Keluar Dari Jakarta

Trip Dieng 3: Menjelajahi Kawah Sikidang

Usai eksplor Sumur Jalatunda, akhirnya saya menemukan tempat menarik yang pertama setibanya saya di tanah Dieng. Namanya Kawah Sikidang. Selewat, mungkin tampaknya akan sedikit ‘menyiksa’, setidaknya itulah kesan yang saya tangkap ketika di loket masuk sudah ditawari masker seharga Rp 5.000,00 ( isi 3 masker). Saya pikir, tanpa membeli masker, saya akan sesak napas atau apa. Ternyata, walau belerangnya terasa di hidung, tapi tidak setajam itu. Sebab kawasan Sikidang pun, banyak orang yang berjualan makanan dan menjajakannya langsung di lokasi. Bahkan beberapa anak kecil berlarian begitu saja.

Tempat itu luas, sangat luas. Ada banyak batu-batu besar tempat anak muda biasa berfoto. Bau belerang sesekali memang menyengat, sehingga saya harus melindungi hidung dengan syal yang melingkar di leher. Tapi terkadang, bau belerang itu berganti dengan bau kentang goreng dan jamur krispi ala Dieng. Selain itu, pengunjung juga bisa membeli telur rebus ala kawah, sebab telur-telur ayam tersebut direbus langsung di Kawah Sikidang.

This slideshow requires JavaScript.

“Fotonya Mbak, bisa langsung jadi, atau pakai kamera sendiri boleh.” Beberapa orang berbeda di beberapa titik kawah menawarkan jasanya. Mereka membawa burung hantu ukuran dewasa, burung hantu ukuran kecil, burung gagak, kuda, hingga ular piton.

Banyak anak kecil maupun orang dewasa yang penasaran ingin mencobanya. Saya pernah memegang ular yang lebih besar jauh sebelum hari itu. Saya seketika merasa kangen ingin mencoba meraih ular piton itu dari tangan pawangnya. Maka, Mbok Mandewi dengan sigap bersiap mengambil foto. Sebenarnya, ada sedikit rasa was-was, sebab sudah bertahun-tahun saya tidak memegang ular. Mereka sebenarnya tak menakutkan, hanya akan bergerak-gerak perlahan sambil melingkar di tubuh kalian. Hahaha. Tidak butuh waktu lama, beberapa menit saja sudah cukup untuk kembali terbiasa dan malah enggan melepasnya.

Pawangnya tertawa, kemudian nyeletuk, “biasanya memang begitu, Mbak. Awalnya takut tapi akhirnya malah suka dan pengin pelihara.”

Ide dia boleh juga, suatu hari ketika punya keluarga sendiri, akan saya pertimbangkan ular sebagai salah satu pilihan hewan peliharaan. Hmm.

Hal yang berkesan sebenarnya hanya karena saya baru pertama kali mendatangi tempat ini. Tapi sebenarnya, saya merasa Kawah Sikidang agak meleset dari ekspektasi. Sama seperti ketika saya mendatangi Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur dulu, saya membayangkan wisata budaya yang hening dan tak terlalu ramai, tapi ternyata ada buanyak sekali manusia di sana, sibuk merusak alam. Di Sikidang, mereka melakukan hal yang sama. Beberapa sampah tampak membanjiri area, walau tidak sebanyak sampah di trotoar-trotoar Jakarta. Tempat itu penuh lautan manusia, bahkan terkadang bisa nyaris bertabrakan dengan orang lain ketika melintasi area penjual makanan. Terkadang lagi, orang asing bisa mendadak nyasar di frame fotomu, ketika kamu hendak mengambil foto kawah.

Waktu kami di Kawah Sikidang adalah 45 menit, sebab dirapel dengan dzuhur dan makan siang. Tapi, ternyata waktu itu masih kurang. Setelah berfoto di depan kawah, berfoto dengan ular dan burung hantu, selfie berdua, bahkan membeli kentang goreng, lalu masih lanjut makan nasi goreng, saya dan Mbok D akhirnya kembali menaiki bus menuju kawasan berikutnya.

Satu-satunya yang membuat saya ingin kembali adalah keinginan untuk berfoto bersama gagak hitam.

IMG_20160328_141041
Cilukba!
(Visited 68 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *