IMG-20160327-WA0011

Liburan ini bermula dari ajakan iseng saya kepada Mbok Mandewi, “bagaimana jika kita liburan ke Dieng di long weekend Maret nanti?”

Entah kenapa, ajakan itu spontan saja. Sebab, sebelumnya saya tidak pernah liburan bareng MbokD, dan juga tidak pernah mengunjungi negeri di tanah yang identik dengan anak gimbalnya ini. Kemudian, MbokD mengiyakan, dan kami pun langsung membayar trip pada sebuah agen perjalanan.

Kami berangkat dari Jakarta pada Jumat malam, 25 Maret 2016 lalu, dengan menggunakan bus pariwisata jurusan Jakarta-Wonosobo. Bus itu menempuh perjalanan selama 12 jam dan melewati kota-kota lain di pulau jawa seperti Banjarnegara, Brebes, Pekalongan, dan lainnya. Pada Sabtu pagi menjelang siang, sekitar pukul 11, kami tiba di Wonosobo, tepatnya di tempat transit, sebab bus pariwisata besar itu tidak mungkin terus melaju ke Dieng. Kami harus berpindah ke 4 mini bus yang menampung 65 orang.

Saya punya kebiasaan, ketika traveling, saya akan menanyakan apa saja yang khas dari daerah mereka; entah itu mitosnya, pantangan tertentu, makanan, hingga tempat yang recommended. Saya senang melakukannya, sebab dengan begitu, saya jadi punya bahan untuk menulis blog, dan setidaknya saya tidak rugi membuang uang saya sebab saya mendapatkan sesuatu dari perjalanan ini. Hahaha.

Berkisahkah bapak sopir yang menyetir mini bus pertama itu dengan santai. Saya dan Mbok D duduk di kursi depan, tepat di samping sopir, sehingga lebih leluasa bertanya-tanya banyak hal. Nah, hal pertama yang saya tanyakan tentu saja anak gimbal. Sejak lama saya menyimpan rasa penasaran tentang fenomena ini. Mengapa anak gimbal begitu istimewa di tanah mereka? Dan sebenarnya siapa saja yang berpotensi gimbal di sana. Bagaimana perlakuan awam terhadap anak gimbal, dan sebagainya.

“Anak gimbal itu istimewa di sini, Mbak. Apapun yang mereka inginkan harus dikabulkan.” Cerita pun bermula.

Gambar dari sini

“Mengapa, Pak? Ada kepercayaan tertentu? Bagaimana jika tidak dikabulkan?” Saya merasa rasa penasaran saya sedang terpancing. Mbok D juga menyimak.

Terungkaplah, bahwa di tanah mereka, anak gimbal merupakan sesuatu yang istimewa. Ada hal-hal yang mungkin tak bisa dijelaskan dengan logika dan ilmiah di beberapa daerah di Nusantara ini. Barangkali Dieng hanya salah satu di antaranya. Bapak sopir itu berkata, bahwa ada upacara atau ruwatan setiap tahunnya, di mana seluruh anak gimbal di tanah Dieng dikumpulkan untuk dipotong rambutnya. Biasanya, ketika awal akan tumbuh rambut gimbal adalah kisaran umur 7 bulan hingga 12 bulan (1 tahun), dan ketika mereka sudah mulai beranjak besar, mereka akan ditanyakan tentang hal apa saja yang mereka inginkan. Dan ketika mereka sudah menginginkan sesuatu, saat itulah orangtuanya bersiap membuat ruwatan.

Ruwatan itu dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahun, dan itulah yang kita -masyarakat awam, kenal sebagai Festival Dieng. Sebuah festival di mana para wisatawan lokal dan mancanegara berbondong-bondong memenuhi komplek Candi Arjuna, bahkan seluruh homestay serta tiket objek wisata sudah dibooking jauh hari sebelumnya. Saya takjub, itukah upacara yang kita pertanyakan selama ini? Awalnya saya mengira festival Dieng adalah suguhan tarian-tarian daerah, serta pertunjukan kebolehan masyarakat Dieng, tapi ternyata sedikit meleset.

“Biasanya, mereka menginginkan apa saja?” MbokD kemudian bertanya.

“Wah, banyak ya macamnya. Berbeda-beda tergantung anaknya.” Bapak sopir menjawab lagi sambil terus menyetir. Tangannya dengan lihai membelokkan setir mini bus itu mengitari jalan berkelok-kelok.

Pernah ada anak yang hanya meminta gunting, pernah juga ada yang meminta sepeda, bahkan ada yang meminta kepala orangtuanya. Ini bagai makan buah simalakama. Sebab permintaan anak gimbal haram hukumnya jika tak terpenuhi. Saya semakin ingin tahu, maka saya tanyakan bagaimana kisah mengenai anak gimbal itu -ia yang meminta kepala orangtuanya.

“Dia jadi gila, Mbak, sebab permintaanya tak terpenuhi. Tapi kan tidak mungkin juga mengabulkannya. Kalau permintaan yang biasa saja, biasanya akan dipenuhi oleh orangtuanya, atau bahkan panitia festival, kok.”

Saya mengangguk pelan, mulai paham. Kemudian, saya juga sempat menanyakan, apakah saya bisa bertemu dengan anak gimbal selama di Dieng, apakah saya boleh berkenalan atau berbincang, serta bagaimana pergaulan mereka di antara kawan-kawannya yang tidak gimbal.

Menurut Pak sopir, kecil sekali pendatang bisa bertemu dengan anak gimbal di Dieng, sebab mereka jarang keliatan main di depan rumah, walau sebenarnya anak-anak itu juga sama seperti anak lainnya; mereka bersekolah, beraktivitas, bermain, berbaur. Hanya saja, anak Dieng sudah tahu dan sudah terbiasa untuk ‘mengistimewakan’ teman-teman mereka yang berambut gimbal, karena kepercayaan turun temurun tersebut. Saya pun sebenarnya ingin sekali bertemu atau bahkan berfoto dengan salah satu dari mereka, tapi Pak sopir itu kemudian memperingatkan satu hal yang membuat saya merinding.

“Kita tidak boleh macam-macam dengan mereka, Mbak. Mereka sebenarnya beraktivitas seperti biasa, hanya saja anak gimbal itu biasanya pemalu atau pemarah. Pernah ada wisatawan saya dari Jakarta, bertemu anak gimbal kemudian menyentuh rambutnya tanpa izin. Anak itu marah, lalu meludahinya. Sepulangnya dari Dieng, orangtuanya mengadu pada travel agent bahwa si anak sakit. Akhirnya mereka dianjurkan agar minta maaf kepada anak gimbal itu di Dieng, sehingga anaknya bisa sembuh kembali.”

Seperti itulah hal yang mereka percayai. Walau sebagai awam, seharusnya saya tidak percaya pada hal-hal mistis seperti itu, tapi saya pikir ketika berada di tanah orang, kita harus menghargai apa-apa yang menjadi kepercayaan nenek moyang mereka.

Anak gimbal pun biasanya tidak tentu, bukan berdasarkan garis keturunan atau apapun. Gimbal adalah titisan, begitu kalimat yang sering diulang oleh Pak sopir saya itu. Siapa saja berkemungkinan menjadi gimbal. Anak gimbal yang tumbuh besar, kemudian menikah, belum tentu anaknya menjadi gimbal. Sebaliknya, banyak yang ayah-ibunya tidak gimbal, tapi anaknya gimbal. Dan lagi, gimbal hanya bertahan hingga si anak berusia sekolah. Misalkan ketika berumur lima tahun, anak itu sudah meminta sesuatu dan sudah dibuatkan upacara potong rambut, maka rambut yang tumbuh setelah itu tak lagi gimbal. Jadi, mereka akan tumbuh dan menghabiskan hidup layaknya anak-anak lain, walau kabarnya tak ada anak gimbal yang merantau keluar Dieng. Mereka seolah membaktikan hidup mereka untuk negeri di atas awan tersebut.

“Kita sudah sampai, Mbak. Sumur Jalatunda.” Suara sopir memotong obrolan asyik di Sabtu siang itu.

(Visited 128 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Trip Dieng 1: Fenomena Anak Gimbal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *