Gambar dari sini

Tahun-tahun belakangan ini saya seringkali terjebak dalam pembicaraan semacam, “kok resign dari kantor anu? Padahal kan mereka punya nama, kantornya bagus juga, di tower.”

Bahkan kemarin-kemarin, ketika saya berkunjung ke salah satu tower di daerah Selatan Jakarta untuk menyambangi seorang teman yang bekerja di sana, teman lain yang datang menemani saya juga menanyakan hal yang sama.

Saya: wah, kangen juga deh kerja di tower. Hihi
Dia: memangnya dulu kerja di mana?
Saya: Di Tower Anu, perusahaannya PT. X
Dia: lho? Kenapa resign dan malah pindah ke tempat yang sekarang?

Tanpa saya bertanya pun, saya tahu maksud orang-orang itu. Ini sama saja seperti akan menjawab pertanyaan,

“Wah, kenapa putus sama yang muda dan ganteng, cuma buat yang udah lebih tua pula. Hmm.”

Dan beberapa orang barangkali akan tidak sungkan menanyakan (atau minimal melemparkan tatapan),

“Bukan $-nya, kan?”

Hahaha.

Kantor saya yang sekarang letaknya di ruko, memang akan sangat jauh berbeda ketimbang kantor lama saya di tower yang katanya keren itu. Awal-awal perpindahan itu, saya juga merasa agak canggung sendiri. Di kantor elit ala tower, saya terbiasa bekerja dengan sesama pekerja; kami tiba ke kantor tepat waktu sebab mesin finger print akan sangat berpengaruh bagi masa depan gaji, di dalam kantor adalah tempat bekerja, jarang sekali kami bisa mengobrol kecuali membahas masalah pekerjaan, makan di pantry kering dan mencuci peralatan makan di pantry basah, mengambil cangkir masing-masing lalu menuang kopi pagi yang sudah disediakan office boy di pantry kering. Hidup saya berputar seperti itu saban hari, bersama dengan deadline yang pasti selalu ada.

Suatu hari, saya memutuskan untuk berpindah. Saya tiba di sebuah ruko di sudut Barat Jakarta. Beberapa wajah ramah yang sepertinya kebanyakan tertawa, menyambut saya. Awalnya saya merasa canggung, berusaha sopan dan teratur seperti kebiasaan saya di kantor lama. Mereka banyak mengajak saya ngobrol dan bercanda, bahkan menertawakan saya di hari pertama bekerja karena saya menanyakan di mana letak pantry kering dan pantry basah. Di tower mewah itu, saya bekerja bersama sesama karyawan. Di ruko sederhana ini, saya bekerja bersama keluarga baru.

Tak tahulah saya bagaimana mengungkapkannya. Tidak ada kata yang tepat. Agak hiperbola pun rasanya, jika saya mengatakan saya selalu bahagia di sini. Sebab, tak ada pekerjaan dan rutinitas hidup yang selalu bahagia tanpa masalah. Tapi mungkin ‘nyaman’ lebih tepat untuk menggantikan kata yang hiperbola itu. Saya pergi liburan bersama teman-teman baru di sini, kami main di pantai sampai kelelep dan tertawa-tawa, mereka tidak bekerja seperti robot –tidak seperti ketika dulu saya bekerja di tower.

Jadi, jika beberapa orang berpikir bahwa saya membuang mimpi dari tower mewah itu hanya untuk bekerja di ruko, mereka salah besar. Mimpi saya tetap ada, saya ingin menjadi anak media. Sudah saya wujudkan itu. Tapi mimpi saya yang lainnya adalah bisa bekerja dengan nyaman, bersama orang-orang yang cocok, yang bisa mengerti baik buruk perilaku saya yang juga manusia ini. Di sinilah baru saya mulai menemukannya.

Tak tahulah saya bagaimana mengungkapkannya. Namun, beberapa tahun ini, jika saya ditanya apakah ingin kembali bekerja di tempat yang lama, saya mungkin akan menggeleng dulu. Tidak dulu. Sempat juga saya menolak tawaran bekerja kembali di kantor lama, beberapa bulan yang lalu, sebab saya pikir kehidupan sempurna ala tower memang enak, tapi kurang cocok untuk membuat saya nyaman. Padahal di sana banyak eksekutif muda berkeliaran, dengan pakaian rapi, bahkan heels seolah menjadi hal yang umum, ditambah gelas kopi brand Amerika di tangan. Mereka berjalan seolah dunia di sekeliling mereka tak berputar. Tuk.. tuk… tuk… kaki-kaki mereka melangkah dan menimbulkan bunyi ketukan dari sepatu berhak tinggi, menunggu di depan lift sambil memikirkan target pekerjaan hari ini.

Saya sudah pernah merasakannya, ada enak dan tidak enaknya. Tapi untuk kembali lagi, saya rasa belum saatnya. Tidak sekarang.

Jadi, jika beberapa orang berpikir bahwa saya membuang mimpi dari tower mewah itu hanya untuk bekerja di ruko, mereka salah besar.

Saya tak pernah menyesal berpindah ke posisi yang sekarang.

Sebab mimpi-mimpi saya toh akan terus ada, walau tidak lagi bekerja di tower yang tingginya puluhan lantai dan memusingkan kepala.

(Visited 67 times, 1 visits today)

One thought to “Melemparkan Mimpi dari Tower”

  1. Di tempat kerja saya yang dulu, saya adalah karyawan paling rajin, bahkan sering datang lebih cepat dari seharusnya. Atasan saya tentu saja senang dan suka dengan itu. Karena pada dasarnya saya memang (berusaha) menghargai waktu (anak manajemen gitu loh). Lalu tiba-tiba saya resign juga tanpa sebab yang bisa mereka mengerti. Semua orang kaget, tapi saya tetap resign dari perusahaan retail itu dan pindah ke start up yang tidak menentu dalam tanda kutip. HEHEHE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *