#KentjanJakarta

Baca Buku di Kedai Kopi

Nyuri foto, mumpung mbaknya nggak lihat. Caption macam apa ini..
Nyuri foto, mumpung mbaknya nggak lihat. Caption macam apa ini..

Harus saya mulai dari mana ya, tulisan ini. Hmm, awalnya saya berencana akan menghabiskan Sabtu pagi sampai siang dengan membaca buku di taman, mengingat ada buku Secret Santa BBI yang belum saya baca dan tenggatnya tinggal beberapa hari lagi untuk diposting. Tapi tanpa diduga, pagi ini Jakarta kehujanan. Dan saya jadi malas keluar walau hujannya reda, sebab membayangkan kursi taman yang pastinya basah nggak karuan.

Akhirnya saya memutuskan ke sebuah kedai kopi Belanda tak jauh dari kosan. Tempatnya nggak bisa dibilang dekat banget atau jauh banget. Ada kedai yang lebih dekat tapi super berisik. Nah, satu-satunya yang tenang di daerah sini hanya kedai ini. Namanya Goedkoop, di area Foodhall Kebon Jeruk.

Sebenarnya lagi, saya termasuk orang yang lebih suka bekerja dan menulis ketimbang membaca buku di kedai kopi. Sebab rata-rata kedai kopi punya musik yang berisik, atau pengunjung yang kelewat ramai. Ada kedai kopi yang tenang, tapi malah pengunjungnya bising, saking padatnya. Misalnya kedai kopi tenar asal Amerika yang harga kopinya lumayan itu 😛 Pelayanan oke, kopi enak, tapi bising. Saya merasa wasting time kalau ke sana untuk baca buku.

Menghabiskan utang bacaan. Hiks.
Menghabiskan utang bacaan. Hiks.

Nah, kebetulan Goedkoop yang di cabang sini masih tenang dan sepi suasananya, tidak begitu banyak orang. Setelah itu saya sadar, saya harus memilah kedai kopi yang saya datangi berdasarkan tujuannya. Memilih kedai kopi untuk sekadar nongkrong tentu beda pertimbangannya dengan memilih kedai untuk bekerja atau membaca buku. Masing-masing kedai kopi pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Berikut beberapa tips yang bisa kamu pertimbangkan jika mencari kedai kopi untuk bekerja/baca buku:

  1. Pastikan tempatnya cocok dengan seleramu. Ini penting, sih, kalau buat saya. Makanan dan kopinya enak, tapi bising sekali. Saya bisa sakit kepala. Sebab bekerja dan membaca membuat kita berpikir dan cepat lelah, kalau ditambah dengan suara huru-hara, ya terima kasih banyak 😛
  2. Walau ini optional, tapi tidak ada salahnya dikroscek. Pastikan makanannya enak, atau minumannya tidak failed. Meski semua kopi terlihat sama saja, tapi ada yang kopinya memang enak dan bikin nagih, ada yang biasa saja, ada yang gagal.
    Pastikan makanannya enyak..
    Pastikan makanannya enyak..

    Jpeg
    Dan minumannya enak! Slurp! :))
  3. Ini juga optional, penting-penting nggak. Harga. Semua orang pasti maunya, apa yang dikeluarkan sesuai dengan apa yang didapatkan, bukan? Tidak ada yang mau membayar mahal untuk makanan/minuman yang rasanya nggak karuan dan pelayanan kedai kopinya bangke. Saya juga tidak. *orang Padang, muahahaha*
  4. Untuk mengecek hal-hal penting di atas, kamu bisa buka Zomato atau Openrice. Dua web kuliner ini penting buat kamu yang suka nongkrong, terlebih di Jakarta. Buat saya, sih, mengecek ulasan orang lain cukup bermanfaat sebelum mencoba sebuah kafe atau resto. Sebab, biasanya penyuka kuliner di Zomato/Openrice itu ulasannya sama ganas dengan pembaca buku di  Goodreads. Saya pernah mengulas sebuah kafe yang pajaknya keterlaluan tingginya, tapi tempatnya hanya ruko biasa saja. Kali kesekian saya datang, kafe itu melenyapkan pajak dari bilnya. Iya, pengaruh Zomato/Openrice sebegitu kerasnya dalam bisnis kuliner. 😛
  5. Yang ini baru bisa kamu rasakan sendiri ketika kamu sudah datang ke tempatnya. Pelayanan! Pelayanan seorang waiters bisa beda dengan waiters lain, tapi secara garis besar bisa disimpulkan, kok. Saya pernah ke kafe yang pelayannya cuek-cuek, semacam nggak niat jualan, ada juga yang ramah nggak ketulungan dan sigap. Misalnya Koultoura Coffee di Taman Ratu, saya suka sekali pelayanannya. Ramah dan cepat. Malah saya sebagai tamu merasa bawel sendiri, melihat mbaknya buru-buru mengambilkan tisu, saus, mayo, dll untuk meja kami kala itu. Ciamik 😛

Itu biasanya beberapa poin yang saya perhatikan untuk memilih kedai kopi yang nyaman. Hal ini sebenarnya bisa diterapkan untuk jenis resto juga, tidak hanya kedai kopi, sebab poinnya umum. Tapi berhubung saya anak nongkrong coffeeshop, jadi saya lebih suka memberi tips untuk kedai kopi saja.

Jadi, apa rencana akhir pekanmu?

 

(Visited 139 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Baca Buku di Kedai Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *