Coretan

Alasan Mengapa Mbak-mbak Warkop adalah Perempuan yang Hebat

Malam ini, entah kenapa saya ingin sekali makan Indomie. Namanya nggak usah disensor, yang pasti ini bukan ngiklan, tapi dikasih satu bintang pun semua orang akan tahu itu Indomie. Hahaha. Tak jauh dari kosan, ada warung kopi atau yang biasa dikenal anak gahul dengan nama warkop. Kebetulan, di warkop sini yang jaga mbak-mbak semua, masih pada muda-muda belia.

Sambil menunggu Indomie telur matang, saya ngutak-atik ponsel yang nggak pintar-pintar amat ini, sambil mikir ke sana dan ke mari. Memikirkan apa saja yang bisa dipikirkan. Karena lapar, pikiran yang berat-berat seperti tagihan dan rasa rindu saya singkirkan dulu, kemudian saya melihat seorang (atau dua ya?) mas-mas masuk, memesan burjo (bubur kacang ijo) serta beberapa bungkus kopi. Sambil menunggu pesanan disiapkan, terjadilah percakapan-percakapan nyepik. Yap, beberapa kali makan di warkop –terutama malam hari, rutinitas bapak-bapak dan mas-mas nyepik mbak warkop adalah sebuah pemandangan lumrah di mata saya.

Padahal, saya sebagai pelanggan yang numpang makan saja kadang enggan duduk makan di tempat jika terlalu banyak laki-laki di sana. Bukannya saya sombong, cuma kalau lagi lapar saya galak, dan nggak suka basa-basi sama orang. Menghindari percakapan yang tak diinginkan, saya biasanya memilih bungkus dan take away bawa pulang.

Indomie! Gimme More!
Indomie! Gimme More! Btw, itu mbaknya. Iya, jangan hanya fokus ke bakwannya 😛

Tapi, mbak-mbak warkop barangkali termasuk perempuan-perempuan hebat. Mereka bisa berdiri di sana sepanjang hari, berkutat dengan masakan-masakan, racikan kopi sachet-an, dan sepikan abang-abang/atau bahkan bapak-bapak dan aki-aki sebagai bonusnya. Mereka harus sabar jika ada yang memesan makanan lalu jail ketika ditanya serius pesanannya seperti apa. Mereka harus sabar pula meladeni obrolan-obrolan tak penting lelaki-lelaki yang suka nongkrong di warkopnya hingga menjelang pagi.

“Eh, Mbak Putri. Lama nggak kelihatan,” seorang mbak yang saya kenal menyapa. Saya hanya melemparkan senyum penuh kelaparan. Saya kenal dia pertama kali karena warna kuteks saya yang aneh-aneh itu. Mbaknya merasa takjub kemudian berkata jujur bahwa ia menyukai warna kuteks saya –yang saya lupa hari itu warnanya apa, sebab saya mengganti warna kuteks seperti berganti lelaki baju. Terlalu sering.

Tak lama kemudian pesanan saya datang, dan saya menuangkan empat sendok sambal  merah merona, untuk kemudian bersiap memberi makan anak naga 😛

Sementara itu mas-mas tadi masih asyik dengan sepikan nggak mutunya, dan para perempuan-perempuan hebat itu lagi-lagi harus meladeninya sambil tersenyum atau kalau mau, ya tertawa saja.

Indomie telur malam-malam itu enak sekali, FYI aja. Bagaimana menurut kalian? Jika kalian sepakat, akan saya tanyakan ID LINE atau pin BBM mbaknya nanti. *lho*

(Visited 68 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *