Pertanyaan ini terlontar dari Bella. Begini kira-kira bunyinya…

capture

Memang beberapa hari belakangan ini sepertinya Bella sedang patah hati –sesuatu yang sudah agak lama saya lewati, jadi saya sejujurnya sudah lupa bagaimana cara mengatasi memperbaiki patah hati yang patah. Karena satu dan lain hal, topik ‘memperbaiki hati yang patah’ ini saya posting dengan judul ‘mengatasi patah hati’ saja. Sebenarnya mungkin sama saja, cuma saya pikir judul ini lebih enak dibaca dan tidak terkesan sedih-sedih amat. ūüėõ

Sebentar, coba saya ingat-ingat dulu, bagaimana terakhir kali saya patah hati. Saya merasa seperti seorang yang menyedihkan. Perempuan mungkin kerap merasa seperti itu, sehingga kadang malas makan, malas beraktivitas, malas bertegur sapa dengan teman, malas membalas pesan orang lain, malas mandi. Oke, yang terakhir itu sebenarnya saya saja, orang lain belum tentu.

Kemudian, bagaimana cara memperbaiki hati yang patah? Saya merasa ini tidak ada teori bakunya, sebab akan berbeda penerapannya untuk setiap orang. Kalau saya sih lebih suka diajak jalan-jalan dan melihat sesuatu yang baru, atau ¬†bahkan¬†dinyanyiin.¬†Beneran deh,¬†dinyanyiin¬†itu jadi adem bawaannya. Bukan mendengarkan musik dari Youtube atau ponsel, tapi benar-benar meminta seseorang bernyanyi untukmu. Atau kalau mau dimodifikasi, mungkin membacakan sepenggal bagian buku untukmu —audiobook ecek-eceklah ceritanya.

Gambar dari sini

Atau cara lain yang sepertinya agak aneh (entah, menurut saya ini aneh), ambillah kertas dan buat deskripsi tentang lelaki/perempuan yang mematahkan hatimu, buat¬†plus minus¬†dari diri mereka. Hitung lebih banyak mana,¬†plus-nya atau¬†minus-nya jika kamu dan dia bersama¬†lagi. Ini prinsip psikologi. Dulu psikolog saya pernah menganjurkan ini untuk suatu masalah yang saya ceritakan padanya. Dan walau cara ini aneh –serta kemungkinan besar akan membuatmu ingin meremukkan kertasnya lalu membuang benda malang itu ke tong sampah, setidaknya dengan ini kamu bisa melihat sesuatu dengan lebih realistis.

Berikutnya, realistis. Yak, jadilah realistis dan menerima kenyataan. Setiap orang yang jatuh cinta itu bodoh. Ayolah, semua manusia tahu itu, kok. Kamu akan menjadi bodoh dan tidak bisa menerima kenyataan-kenyataan pahit di luar imajinasi terindah dalam kepalamu. Tapi cobalah realistis. Ini akan membuatmu bisa lebih berlapang dada menerima sesuatu yang tak ingin kamu terima. Rasanya sulit menerima sesuatu yang tak ingin kita terima. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Sebenarnya kita bisa, tapi ya sulit. Lalu jadi¬†riweuh¬†gini. Saya bingung sendiri. ūüėõ

Cara paling basi tapi ampuh untuk dilakukan, ya, jauhi segala sesuatu tentang orang itu. Berhenti¬†stalking¬†akun media sosialnya, membaca blognya, mendengarkan lagu-lagu kenangan kalian, atau bahkan yang paling ekstrem –berhenti memberondongnya dengan pesan atau apa pun yang ingin kamu lakukan agar kalian bisa bertegur sapa lagi. Berhentilah membuat diri sendiri menjadi bertambah sedih dan menyedihkan.

Semua itu ada masanya. Ketika salah satu atau kalian berdua belum bisa menerima kenyataan pahit yang memisahkan kalian, kalian takkan bisa ngobrol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Itu sudah hukum alamnya. Jadi jangan memaksakan diri. Beri jeda dan tunggulah. Mungkin akan lama, atau mungkin juga hanya sebentar, sebelum akhirnya kalian bisa berinteraksi lagi. Itu pun jika kalian berdua sama-sama berdamai dengan hati masing-masing. Jika tidak, ya selesai. Mungkin untuk selamanya.

Kemudian, apalagi ya, menangislah yang puas. Selesaikan semua sisa air mata yang ingin kamu keluarkan untuk kesedihan kali ini, lalu ya sudah. Kamu tak mungkin menangisi satu orang selamanya, sayang hidup yang cuma sekali ini. Mending kucing, punya 9 nyawa, kita manusia cuma punya 1. Kalau habis kan repot.

Dan berhentilah berbohong pada orang lain. Sama seperti ketika jatuh cinta, ketika kamu patah hati, tentu orang pertama yang akan kamu ceritakan adalah para sahabat dekat. Berhenti bersikap bahwa kamu baik-baik saja dan jika perlu ya ceritakanlah apa adanya. Saya selalu yakin, sahabat yang baik tidak akan meninggalkan kita apapun masalahnya. Entah, mungkin saya naif? Hehe.

Duh, saya ngomong apa, sih? Udah, ah. Mau makan siang dulu!

Enjoy your own li(f)e.

(Visited 62 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *