Gambar dari sini

Tempo hari saya ngetweet yang isinya kira-kira mengatakan bahwa saya ingin menuliskan sesuatu di blog, tapi temanya dari teman-teman. Saya mendapat dua tema, yang ini adalah sumbangan dari Jung Jawa. Sebenarnya saya tidak tahu harus mulai dari mana, sebab memotivasi orang lain tanpa menghakimi ini kayaknya sesuatu yang susah-susah gampang.

Mungkin kadang kita ingin memberikan semangat kepada seseorang, memberinya motivasi, hanya saja seringkali kemampuan dan keterbatasan kita berbeda dengan orang lain. Sesuatu yang kita anggap gampang dan sederhana belum tentu mudah bagi hidup orang lain, dan sebaliknya.

Banyak hal, banyak sekali hal yang bisa menjadi contoh. Kemampuan belajar saja bisa berbeda untuk tiap anak. Memotivasi seseorang untuk maju pun seperti itu. Ketika saya ingin kuliah ke luar negeri -misalnya, saya bisa dengan mudah mencari beasiswa karena punya banyak bekal dan kenalan yang bisa membantu saya. Sedangkan seorang teman saya mungkin buta masalah ini. Tugas saya sebagai temannya adalah menyemangati dan ikut membantu, bukan menganggapnya kurang berusaha.

By the way, ini misalnya, sih. 

Contoh yang agak absurd, tapi saya rasa masih nyambung, sih. Atau jika ingin dibalik, seorang teman bisa dengan mudah memiliki gadget bagus dan mahal, tapi saya rasa itu belum cocok untuk saya. Saya punya motivasi tentunya, untuk mengikuti perkembangan gadget terbaru, tapi saya tidak freak pada gadget sehingga merasa tidak perlu terus-terusan membeli yang baru. Disebabkan juga oleh keterbatasan lainnya. Karena level hidup saya belum setinggi dia, mungkin. Tapi bukan berarti ia akan menganggap saya boros hingga tidak bisa membeli gadget seperti miliknya –bahkan walau gaji kami sama. Sebab latar belakang dan gaya hidup berbeda. Ia mungkin tinggal di rumah ayah ibunya, makan masih difasilitasi, sedangkan saya mengandalkan semuanya dari penghasilan sendiri. Sederhana saja.

Jadi hal yang bisa kita lakukan untuk memotivasi seseorang tanpa menghakiminya adalah sederhana saja, coba melihat dari sudut pandang orang itu. Dari sisi hidupnya, dari sisi pemikirannya. Kamu akan mengerti rasanya menjadi ia, walau katanya tak ada yang akan bisa mengerti seseorang kecuali dirinya sendiri. Tapi setidaknya, ya, kamu bisa berusaha untuk itu 🙂

Kamu akan tahu bagaimana rasanya ‘berusaha’ dari sudut pandang temanmu, dan tentu motivasi atau semangat yang kamu berikan akan lebih terkesan tulus ketimbang menghakimi.

Begitulah. Setidaknya menurut diri saya sendiri.

(Visited 54 times, 1 visits today)

One thought to “Memotivasi Tanpa Menghakimi”

  1. Iya, sebetulnya kalau pengin bijak emang kudu lihat dari sudut pandang yang lainnya. Nggak cuma satu atau dua sisi doang. Halah.

    Macam koin logam. Itu tidak melulu soal angka atau gambar. Masih ada bagian tipisnya yang biasa digunakan untuk kerokan. Ehe. Atau kertas HVS juga. Biasanya cuma ngelihat sisi depan dan belakang. Padahal, masih ada sisi tipisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *