#KentjanJakarta

#MasihIngatMei – Mengenang 18 Tahun Reformasi dan Mahasiswa yang Dibunuh Bangsanya Sendiri

Foto bersama di depan Tugu Reformasi 12 Mei
Foto bersama di depan Tugu Reformasi 12 Mei

Teman kami dibunuh oleh bangsa sendiri!

Tulisan itu terpampang jelas di papan bunga –satu-satunya papan bunga, yang ada di Tugu Reformasi 12 Mei Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Tugu dan tulisan di papan bunga itu seakan ingin mengingatkan kepada orang banyak –sebuah rezim pernah mencabut nyawa rakyatnya sendiri delapan belas tahun lalu. Tulisan itu agaknya seperti mata pisau yang mengingatkan banyak orang pada tragedi kelam masa lalu.

Hari itu sudah sore, ketika kami tiba di Universitas Trisakti. Sebenarnya pun, sudah tidak boleh lagi masuk ke dalam museumnya, karena jam operasional sudah berakhir. Tapi beruntung, tim KontraS berhasil membawa kami masuk ke dalam walau sebentar, sambil mendengarkan penjelasan dan mengenang kembali detik-detik tertembaknya 4 mahasiswa Trisakti oleh aparat pada Tragedi Mei 1998 yang muram.

Di lokasi tewasnya Idin alias
Di lokasi tewasnya Hafidin Royan alias Idin

Pada titik-titik yang menjadi lokasi tertembaknya korban, dibuat semacam penanda, hingga semua orang bisa melihatnya walau belasan tahun berlalu. John Muhammad, salah satu saksi hidup yang waktu itu ada di lokasi, kemarin hadir bersama KontraS dan menjelaskan bagaimana kejadian nahas tersebut berlangsung. Aparat berdiri di atas jembatan layang di seberang kampus, mahasiswa berhamburan masuk mencari perlindungan. Tembakan diletuskan dan 4 orang menjadi korban tewas.

Salah satu titik yang sempat saya foto terdapat di depan gedung museum. Letaknya cukup jauh ke dalam kampus. Beberapa kali saya melihat ke belakang –ke arah jembatan layang yang membatasi Trisakti dengan mal Citraland itu. Alangkah jauhnya, dan tembakan itu ternyata mengenai bagian vital, bukan sembarang anggota tubuh. Entah kebetulan, atau mereka diincar, pikir saya dalam hati.

This slideshow requires JavaScript.

Benar saja, ketika kami di dalam museum, seorang peserta yang saya tak ingat siapa namanya pun menanyakan hal yang sama. Apakah keempat korban yang merupakan mahasiswa Trisakti itu adalah korban ‘asal tembak’ atau memang aktivis mahasiswa yang sudah diincar aparat sejak jauh hari. Jawaban yang saya terima pun tidak jauh berbeda dengan pikiran saya sebelumnya.

Menurut perkiraan, jika senapan itu tidak diarahkan ke objek, pasti tidak kena. Pertanyaannya adalah, kenapa peluru-peluru itu sampai kepada korban di tempat-tempat yang mematikan? Mengapa tidak mengenai tangan atau kaki korban? Pertanyaan bagi kita semua, siapa yang menembak? Memang ada pengadilan terhadap aparat yang bertugas saat itu, tapi tuduhannya hanya pelanggaran prosedur, bukan tuduhan lainnya.

Barangkali, cerita Trisaksi 1998 bukan lagi hal baru dalam sejarah modern negeri ini. Banyak orang sudah mengetahuinya sebab tragedi itu memang besar, walau saya yakin tak semua tahu detailnya. Tapi di zaman canggih seperti sekarang, saya rasa tak perlu saya kisahkan ulang secara rinci bagaimana kerusuhan hari itu. Semuanya bisa dengan mudah didapat di internet. Saya pun sempat mencarinya di internet, sebab ayah ibu saya tak pernah menceritakan hal ini. Saya masih sangat kecil ketika itu, dan saya hanya tahu ada kerusuhan –tanpa tahu kerusuhan apa. Barangkali, mereka tak ingin menceritakan mimpi buruk pada saya. Walau baik buruk sebuah hal harus diketahui oleh siapa pun yang berhak –dalam hal ini, kita sebagai rakyat.

Mereka –keempat korban tewas itu adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto,  Hendriawan Sie, dan Hafidin Royan. Mengenai hal itu, perwakilan dari Trisakti sempat bicara.

Bagi kami, mereka semua meninggal sebagai martir, tak ada yang sia-sia. Sebab setelah itu pun, Orde Baru tumbang dan berganti Reformasi.

Situasi di Jogja dan di kota lain pun sedang memanas waktu itu, maka ketika tragedi Trisakti terjadi dan masuk di televisi, teman-teman dari kota lain ikut marah –sangat marah, dan langsung melakukan aksi. Di Jogja sendiri terjadi kerusuhan, tapi tidak separah di Jakarta, Solo, dan Medan.

Kami menuntut tentara bertanggungjawab atas kasus penembakan Trisakti!

(Visited 87 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *