Foto: John Muhammad
Foto: John Muhammad

Plaza Klender adalah destinasi terakhir yang kami kunjungi hari itu. Hari sudah agak malam ketika kami tiba di kawasan Bekasi Timur. Bus sempat berputar kian kemari selama beberapa saat, masuk keluar jalan kecil yang hanya muat satu badan bus saja, bahkan melewati pasar yang becek disapu deras hujan. Waktu seharusnya sudah lewat dari jam yang ditentukan. Sudah pukul setengah tujuh malam, padahal acara dijadwalkan selesai pukul enam petang.

Setelah beberapa lama berputar tempat dan bertanya sana-sini, akhirnya bus tiba di depan Plaza Klender. Sedikit salah paham akibat bus melewati jalur lain –yang berbeda dari jalur tim KontraS saat survei sehari sebelumnya itu mereda. Kami semua lega sudah tiba di lokasi. Ibu Darwin dan Ibu Sanu –dua narasumber paruh baya yang diundang KontraS juga sudah tiba di lokasi. Di mal itu, delapan belas tahun lalu, ratusan orang kehilangan nyawa. Mal Klender dibakar habis dengan dalih bahwa di dalamnya banyak penjarah. Padahal, ada juga anak kecil dan orang-orang tak bersalah yang menjadi korban kebakaran maut tersebut. Bahkan hingga sekarang tidak ada kejelasan siapa pelakunya, apakah ia sudah dihukum setimpal atau belum. Duka berkepanjangan inilah yang dialami keluarga korban.

Kebakaran Klender mungkin bukan hal asing dalam sejarah Orde Baru. Warga Bekasi dan sekitarnya tahu betul bagaimana peristiwa ini terjadi. “Kamu bayangin aja, waktu itu orang-orang menjarah dengan santai. Dari barang elektronik hingga barang-barang besar lainnya. Semua orang lalu-lalang membawa benda-benda jarahan. Suasana rusuh sekali.” Ungkap seorang teman.

This slideshow requires JavaScript.

Mal Klender dibakar pada Mei 1998, saat kerusuhan di Jakarta, Medan, Surabaya, Solo, dan beberapa kota terjadi. Sekitar empat ratus orang tewas di dalamnya. Tidak pernah terungkap siapa pelaku pembakaran. Padahal, para keluarga korban –terutama Ibu Darwin dan Ibu Sanu, hanya ingin keadilan. Begitu mahalnya mungkin kejujuran di negeri seperti ini, hingga berkas-berkas mereka yang diurus KOMNAS HAM juga bolak-balik ditolak kejaksaan tanpa alasan yang jelas.

Ibu dan Bapak sekarang sudah tua. Anak kami –satu-satunya harapan kami sudah pergi.

Kedua ibu itu bercerita dengan raut sedih di hadapan kami semua. Ibu dari Stevanus Sanu –seorang bocah SD yang juga menjadi korban tewas, bahkan tak mampu berkata-kata. Beliau hanya bisa menangis, dan mempersilakan Ibu Darwin yang bicara panjang lebar. Kami semua mendengarkan cerita itu dengan serius, tidak peduli gerimis mulai turun. Kami hanya berdiri di ruko-ruko belakang Plaza Klender, berkerumun di sana kurang lebih empat puluh menit lamanya. Dan melihat dua kesaksian memilukan itu, tak ada lagi yang peduli pada gerimis.

Sungguh sebuah rezim pernah mengambil nyawa banyak orang, menindas kebebasannya, dan merenggut masa depan mereka. Beberapa aktivis yang hingga kini masih hilang bahkan dijemput di Apartemen Klender oleh aparat, tak jauh dari lokasi mal. Ada pula yang mencoba lari ke dalam sebuah Rumah Sakit untuk mencari perlindungan namun tak berhasil. Ia diringkus di sana, di tempat seramai itu, di hadapan banyak orang. Hal-hal seperti inilah yang tidak pernah saya jumpai di dalam buku pelajaran sejarah sewaktu sekolah. Hal-hal seperti inilah yang ternyata memang harus dicari dan dibenarkan dengan mata kepala sendiri.

Kami semua sudah semakin menua. Siapa lagi harapan kami agar kejahatan kemanusiaan di negeri ini bisa diberantas, kalau bukan kalian –anak-anak generasi muda.

Malam itu gerimis pelan-pelan mereda. Tapi harapan dan perlawanan mereka akan selalu ada.

(Visited 103 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *