Keluar Dari Jakarta

Trip Dieng 7: Mengejar Matahari di Puncak Sikunir

IMG-20160327-WA0068

Minggu dinihari, pukul setengah tiga, saya dibangunkan tiga teman sekamar, salah satunya Mbok Mandewi. Mereka semua tampak sedang bersiap menuju Sikunir. Ternyata tour leader sudah membangunkan semuanya sejak pukul dua, karena jam tiga akan berangkat. Hanya saja, saya terlambat melek karena sayalah yang paling tidak bisa tidur malam itu. Sempat terpikir untuk melewatkan Sikunir. Tapi ada perasaan sayang juga, karena tidak tahu lagi kapan main ke Dieng. Akhirnya, dengan menahan kaki yang sakit karena kedinginan itu, saya tetap ikut ke  Sikunir –sambil berharap medannya tidak kejam-kejam amat.

Perjalanan dari penginapan menuju jalur pendakian memakan waktu 20 menit dengan bus. Pagi itu, semua sepertinya masih belum berhasil 100% mengumpulkan nyawa masing-masing, sehingga kegelapan di perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Hanya sesekali terdengar obrolan, itu pun tak banyak. Dan hanya obrolan singkat. Saya sibuk memikirkan seperti apa Sikunir itu, dan bagaimana dinginnya di atas. Karena sempat mendengar dari beberapa orang, termasuk tour leader, bahwa di atas cukup dingin.

“Jeans saja nggak cukup, anginnya tembus. Coba lapis baju dengan sweater lalu jaket. Celananya juga dilapis saja.” Katanya kemarin sore.

Padahal Sikunir tidak ada apa-apanya mungkin dengan jalur pendakian lain, misal Bromo. Tapi tetap saja untuk pemula, ini tidak bisa disepelekan. Tapi untungnya ketika naik, tidak ada masalah apa-apa. Saya sempat berkata pada MbokD, “pasti di atas ada yang menjual makanan deh, Mbok. Minimal minuman, deh. Dan pasti ada toiletnya.”

Entah kenapa saya berpikiran begitu. Sebab menurut saya di semua tempat wisata pasti sudah disiapkan hal-hal tersebut; warung dan toilet. Mungkin ini agak berbeda konsep dengan pegunungan yang biasa, yang hanya didaki anak-anak MAPALA atau penyuka gunung. Dalam bayangan saya, Sikunir tak pernah sepi, sebab wisatawan yang datang ke Dieng pastilah akan dibawa ke tempat ini.

MbokD tampak ragu mengiyakan pendapat saya. Kami lalu lanjut mendaki ke atas, dan benar saja! Warung-warung dinihari mulai tampak. Dalam gelap, mereka tengah bersiap menjajakan mie instan dan minuman hangat. Bahkan di puncaknya langsung, ada lebih dari satu warung kecil, serta kawasan toilet yang sangat jauh dari kata bersih namun memungut tarif lebih dari toilet di bawah.

Spontan saya dan MbokD tertawa. Saya bilang, seharusnya saya tadi mengajak Mbok taruhan mengenai ini, maka saya akan langsung kaya mengingat hari itu adalah tanggal tua.

Kami menunggu kurang lebih dua jam di puncak, bersama banyak pendaki lain –baik yang datang sendirian bersama kelompoknya, maupun ikut travel agent lainnya. Sempat dua orang lelaki mengajak kami berbincang, menanyakan datang dari mana. Mereka lalu menawari biskuit, tapi saya dan Mbok menolak halus sebab tangan sudah hampir beku dan tidak ada lagi kekuatan mengunyah di sana. Hanya saja, rasanya lucu, kami berbincang dengan orang-orang yang tidak dikenal, karena kebetulan menunggu satu hal: matahari terbit, di puncak yang cukup tinggi, dan dalam keadaan separuh beku. Sebab memang tak ada yang bisa dilakukan selain berbincang atau menunggu. Tak ada sinyal untuk komunikasi. Tak ada pula gunanya memotret dalam keadaan gelap.

Berburu matahari terbit
Berburu matahari terbit

Tapi ternyata penantian itu tidak sia-sia. Menjelang dua jam, matahari mulai menyembul manja dari tempatnya. Berbondong-bondong orang mengambil gambar. Sama sekali tak bisa menikmati matahari terbit itu dalam keadaan tenang, sebab dari berbagai arah, orang-orang berdiri, berburu sudut terbaik, bahkan tak segan berdiri di depan orang lain atau menutupi pandangan orang lain. Padahal sama-sama bayar, tapi kalau soal beginian, orang suka tidak segan untuk kurang ajar, menganggap si matahari terbit adalah miliknya seorang. Hahaha.

Sempat pula saya dan MbokD berbincang dengan bapak pemilik warung mini di puncak Sikunir sana. “Spot favorit itu biasanya zona 1, atau disebut juga Zona Wetan, Mbak. Tempatnya nggak terlalu ramai sebab nggak seluas di sini, tapi viewnya jauh lebih bagus. Spot yang lebih sering dikunjungi ya di sini, namanya zona 2 atau Zona Kidul.” Saya memang bisa lihat sendiri, di zona 2 ini ada beberapa titik spot kecil pula, sehingga pengunjung tidak terlalu banjir dan berdesakan di satu titik saja.

“Biasanya Puncak Sikunir lebih ramai pada masa-masa Festival Dieng. Sama seperti objek wisata lain di Dieng. Sikunir pun pertama kali ditemukan orang Perancis pada tahun 1970an, tapi turis mancanegara hanya rajin mendatangi Dieng hingga 1990. Setelah 1990, lebih banyak turis lokal yang datang. Sebab orang luar menganggap bahwa jalur pendakian Sikunir sudah tidak alami lagi.” Bapak itu melanjutkan sambil terus membuatkan pesanan pembeli. Kami berdua duduk berhadap-hadapan dengan si Bapak, sehingga lebih mudah bercakap-cakap.

Jam terbaik untuk naik ke puncak adalah pukul 3.30 dinihari, sedangkan matahari akan mulai muncul pada pukul 05.30 subuh. Dan sebaiknya turun sebelum pukul 7 pagi, sebab di puncak ini, semakin terang akan semakin dingin hawanya. Dari puncak Sikunir juga ada view ke telaga, dan di depannya ada banyak orang yang berkemah. Saya tidak sempat mendekati spot itu, padahal penasaran dengan lokasi perkemahan tersebut. Ya siapa tahu suatu hari bisa berkemah di sana 😛

IMG-20160327-WA0021

Jalur pendakian. Foto diambil ketika turun, jadi udah cerah
Jalur pendakian. Foto diambil ketika turun, jadi udah cerah

Dan kemudian, itulah destinasi terakhir yang saya kunjungi di Dieng, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Pukul 10 di hari yang sama, kami disuguhi Mie Ongklok –makanan khas Dieng, di dalam mobil. Dan boleh dimakan dalam perjalanan. Sempat pula membeli oleh-oleh sejenak. Saya mendapat dua kaos Dieng dengan harga bersahabat, dan beberapa bungkus camilan untuk teman kantor yang memang tukang makan semua. 😛

mie ongklok, makana khas Dieng. Padahal menurut saya, harusnya lebih endes kalau makannya langsung di warung, bukan di kotakan sepetti ini.
mie ongklok, makana khas Dieng. Padahal menurut saya, harusnya lebih endes kalau makannya langsung di warung, bukan di kotakan sepetti ini.

Perjalanan pulang ditempuh selama 12 jam lebih. Normalnya 12 jam, hanya saja, macet di tol Cikampek tidak bersahabat, sehingga bus baru tiba di kawasan Semanggi pada Senin dinihari pukul 1.

Sejauh pengalaman saya mencoba dua merk travel agent, menurut saya Permata Wisata cukup nyaman. Setidaknya saya tidak harus mengeluarkan biaya apapun lagi di perjalanan kecuali pengeluaran pribadi sendiri. Sebab semua biaya sudah all-in, bersama biaya tour guidenya. Dan setidaknya tour leader-nya Permata Wisata ini cukup asyik, tidak pasif, dan menjaga keselamatan peserta selama di perjalanan. Poin plus, dibandingkan merk sebelah yang sebelumnya pernah saya coba.

Dan tentu, harga tripnya yang lebih murah daripada merk lain. Hahaha. Ini penting. Dan sepertinya saya akan memilih mereka lagi untuk next trip. Entahlah ke mana, yang penting kerja dulu yang rajin biar bisa terus piknik. 😛

(Visited 85 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Trip Dieng 7: Mengejar Matahari di Puncak Sikunir

  1. Wah kebetulan tahun ini saya datang ke Dieng Culture Festival. Artikelnya cukup ngasih gambaran puncak sikunir itu gimana. Kalo boleh nanya, ada rekomendasi ga mba mengenai guest house atau homestay selama di Dieng?

    1. Wah, kebetulan waktu itu saya ambil sepaket turnya, jadi semuanya diurusi oleh pihak travel. Tapi setahu saya nggak jauh dari tulisan DIENG raksasa itu ada banyak sekali penginapan dan guest house, kok. Jadi, banyak pilihan. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *