Coretan

Ketika Manusia Semakin Banyak Tahu

Gambar dari sini

Beberapa hari belakangan ini saya menyimpulkan sesuatu: manusia itu pada dasarnya punya kemungkinan yang besar untuk sombong, sebab beberapa orang dari kita belum bisa mengontrol ego kita sendiri. Semakin banyak kita tahu akan suatu hal, kita akan semakin menganggap remeh pada orang yang tidak mengetahui hal tersebut. Misalnya ketika kita paham masalah hukum, lalu ada berita kriminal di televisi dan seorang teman berkomentar salah, kita masih cenderung melemparkan tanggapan, “ayolah, itu aja nggak tahu.”

Padahal siapa tahu dia memang nggak tahu.

Hal ini agak berbahaya jika terjadi dalam kelompok atau komunitas. Saya pikir, seringkali yang senior merasa superior, sebab ia tahu lebih banyak soal komunitas tersebut. Di beberapa tempat hal ini barangkali pernah terjadi. Tapi sebenarnya, bukankah orang-orang yang junior dan banyak tanya itu adalah cerminan para senior sebelum mereka ‘tahu apa-apa’? Jadi, mengapa kita kadang masih suka menghakimi orang yang tidak tahu apa-apa dengan pandangan atau komentar, “nggak perlu kali nanya, itu aja nggak tahu!”

Barangkali saja, mereka takut salah langkah, maka bertanya pada kita terlebih dulu.

Sebagai senior dalam hal atau kelompok tertentu, manusia cenderung posesif dan menaikkan egonya. Merasa bahwa jatah pekerjaan dia tak ada yang bisa mengerjakan, hanya dirinya sendirilah yang mampu. Merasa bahwa orang lain tak tahu apa-apa. Bahwa orang lain hanya semacam anak ingusan kemarin sore yang ingin ikut campur pada hal-hal yang sebenarnya bukan ranah mereka.

Sadar tidak sadar, banyak orang sudah melakukan itu terhadap juniornya, terhadap orang-orang yang mereka anggap tak tahu apa-apa. Ketika manusia semakin banyak tahu, semakin berbahayalah ia. Pernah mendengar ungkapan bahwa, orang bisa semakin licik dan jahat ketika otaknya terlalu pintar? Nah, itulah. Beberapa teroris juga pintar, kok. Akuilah. Hanya mereka yang pintar yang bisa merakit bom, merancang strategi pengeboman dengan risiko hidup-mati, atau bahkan kadang lolos bertahun-tahun lamanya, kabur ke luar negeri. Wuih, hidup mereka seperti film-film action di televisi berbayar saja. Atau akuilah, bahwa orang yang berprofesi sebagai gembong narkoba adalah orang yang hidupnya menegangkan, belum lagi yang pembunuh bayaran, perampok, dan dan semacamnya. Profesi-profesi ekstrem itu penggelutnya bukan orang-orang bodoh. Justru karena mereka pintar, hal-hal yang mereka lakukan kerap mengejutkan orang. Bukankah begitu?

Jadi, semoga ketika kita pintar, kita tidak menjadi orang jahat. Tak usah dari membunuh nyawa orang, usahakan saja tidak membunuh psikologis orang, dengan menjawab pertanyaan polos mereka baik-baik. Tanpa ego, tanpa cemooh.

Bukankah ini lebih mudah? 🙂

*

*Sudah diposting juga di nganu.webs.com

(Visited 77 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *