#KentjanJakarta

Peredam, dan Ngopi Sore di Jalan Sabang

Gambar: Pexels

“Setiap orang yang pikirannya rumit biasanya butuh peredam,” kata seorang kawan suatu hari, “dan terkadang, si peredam itu tak perlu berpikiran serumit dirinya. Hanya untuk membuatnya tetap waras.”

Saya dan dua teman berbincang sore di salah satu kedai kopi di kawasan Jalan Sabang, Jakarta Pusat, pada Minggu dua hari yang lalu. Entah dari mana awalnya –karena obrolan kami biasanya memang suka ngalor-ngidul, akhirnya kami tiba pada pembahasan mengapa orang-orang berpikiran rumit kerap tampak repot sendiri dan tak bisa mengatur badai dalam kepalanya.

Dan keluarlah pernyataan itu dari seorang kawan.

Saya pikir, orang yang tukang debat, tukang diskusi, pemikir, dan sebagainya dan semacamnya, malah lebih senang bertemu pasangan yang sama hobinya dengan mereka –ya tukang debat, tukang diskusi, dan pemikir keras juga. Bukankah dengan begitu mereka akan melakukan kegiatan yang sama-sama mereka gemari? Mereka bisa berdiskusi mengenai apa saja; politik, penguasa, teologi, feminisme, ideologi, bacaan, atau mungkin hal-hal kecil yang menurut orang awam remeh tapi sebenarnya bisa diperdebatkan sampai lelah.

Satu kawan saya menggeleng, yang satunya menyimak. “Justru kalau seperti itu, keduanya bisa saja tabrakan suatu hari. Bagaimana kalau seandainya dalam sebuah diskusi, keduanya sama-sama kuat dan tak ada yang mau mengalah?”

Kemudian saya berpikir lagi, berandai-andai tentang sikon yang berbeda; yang satu rumit, yang satu santai kayak di pantai. Jadinya malah yang santai takkan mau mendengarkan apalagi meladeni perdebatan rumit, sebab itu bukan prioritas hidupnya. Seperti pemikiran saya beberapa tahun lalu, ayolah hidup ini sudah berat dan masalah saya sudah banyak, mengapa saya masih harus memikirkan hal-hal seperti penguasa yang jauh di atas sana sementara kuliah saya saja sedikit lagi menuju titik terbangkalai? Bukankah lebih baik saya mencari ide bagaimana caranya agar kuliah saya setidaknya selesai dan saya bisa melanjutkan hidup?

Tapi entahlah, mungkin ada yang merasa hal-hal ‘sebesar’ itu jauh lebih penting ketimbang hidup mereka yang belum stabil. Lain halnya ketika hidup sudah stabil. Sekarang, jika ada yang ingin bahas sedikit remah-remah politik, sejarah, dan penyimpangan apalah-apalah lainnya, mungkin saya akan meladeni dengan senang hati. Sebab saya bukan mahasiswi dengan kuliah nyaris terbangkalai seperti 3 tahun lalu. Priorotas saja yang berbeda. Buat saya, hidup saya sendiri dulu yang penting, baru saya bisa memikirkan yang lain-lain.

“Kamu yang dulu justru seorang peredam,” kata kawan saya lagi, dan saya tertawa kencang sekali, ketika akhirnya topik itu berbelok ke arah seorang kenalan lama kami yang disinyalir berpikiran teramat rumit.

“Dulu saya cuma mahasiswi yang nggak senang bahas politik, pasti saya suruh diam. Sebab dulu hidup saya bisa dibilang agak sulit, masalah saya banyak.” Kata saya sambil menyesap jenis kopi yang menurut saya paling enak di kedai kopi tersebut.

“Ya, tapi kamulah peredamnya. Dia bisa tenang dari kerumitan justru ketika kamu menyuruhnya diam.” Kawan saya ikut tertawa.

Dan kemudian saya enggan membahas apa-apa yang sudah lewat. Saya tak pernah tahu apakah setelah beberapa tahun itu saya akan berkenalan dengan orang-orang yang berpikiran sama rumitnya sekali lagi. Tapi saya memutuskan bahwa dengan siapa pun saya bertemu, saya akan menjalaninya dengan senang hati. Rumit tidaknya urusan nanti, sebab semua kondisi bisa punya cerita yang menarik –tak ada yang tahu, sekali lagi.

“Beberapa orang rumit yang tak punya peredam akhirnya overdosis,” kawan saya itu berkata lagi, “tak ada yang bisa menghentikan mereka, bahkan diri mereka sendiri. Mereka akan selalu merasa benar dan kekeuh dengan pemikiran-pemikiran mereka tentang apa saja; sejarah, ideologi, agama, penguasa, politik. Tak ada tempat berbagi, tak ada tempat bertukar pikiran. Mereka merasa butuh orang yang sama rumitnya, padahal yang mereka butuhkan hanya seorang peredam.”

Saya menyesap kopi lagi, seorang pelayan mengantarkan roti bakar, dan obrolan kami terhenti sejenak.

Tapi saya hanya berharap dalam hati, agar saya bisa berpikir cerdas tanpa menjadi seorang berpikiran rumit dengan overdosis. Lebih enak jadi peredam saja mungkin.

Hahaha.

(Visited 48 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *