#KentjanJakarta

#MasihIngatMei – Penjarahan dan Pembakaran Glodok, serta Pemerkosaan Etnis Tionghoa 1998

f28f6c6ea6262a8722b642ab0489f111ffbbecbc

Kala itu Jakarta agak gerimis, tapi belum turun hujan deras. Mendung dan cerah masih bergantian menaungi langit ibukota. Kami beranjak menuju kawasan Glodok. Di sana, bus agak kesulitan berhenti sebab jalanan kecil dan area pertokoan yang cukup ramai oleh lalu-lalang kendaraan lain. Akhirnya, bus berhenti di depan sebuah kawasan pertokoan, menurunkan penumpang, sebelum akhirnya beranjak parkir ke tempat lain.

Di sana, John Muhammad –salah satu kru dari KontraS menjelaskan sedikit tentang kilas balik kerusuhan 1998 khususnya bagaimana situasi Glodok saat itu, sembari menunggu seorang narasumber yang akan hadir.

“Pusat-pusat ekonomi memang menjadi tujuan untuk dihancurkan pada saat Mei 1998. Semua titik demonstrasi pada saat Orde Baru itu seolah dikondisikan untuk berujung kerusuhan. Kita ingat, peristiwa Malari yang awalnya damai, berujung berusuhan.”

Ada ketentuan pada Orde Baru yang menyatakan bahwa orang tionghoa hanya boleh berdagang atau menjadi ekonom. Tidak boleh berpolitik, menjadi birokrat, dan sebagainya. Ketika orang tionghoa melaksanakan hidup sebagaimana mestinya –yaitu berdagang, dan kelamaan terjadi persaingan ekonomi yang tidak seimbang, timbul kecemburuan yang memunculkan stigma dalam masyarakat. Ketika krisis moneter terjadi, yang keliru adalah anggapan bahwa yang bersalah pasti mereka yang menikmati kekayaan. Dan lekat di kepala banyak orang bahwa yang Tionghoa itu kaya, walau di kenyataannya tidak semua Tionghoa itu kaya. Padahal Tionghoa pun berdagang dan akhirnya menikmati kekayaan karena sistem yang salah.

Bahwa negara selalu memunculkan musuh imajiner –musuh-musuh palsu. Contoh kecil yang terjadi di keseharian, ketika ada kejadian tertentu, orang akan berkata, ‘itu pengalihan isu!’. Bahwa ketika pemerintah mengalami tekanan dari rakyat, maka musuh  imajiner itulah yang dibangkitkan untuk mengalihkan kemarahan. Dalam hal ini, terutama kasus 1998, kelompok Tionghoa adalah minoritas dan musuh imajiner. Musuh imajiner ini selalu dipelihara dari masa ke masa. Ada komunisme, Tionghoa. Yang baru-baru ini ada terorisme dan LGBT.

Dalam sejarahnya, ketika masa Soekarno, Tionghoa banyak terlibat dalam organisasi kemasyarakatan. Ada banyak orang Tionghoa di dalam kelompok buruh, kelompok pemuda, perempuan, bahkan duduk di kursi parlemen. Pada masa Orba semua itu dipangkas dan peran Tionghoa dipersempit. Dan ada aturan yang sangat diskriminatif terhadap kaum Tionghoa untuk mengirimkan pesan kepada masyarakat bahwa mereka adalah orang yang berbeda dan harus diperlakukan berbeda. Salah satu contoh yang masih ada hingga sekarang adalah, di Jogja orang Tionghoa tidak boleh punya hak kepemilikan tanah.

Jadi ketika pemerintah butuh kambing hitam, dimunculkanlah musuh imajiner tersebut ke permukaan.

Dalam laporan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), ada pengorganisiran atau mobilisasi besar-besaran dengan tipe seragam; orang berpakaian serba hitam, laki-laki, berambut cepak, diturunkan dari truk di beberapa titik tertentu, kemudian ditugaskan untuk membakar emosi massa dengan menggunakan alasan bahwa kamu miskin, sedangkan Tionghoa kaya. Menggunakan trik musuh imajiner. Itu pula sebabnya terjadi kerusuhan. Sekitar Glodok dan beberapa kawasan lain, toko-toko ditutup dan ditulis di depannya sebagai milik pribumi, agar tidak dirusak. Padahal terkadang, pemiliknya adalah Tionghoa dan pribumi adalah para pekerja yang bertugas menjaga toko tersebut.

Banyak pula orang Tionghoa yang diserang –termasuk para perempuan, dilindungi oleh kelompok pribumi; seperti Haji, Ustadz, dan tokoh-tokoh masyarakat di Jakarta.

Jadi, jangan percaya bahwa itu adalah perang antara pribumi dan Tionghoa. Itu adalah perang yang dikobarkan oleh negara kepada kita semua.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah cuap-cuap awal itu berakhir, seorang perempuan yang saya taksir umurnya sekitar dua puluhan akhir tiba di lokasi, tepat di hadapan saya. Ia mengobrol sebentar dengan beberapa tim KontraS, sebelum akhirnya diperkenalkan sebagai narasumber siang itu. Saya tidak terlalu ingat namanya, entah Yunita atau Yuanita, tapi yang jelas ia seorang perempuan etnis Tionghoa yang ada di Jakarta dan tinggal di kawasan Jakarta Kota ketika kerusuhan Mei 1998 meledak. Dan katanya kini beliau aktif di Lembaga Bantuan Hukum juga.

Kami diajak berjalan sedikit lagi menuju pertokoan di bagian depan, di tepi jalan besar, melihat beberapa pertokoan yang kini sudah direnovasi dan beraktivitas sepeti adanya, sebelum akhirnya ia mengambil sebuah tempat dan kami kembali berkelompok untuk mendengarkan kesaksian.

499177b2490efd6acd28bacf08f7595d33deb3c2

Berkisahlah ia, dulu sebelum zaman Reformasi, Glodok adalah sebuah kawasan perekonomian yang cukup besar –bahkan lebih ramai daripada hari-hari ini, banyak dimiliki oleh etnis Tionghoa. Glodok juga sangat dekat dengan china town atau kawasan Petak 9. Dua kawasan ini dijarah dan dirusak, bahkan hingga ke pintu kecil Asemka –yang sekarang kita kenal sebagai Pasar Pagi Asemka.

Di sepanjang jalanan Glodok, kaca-kaca pertokoan pecah dan banyak barang dijarah. Kasus penjarahan paling besar adalah di Glodok, sebab semuanya habis dan kawasannya dibakar. Sekitar tahun 1998, sebuah tim dibentuk untuk investigasi yang kemudian dikenal dengan TGPF atau Tim Gabungan Pencari Fakta.

Tim ini kemudian menemukan beberapa pola dalam kejadian Mei 1998:

  1. Tahap Persiapan: bentuknya adalah provokasi. Ada sekelompok orang yang memancing keributan, penjarahan, dan menjaring massa. Sang provokator sendiri biasanya adalah orang-orang yang cakap menggunakan senjata dan pintar mengorganisir. Ada pula yang namanya massa aktif dan massa pasif. Massa aktif adalah orang yang tinggalnya jauh dari kawasan yang diincar —which mean, waktu itu, pastinya bukan orang Glodok. Tidak dikenal dari mana. Massa pasif adalah orang yang diajak. Ketika mereka terpengaruh, mereka bisa menjadi massa aktif.
  2. Tahap Pengrusakan: dimulai dari melempar botol, batu, dll. Semua kaca dipecahkan. Tidak diketahui siapa pelakunya, karena ada banyak sekali orang di jalanan, jadi tidak bisa dilihat satu per satu.
  3. Penjarahan: semuanya dijarah. Jika ada gembok, maka gembok ikut dihancurkan. Semuanya! Tidak tersisa satu pun. Sehingga banyak pemilik toko yang mengalami kebangkrutan saat itu.
  4. Pembakaran: Glodok dibakar habis. Baru direnovasi beberapa tahun kemudian dan akhirnya menjadi seperti Glodok yang kita kenal hingga sekarang.

Selain itu, juga ada kasus pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa. Lokasinya masih sangat dipertanyakan, walau Tim Gabungan Pencari Fakta menemukan sekitar 85 kasus di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Korbannya mayoritas dari kalangan etnis Tionghoa. Di antaranya 52 adalah gang rape yaitu diperkosa beramai-ramai, 14 kasus pemerkosaan dengan penganiayaan, 10 adalah penganiayaan seksual, dan 9 adalah pelecehan seksual. TGPF mengungkapkan, dari 52 kasus gang rape, hanya 3 kasus yang mendapat kesaksian dari korbannya langsung. Sisanya kebanyakan dari dokter, psikolog, rohaniwan, orangtua, saksi, dan sebagainya. Karena pada saat itu sangat sulit mencari orang yang mau mengakui bahwa dirinya diperkosa. Dan ini agak menyulitkan TGPF; sulit untuk mengetahui di mana kejadiannya dan siapa korban lainnya. Walau ada isu bahwa sebagian terjadi di dalam gedung.

Tapi Tim Gabungan Pencari Fakta bisa menemukan bahwa korban itu nyata dan kejadian itu nyata terjadi. Sayangnya di hukum Indonesia, menyatakan bahwa..

..pemerkosaan hanya bisa terjadi jika korbannya melapor. Jika korbannya tidak melapor, maka dianggap pemerkosaan tersebut tidak pernah terjadi.

Alangkah menyedihkan, karena mungkin untuk mengakui pada orang terdekat saja mereka malu, apalagi untuk melapor pada pihak berwajib. Penyebab lain adalah trauma yang besar dan tidak percaya lagi pada institusi hukum. Banyak sekali kasus yang tidak terungkap.

*Dan bicara mengenai pemerkosaan 1998, kita tak lepas pula dari duka atas kepergian Ita Martadinata yang merupakan saksi dan korban pemerkosaan.

Pada saat ini pemerintah masih denial bahwa kasus pemerkosaan tersebut hanya isu dan tak pernah terjadi, padahal ada meskipun bukti sangat dicari dan sangat sedikit sekali yang ditemukan.

Setelah selesai menjelaskan, perempuan yang energik dan bersemangat itu mengajak kami berjalan lagi, melihat sisa-sisa gedung yang dulu pernah terbakar dan hingga kini belum juga direnovasi. Bukan kawasan Glodok lagi, tapi masih di sekitarnya. Sehingga, kami bisa melihat langsung bagaimana sisa kerusakan yang terjadi 18 tahun lalu.

This slideshow requires JavaScript.

Kejadian pada 1998 sangat masif, meskipun pusatnya di Glodok sebab dianggap sebagai pusat dari perekonomian etnis tertentu, tapi semuanya tetap terkena imbasnya. Rumah-rumah di daerah Jakarta kota pun tidak luput dari serangan. Bahkan beberapa titik dilindungi oleh pribumi setempat, agar tidak dirusak. Banyak asap di mana-mana, mobil kebakaran, dan helikopter di mana-mana. Bahkan isu beredar, bahwa jika Tionghoa berani muncul keluar rumah, akan langsung dibunuh.

Antara masyarakat setempat sebenarnya pun tidak ada kebencian antar ras. Saat itu dibuat seolah-olah ada kebencian tertentu, padahal tidak ada pergesekan apapun.

Akibat kejadian itu, banyak orang etnis Tionghoa yang mengungsi dan diungsikan hingga ke luar negeri. Bahkan ada beberapa di antaranya yang menjaga jarak dengan kaum pribumi karena trauma. Walau bisa dibilang banyak juga yang hingga sekarang mampu hidup berdampingan dan masih akur satu sama lain. Tapi bagi sebagian Tionghoa, sama sekali tak ada kebencian atas kerusuhan 1998. Sebab selain itu bukan perang antar etnis, banyak pribumi yang memang masih melindungi mereka pada saat kejadian.

Alangkah mengerikannya sebuah perang yang direkayasa atas kebencian pada etnis tertentu, dipercaya sebagian orang, dan mengakar hingga ke anak cucu.

*

Tidak lupa mengabadikan hal ini di depan sisa bangunan. Bahkan seorang teman berbisik, "tadi kamu berdiri di sebelah bule dan sedang merekam, lalu ada yang mengira kamu orang Taiwan." Saya #MasihIngat dan saya terharu.
Tidak lupa mengabadikan hal ini di depan sisa bangunan. Bahkan seorang teman berbisik, “tadi kamu berdiri di sebelah perempuan bule dan sama-sama sedang merekam, lalu ada yang mengira kamu orang Taiwan.” Saya #MasihIngat dan saya terharu atas prasangka yang sangat positif itu. Tapi saya orang Padang. Hahaha.
(Visited 218 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *