#KentjanJakarta

#MasihIngatMei – Menyaksikan Orasi di Monas

Mbak Puri dari KontraS sedang menjelaskan sesuatu mengenai orasi.
Mbak Puri dari KontraS sedang menjelaskan sesuatu mengenai orasi.

Kami menunggu bus di pinggir jalan depan pertokoan kawasan Glodok. Bus itu datang tidak lama kemudian, dan panitia mulai membagikan makan siang untuk kami makan beramai-ramai di dalam bus. “Kita akan ke monas,” salah satu dari mereka berujar. Saya sempat heran, sebab Monas (Monumen Nasional) tidak ada dalam jadwal hari itu. Tapi kemudian saya ingat, bahwa mereka berjanji akan mengajak kami melihat (atau bahkan ikut) demo.

Saya nyeletuk dalam hati, mungkin di sanalah ‘acaranya’ berlangsung. Benar saja, ketika baru tiba di kawasan Monas, dari dalam bus kami bisa melihat banyak orang berpakaian serba merah sedang orasi dan dikawal ketat oleh kepolisian. Bahkan seorang polisi melarang bus berhenti di depan halte. “Masuk ke dalam saja, lewat gerbang samping.” Ucapnya tegas. Seorang kru KontraS menyambut ramah dan berkompromi dengan hal itu, sehingga kami bisa masuk dengan lancar. Dan demikianlah kami yang berpakaian serba hitam, akhirnya bergabung dengan mereka yang berpakaian serba merah.

Diketahui, ternyata yang sedang beraksi adalah teman-teman aktivis buruh, mahasiswa, dan ada juga teman-teman dari kelompok LGBT. Mereka bahkan membawa rainbow flag –bendera kebangsaan kaum LGBT. Beberapa orang berorasi bergiliran, sebelum akhirnya sekelompok musisi maju dan menyanyikan lagu-lagu propaganda yang penuh semangat. Entah kenapa, perlahan-lahan saya suka lagu semacam ini. Bukan karena sok ikut arus, tapi saya suka semangat yang mereka tularkan lewat lirik lagu dan alunan musik. Sebab ada banyak cara untuk bersuara selain bertindak anarkis, salah satunya lewat karya.

This slideshow requires JavaScript.

Tak mungkin ada Indonesia yang lebih baik jika setiap perbedaan pandangan dan keyakinan dihadapi dengan moncong senjata!

Saya merinding mendengar kalimat mereka. Semuanya bersemangat. Semuanya berkobar. Polisi masih memperhatikan dengan mata awas di pinggir-pinggir area, lengkap dengan tameng di tangan. Itulah kali kedua saya melihat demo di depan wajah saya sendiri. Sebelumnya, saya melihat kejadian serupa tapi beda tujuan, di Asean Literary Festival 2016.

Dan KontraS memang banyak memberikan pengalaman unik tersendiri hari itu, di hari peringatan 18 tahun reformasi.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *