuh pengecut. Jakarta lebih butuh manusia-manusia kuat.

Jangan tambah kepadatan ibukota dengan rasa cengeng, ibukota kita tak butuh itu di tengah masa tuanya.

Mengenai Sarinah, tak perlulah saya jelaskan. Kalian bisa lihat kekuatan rakyat Jakarta di hastag #KamiTidakTakut

Itu satu hal yang kalian harus tahu. Jakarta is not afraid 🙂

(Visited 95 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *