#KentjanJakarta

Berkunjung ke ASEAN Literary Festival 2016

Pada tanggal 5 hingga 8 Mei 2016 kemarin, Asean Literary Festival kembali diadakan. Acara tahunan ini kalau tidak salah, memasuki tahun ketiga, dan setiap tahunnya banyak mendatangkan penulis serta pengamat sastra dari luar negeri juga. Dua tahun berturut-turut sebelum ini, saya juga menyempatkan diri untuk hadir di Asean Literary Festival, tapi entah kenapa hanya tahun ini yang menuai kritikan. Serombongan masyarakat (atau mahasiswa, saya tak terlalu ingat) Islam berdemo menuntut acara Asean Literary Festival dibubarkan karena dianggap mendukung paham komunisme dan LGBT.

Di hari Kamis (5/5) pada hari pembukaan acara, saya tak hadir karena ada kegiatan lain, tapi dari linimasa saya bisa tahu bahwa acara itu berlangsung rusuh bahkan terancam batal. Di hari pembukaan itu, sekelompok orang berdemo menuntut acara dibubarkan dan bahkan pihak TIM kabarnya mengunci ruangan workshop. Tidak heran sebenarnya, hal yang seperti ini terjadi di Indonesia. Sebab, barangkali banyak yang parno dengan segala hal berbau kekirian dan LGBT, padahal kadang mereka bahkan tidak tahu sudut pandang mana yang dibahas pada acara tersebut.

Seolah mengulang kerusuhan Belok Kiri Festival di beberapa waktu sebelumnya, Asean Literary Festival juga menuai kecaman. Hari ketiga, ketika saya datang (Sabtu, 7 Mei 2016), saya menjumpai sekelompok orang tengah berorasi sambil dijaga ketat oleh polisi di gerbang Taman Ismail Marzuki, tempat Asean Literary Festival rutin diadakan. Di sana, seorang leader mereka berteriak menggunakan pengeras suara; intinya mereka tidak ingin ada gerakan separatisme di bumi Nusantara, dan oleh karena itu, Asean Literary Festival yang dianggap mendukung komunisme (bahkan mereka membawa-bawa LGBT, sebab hari ini memang ada diskusi yang membahas LGBT setahu saya. Dan membawa-bawa tentang Papua –yang saya lupa perkaranya apa) harus dibubarkan.

Saya merekam dari kejauhan, hingga seorang polisi muda menyahut, “dari dekat saja, Mbak. Nggak apa-apa, kok. Maju aja.” Barangkali, beliau mengira saya sedang liputan. Padahal cuma sekadar numpang lewat.

Saya tersenyum tipis, lalu mencoba maju agar rekaman yang saya dapat lebih bagus dan jelas. Sebenarnya, juga karena yang berdemo tidak terlalu banyak dan karena polisi yang menjaga memang banyak. Setelah merekam kurang lebih 15 menit, saya pun beranjak masuk bersama teman.

Di dalam, ternyata acaranya tidak terlalu ramai. Bahkan tidak seramai tahun lalu. Ketika tahun lalu hadir, saya menemukan banyak stand penerbit dan komunitas, bahkan penerbit indie pun ikut buat stand di Asean Literary Festival. Sedangkan kemarin, hanya sedikit komunitas dan penerbit yang hadir.  Bahkan stand Penerbit GPU pun tampak tak bergairah –yang saya tahu mereka ada di sana juga salah satunya karena  buku puisi Aan Mansyur memang masuk jadwal acara di hari Minggunya, dan stok buku puisi tersebut masih cukup banyak di stand Gramedia.

Saya merasa acara Asean Literary Festival tahun ini tidak begitu hidup –entah jika malam hari. Tapi ketika siang dan sore, kesannya sepi dan biasa saja. Agak disayangkan padahal hampir semua acara yang diadakan cukup menarik untuk diikuti. Saya sendiri hadir untuk mengikuti acara ini..

Ketika  saya tiba, Mbak Faiza Mardzoeki –seorang aktivis perempuan dan budaya, yang sedang bicara. Salah satu yang dibahas beliau adalah kekerasan yang dialami perempuan-perempuan Indonesia, baik kekerasan 1965 maupun kekerasan seksual kepada perempuan etnis Tionghoa pada kerusuhan 1998 silam. Pada tahun 1965, beliau berkata, Gerwani dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Padahal Gerwani sendiri adalah singkatan dan Gerakan Wanita Indonesia –yang kala itu memang aktif dalam berbagai kegiatan. Tapi Gerwani barangkali sudah mendapat cap negatif di masyarakat kala itu (dan mungkin hingga sekarang) sehingga dianggap sebagai momok yang menakutkan.

Gerwani identik dengan PKI, komunis. Komunis identik dengan orang yang tak bertuhan, tak beragama. Walau seingat saya pun, konon D.N. Aidit adalah seorang yang taat beragama. Walau bertuhan pun sebenarnya tak selalu otomatis menjadi beragama. Lihat? Ada banyak sudut pandang yang bisa dinilai, jika kita ingin melihatnya dalam pandangan yang lebih luas.

Ada beberapa hal yang menurut saya tak diketahui orang-orang dari sejarah di bangku sekolah, hal itulah yang ketika dewasa bisa kita dapatkan dari mengikuti diskusi-diskusi semacam ini –di acara literasi, di grup, di sosial media. Ada banyak sumber untuk mendapatkan cerita kebenaran masa lalu, yang sebenarnya hanya butuh niat untuk mencari tahu.

Barangkali karena itulah Asean Literary Festival dihujat habis-habisan, sehingga mereka harus meminta perlindungan presiden dan polisi untuk mengamankan. Kita sebenarnya tak pernah benar-benar merdeka untuk berserikat dan berkumpul, barangkali, meski era sudah berubah. Meski katanya sekarang era demokrasi, bukan lagi zaman orba. Entahlah. Saya tidak mengerti.

“Ini kan Indonesia, hujatan-hujatan dan kerusuhan seperti itu sih sudah biasa!” Kemudian saya teringat kata seorang teman.

(Visited 59 times, 1 visits today)

7 thoughts on “Berkunjung ke ASEAN Literary Festival 2016

  1. padahal ya cuma festival gini semua udah takut..semua udh anggap ga bagus.. duuuh…

    Toh ga semua yang hadir lalu berubah jadi LGBT atau gimana..
    nambah ilmu kok dilarang..

    semoga bisa kesana di tahun selanjutnya

    1. Yap 🙂 Padahal mungkin tujuannya baik, untuk edukasi dan nambah ilmu. Padahal belum tentu yang demo paham apa yang dibahas di dalam itu. Cuma dengar tema besar LGBT saja sudah keburu ngamuk soalnya 🙂

  2. saya juga dateng ke festival ini, sangat berbeda dibanding tahun lalu.
    sedang saya tulis ceritanya,ndak kelar-kelar ;3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *