Coretan

Halo dan Salam Kenal!

Gambar dari sini

Saya kerap bertaya-tanya, bagaimana rupa Tuhan jika memang ada. Sebab saya terkadang hanya ingin mengucapkan, “halo, salam kenal, Tuhan.” dengan cara saya, dengan cara yang ringan dan tak penuh kekangan seperti perintah-perintah orang theis dalam kepercayaan yang mereka buat ribuan tahun silam.

Barangkali, Tuhan adalah sekelabat bayangan hitam yag tak bisa dilihat dengan jelas oleh siapa pun –apalagi disentuh. Barangkali juga, sosok Tuhan itu seperti seorang paman gemuk yang perutnya akan berguncang tiap kali Ia tertawa. Sosok yang baik hati, hampir tak pernah bisa serius, dan suka membagikan hadiah untuk anak-anak.

Atau barangkali jika Tuhan ada banyak, Mereka adalah sekelompok lelaki paruh baya berwajah teduh (note: mengapa lelaki? Saya pernah membahas ini dengan beberapa teman. Intinya, rata-rata manusia menganggap Tuhan adalah seorang lelaki –walau kita tak pernah tahu jenis kelamin Tuhan yang sesungguhnya, atau malah tak terdefinisi, tapi dalam tulisan-tulisan asing pun, Tuhan digambarkan sebagai ‘He’), yang hari ini sedang duduk di meja persegi panjang sambil membaca tumpukan surat, sesekali berujar kepada sesamaNya, “Hei, lihat, seorang gadis kecil dari bumi mengirimi Kita surat!”

Entahlah, Tuhan, bagaimana adanya. Yang jelas saya tak pernah membayangkan Tuhan seperti lelaki gemuk di malam Natal yang bernama Santa Claus. Saya tak percaya dongeng bohong tengah malam untuk menidurkan bayi. Ayah saya juga tak pernah memberi saya kado seperti Santa. Ayah saya hanya memberikan saya kado ketika saya berulang tahun, atau ketika saya mengukir prestasi di sekolah, sebab Ayah bukan orang yang percaya pada hal-hal yang tidak pasti. Kami merayakan apa yang kami lihat dan rasakan. Mungkin sebab itu juga, Ayah saya tak pernah merayakan Tuhan.

Jika Tuhan ada, seperti apakah Dia?

Saya masih punya segudang imajinasi untuk membayangkan sosok Tuhan versi saya sendiri. Sebab orang-orang yang setiap hari bicara pada Tuhan pun sepertinya tak mampu mendeskripsikan bagaimana sosok Tuhan dengan pasti.

Lebih ringkasnya, Tuhan adalah segalanya, semesta alam. Semesta alam adalah Tuhan; air, tanah, bumi, api, udara. Semuanya bisa menjadi Tuhan sebab semuanya mempengaruhi kehidupan.

Jangan hakimi imajinasi kecil saya. Sebab bagi manusia yang katanya percaya pada Tuhan yang satu pun, bisa menduakan Tuhan dengan hal lain.

Jangan hakimi imajinasi kecil saya. Sebab saya hanya ingin menyapa Tuhan dengan cara sendiri.

Halo!

Salam kenal, Tuhan 🙂

(Jika memang ada.

Atau, tak ada?)

P.S.: sudah berapa banyak manusia yang mengirimkan surat hari ini? Surat mana yang menjadi favoritMu?

P.P.S: boleh memanggilMu dengan ‘Semesta’ saja? Hei, kita memang selalu butuh nama panggilan untuk bisa akrab satu sama lain.

*

Ditulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta
Edisi 21 Februari 2016

(Visited 52 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *