Keluar Dari Jakarta

Trip Dieng 6: Melepas Hari di Bawah Langit Senja Candi Arjuna

Kawasan Candi Arjuna adalah destinasi terakhir yang kami kunjungi pada Sabtu (26/3) kemarin. Spot ini tidak begitu menarik bagi Mbok Mandewi sepertinya. Tapi sebaliknya, inilah destinasi yang paling saya tunggu-tunggu dari Dieng. Sebab di sini saya punya misi tertentu; mengabadikan sebuah buku karya Fira Basuki. Buku ini berjudul Astral Astria, yang pertama kali memperkenalkan saya pada negeri indah bernama Dieng. Pada buku itu, dikisahkan Astria adalah anak gimbal asal Dieng.

IMG-20160327-WA0125

Mbok D lebih menantikan acara mendaki Sikunir untuk mengejar matahari terbit keesokan subuhnya. Sementara itu, saya sibuk eksplor Candi Arjuna, bahkan meminta Mbok D mengambilkan beberapa jepretan foto untuk saya, hanya agar saya tetap bisa mengingat bagaimana rupa candi tersebut –bahkan ketika sudah pulang dari Dieng.

Candi. Saya selalu suka tempat yang satu ini, selain museum tentunya. Saya lebih mencintai keduanya dibanding mal atau pantai. Entah kenapa, saya suka tempat-tempat yang membawa saya ke lintas waktu. Seolah saya bisa merasakan hawa-hawa masa lalu di tempat tersebut. Bagaimanapun, sejarah kadang serupa masa depan, bisa datang sebagai sebuah kejutan. Maka, saya menyukai sejarah sejak kecil. Dan mungkin target-target tempat liburan saya kelak akan penuh nama candi, arca, atau bangunan bersejarah.

IMG-20160327-WA0115

Susahnya untuk mengabadikan tempat sejarah ketika ia telah berubah menjadi objek wisata adalah mengenai banyaknya pengunjung yang memadati tempat tersebut. Padahal saya ingin sekali memiliki foto candi tersebut dalam keadaan kosong dan bersih. Apalagi ditambah langit senja, pasti elok dilihat. Tapi ternyata saya kurang beruntung. Sebab makin lama, semakin banyak juga pengunjung yang tiba.

Jpeg

Maka, setelah selesai membantu saya berfoto, Mbok D merasa cukup, lalu ke toilet aja. Setelah dari sana, kami menempuh perjalanan yang hanya lima menitan, untuk menuju homestay. Penginapan Asri Dieng, namanya. Kamar yang ada di penginapan ini tak terlalu luas, namun cukuplah kalau hanya untuk menampung 3 hingga orang.

Semalaman itu saya tak bisa tidur. Bahkan ketika sudah mandi dengan air hangat (kata mereka –pihak tour & Travel, itu sih air hangat. Tapi menurut saya masih terasa dingin), saya pun tetap tak bisa tidur. Akhirnya saya ikut Mbok D mencari tolak angin. Saya hanya ingin minuman hangat pengusir dingin. Jadi, akhirnya kami berhenti di sebuah warung pinggir jalan, barangkali menjual minuman hangat.

Ternyata lagi, hari itu saya dan Mbok D menemukan bonus dari pencarian minuman hangat; yaitu Nasi Menggana yang mengepul di tempatnya. Ditambah tempe kemul khas Dieng yang baru saja turun dari penggorengan.

Jpeg

Jpeg

Saya sempat bengong sebab tidak ada sambal atau saus apa pun di atas tempe tersebut. Nasi Menggana itu semacam nasi uduk, yang dicampur dengan nangka. Di dekat kantor saya juga ada, tapi rasanya tentu tak seenak masakan asli Dieng. Di sini,  di Jakarta, mereka menyebutnya Nasi Menggono.

Setelah selesai dari warung makan dan menenggak habis sisa minuman, kami kembali masuk ke penginapan. Kali ini langsung ke bawah selimut. Dua nasi kotak jatah makan malam kami telah diletakkan di kamar, namun tak sekali pun saya atau Mbok D menyentuhnya. Sebab ayam bakar di Dieng adalah menu yang terlalu mainstream. Jadi, setelah itu kami memilih tidur untuk menjelang pukul 2 dinihari nanti.

Tanpa diduga, saya malam itu sama sekali tak bisa tidur, sebab semua tulang kaki saya terasa nyeri. Mungkin karena terlalu kedinginan, mungkin juga sisa-sisa pendakian curam di Bukit Ratapan Angin tadi siang. Saya benar-benar terjaga per 30 menit sekali, hingga baru bisa tidur pukul setengah satu dini hari, untuk kemudian dibangunkan lagi setengah 3 demi mengejar terbitnya matahari di Puncak Sikunir.

Tubuh saya sepertinya agak lambat menyesuaikan diri dengan hawa dingin Dieng. Bahkan ketika saya berkemah di Mandalawangi yang saya pikir memang cukup Dingin, saya masih bisa tidur lelap tanpa terbangun. Padahal di dalam tenda, bukan di penginapan. Yang berarti dinginnya Dieng jauh lebih dahsyat daripada itu. Dan pukul setengah sembilan malam, biasanya kawasan itu sudah sepi. Hanya ada penjaja minuman/makanan hangat yang menjaga gerobak masing-masing. Berbeda jauh dengan Jakarta yang bahkan tak pernah tidur.

 

(Visited 51 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *