Coretan

Jangan Percaya Apa yang Dilihat Mata

Gambar dari sini

Kemarin saya bertemu dua teman, kebetulan salah satunya baru saja tiba dari Medan, jadi kami mengajaknya jalan-jalan keliling Jakarta. Destinasi pertama yang kami jajal adalah kawasan Jakpus; Jalan Sabang, Cikini, Sarinah. Usai makan dari Sabang, kami beralih menuju toko buku di kawasan Taman Ismail Marzuki, Cikini, tempat saya akhirnya membeli dua buku setelah menahan diri agar tidak memborong sepuluh 😛

Usai dari sana, teman saya yang satu memesan Grab Car. Kemudian, di sinilah cerita uniknya dimulai. Driver yang kami dapatkan seorang ibu-ibu muda, sepertinya orang Batak juga –sama seperti kedua teman saya yang lain. Setidaknya itu yang bisa saya lihat dari cara berbicaranya. Ia seorang yang cukup ramah. Tak lama setelah mobil melaju, ia meminta izin berhenti di sebuah kantor untuk mengantarkan sesuatu. Kami mengizinkan dengan senang hati, karena memang sedang tidak terlalu buru-buru.

Ibu itu turun mobil, tapi meninggalkan kunci dan mesin dalam keadaan menyala, serta seluruh harta bendanya pun ada di mobil. Sedikit heran, saya yang duduk di jok depan bertanya pada dua teman di belakang, “kok dia berani, ya, ninggalin harta bendanya gini. Padahal nggak kenal sama kita. Gimana kalau penumpangnya bukan kita, tapi orang yang punya niat jahat?”

Kedua teman saya tertawa, sontak menggeleng kepala. Salah satu dari mereka hanya menjawab pendek. “Mungkin dia nggak berpikiran sejauh itu. Antara polos, atau tak peduli.”

Kami kemudian diam dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak lama, Ibu driver itu kembali dan kami pun melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, ia bercerita tentang anaknya yang beranjak remaja. Iseng, saya pun menanggapi obrolannya, sehingga cerita beliau semakin panjang dan bersemangat. Kemudian sampailah ia pada sebuah kalimat yang membuat jidat saya berkerut heran, “iya, makanya tadi saya berani meninggalkan mobil begitu saja, sebab penumpangnya adalah kalian.”

Saya pikir, muka kami bertiga memang tampak sebaik itu. Padahal menurut beberapa teman, muka saya jutek by default.

Kemudian saya bertanya, memangnya kenapa dengan kami. Ibu itu menjawab lagi, “iya, saya percaya pada orang Kristen. Coba kalau penumpang muslim. Mana berani saya ninggalin mobil dan segala isinya begitu saja. Ngeri.”

Saya ingin tertawa, tapi saya tahan. Entah dengan ekspresi kedua teman saya di jok belakang. Hal inilah yang kerap membuat saya merasa aneh dengan watak orang-orang di negara kita. Masih banyak yang menganggap bahwa etnis/agama tertentu begini, sedangkan etnis/agama tertentu begitu. Tapi, ia juga takkan tahu jika saya Buddha, saya Yahudi, ateis, agnostik, Hindu, atau lainnya, kan? Lagi pula, bagaimana jika seandainya kami semua muslim seperti yang ia takutkan?  Sebab, seperti yang telah diketahui banyak orang, negara kita punya satu ustadz mualaf yang etnisnya cina. Pun, ada juga orang Batak yang beragama muslim di Indonesia. Tak melulu Kristen.

Saya termasuk orang yang paling tidak suka menyamaratakan semua golongan itu baik atau jahat, menyenangkan atau menyebalkan. Buat saya, itu perangai manusianya, bukan berasal dari garis keturunan atau agamanya.

Tapi sialnya, orang-orang masih kerap menghakimi sesamanya lewat ras, agama, dan antar golongan. Lalu orang-orang itu pulalah yang seringkali masih heran, mengapa agama-agama dan etnis-etnis yang berbeda itu tak pernah bisa akur satu sama lain.

Sebagian dari kita hanya belum bisa berdamai dengan pandangan-pandangan jahat yang datangnya dari dalam diri sendiri. Mungkin hanya itu saja.

(Visited 92 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *