#KentjanJakarta

#MasihIngatMei – Mengunjungi Pram, Eks Tapol yang Menjadi Sastrawan Besar

di depan tempat peristirahatan Pram
di depan tempat peristirahatan Pram

Kami keluar dari parkiran Universitas Trisakti dan menuju Pemakaman Karet Bivak ketika hujan semakin deras melanda kota Jakarta. Di dalam bus, kru KontraS sempat mengumumkan, apakah peserta ingin melihat komplek pemakaman dari depan saja, atau tetap masuk hingga ke depan makam Pramoedya Ananta Toer –seorang eks tapol (tahanan politik) era 1965 yang kemudian dikenal sebagai sastrawan terkenal itu. Semuanya sontak bersorak ingin masuk. Perjalanan sudah lebih dari setengahnya, rasanya sangat sayang jika dilewatkan. Dan lagi, hujan pun tidak sederas itu.

Kami semua tiba di lokasi tak berapa lama kemudian. Payung-payung dikeluarkan dan dibagikan ke tiap orang. Jumlahnya bahkan pas, di sini saya kagum pada kesigapan kru KontraS dalam mengatur acara mereka. Padahal, menurut pengakuan Mbak Puri, ini adalah kali pertama mereka mengadakan acara jalan-jalan seperti ini.

Kami memasuki komplek pemakaman dan cukup berkelok ternyata jalan menuju makam Pram –jika ditilik dari arah tempat kami masuk tersebut. Belum lagi tanah yang agak becek sebab air hujan masih deras saja. Tapi itu tidak memupuskan semangat. Entah mengapa, saya merasa orang-orang yang memang ikut di perjalanan hari itu adalah mereka yang selalu penasaran dan memang sangat ingin tahu. Tak ada yang mengeluhkan panas terik di Monas ketika demo berlangsung, pun tak ada yang menyayangkan hujan di pemakaman Karet Bivak serta Plaza Klender. Semuanya menjalani rangkaian acara dengan antusias.

This slideshow requires JavaScript.

Saya adalah orang keempat yang tiba di depan makam Pram. Kami lalu kembali berkumpul di sana, melingkar dan mendengarkan cerita dari Mbak Puri dari KontraS. Ada alasan tertentu mengapa mereka (KontraS) memilih makam Pram sebagai salah satu destinasi. Jika dilihat dari sejarah Mei 1998, barangkali mungkin kita takkan menemukan hubungannya dengan sosok Pram. Tapi jika ditarik benang merah, Pram termasuk salah satu eks tapol di masa Orba.

Kita tahu, bahwa eks tapol alias tahanan politik mendapat tempat yang berbeda di kalangan masyarakat umum. Mereka diperlakukan tidak adil dan tidak punya hak yang sama dengan non eks tapol. Ketika mereka keluar dari penjara atau terbebas dari pembuangan/pengasingan di pulau antah berantah, pada KTP mereka akan tertera tulisan ‘eks tapol’ dan itu akan membuat mereka kesulitan mencari pekerjaan atau mengurus segala hal di bagian pemerintahan.

Tidak hanya itu, anak-anak para eks tapol juga akan kesulitan mendapat pekerjaan jika ketahuan ayahnya pernah dipenjara/diasingkan sebagai tahanan politik Orba. Banyak sekali eks tapol yang kemudian sudah meninggal, atau hidup memprihatinkan. Pram adalah salah satu eks tapol yang hebat. Beliau menuliskan pengalaman-pengalamannya dan menjadikannya fiksi –di kemudian hari, kita mengenal serial bukunya yang sangat terkenal: Tetralogi Buru. Ia kemudian menjadi sastrawan besar hingga kini. Banyak orang mencari-cari bukunya, membaca, kemudian mengulas buku itu dengan decak kagum.

Pada masa Orba, Pram diasingkan bersama ribuan orang lainnya di Pulau Buru, sebuah pulau kecil di daerah Maluku sana. Ia adalah bagian dari LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dibabat habis ketika Orba memberantas PKI. LEKRA dianggap berada di sayap PKI dan kemudian banyak sastrawan/senimannya yang diasingkan, dipenjara, bahkan dibunuh. Padahal dari LEKRA, banyak lahir pemikir-pemikir hebat. Karya mereka semasa di LEKRA konon kabarnya sudah sulit dijumpai. Semuanya seolah benar-benar dibabat habis kala itu.

Sepulang dari Buru, Pram menuliskan banyak buku. Menghabiskan sisa hidupnya sebagai penulis sekaligus editor, hingga akhirnya meninggal di tahun 2006. Pram adalah salah satu saksi kekejaman Orba kala itu. Bukan hanya LEKRA, bahkan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) yang kala itu aktif di berbagai bidang juga diberantas. Konon dikisahkan dalam sejarah, para perempuan GERWANI menari telanjang di antara para jenderal yang tengah dianiaya sebelum akhirnya dibunuh. Tapi menurut banyak sumber selain sejarah versi Orba, kejadian itu tak pernah ada. GERWANI konon diberantas oleh pasukan Orba, dilenyapkan hingga setelah itu tak ada lagi gerakan perempuan di negeri ini. Perempuan tak boleh berserikat dan berkumpul seperti dahulu. Setidaknya sebelum Reformasi mulai lahir.

Persamaan kisah Pram dengan Tragedi Mei 1998 hanya satu: mereka semua adalah korban kejahatan kemanusiaan. Dan walau berada di tahun yang berbeda jauh, tapi metode yang sama masih berlaku, kejadian yang sama masih terulang, dan ketidakpastian penyelesaian kasus pun masih seperti sediakala. Tak pernah ada yang berubah. Walau tahun-tahun belakangan ada ‘angin segar’ bahwa Presiden akan mengungkap/menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, tapi hingga sekarang tak ada yang tahu bagaimana kelanjutannya.

Entahlah.

Kita berhak percaya versi sejarah mana pun, atau berhak juga tidak percaya. Tapi kita juga masih punya kekuatan untuk mencari yang paling benar di antara kebenaran yang ditawarkan sebuah rezim.

“The tragedy of life is not death, but what we let die inside of us while we live.”Norman Cousins.
(Visited 76 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *