Keluar Dari Jakarta

Jogja Trip 1: Tiba di Jogja dan Nyicip Kopi Joss di Angkringan Tugu

29 Juli kemarin akhirnya ngambil cuti pertama, dan karena ingin perjalanan yang sedikit jauh dari Jakarta, akhirnya pilihan jatuh ke Jogja -yang entah kenapa, mendadak ingin saya datangi. Saya ke sana bersama seorang kawan dari kantor lama, yang kebetulan juga lagi pengin liburan, dan kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan. Di jalan kurang lebih 6 atau 7 jam, cukup melelahkan tapi nggak sampai ‘sangat-sangat melelahkan’. Soalnya Jogja jauhnya masih nanggung, sih, dan enaknya di kereta, kalau udah pegel bisa berdiri lalu jalan ke gerbong restorasi (alasan, padahal aslinya pengin nyari apa yang bisa dimakan).

Kami kemudian juga sempat singgah di beberapa stasiun kecil seperti Cirebon, Purwokerto, dan lainnya. Kebetulan, tiba di Purwokerto sudah jelang magrib dan langitnya bagus untuk difoto.

Tadaaa!
Tadaaa!

Yang lebih enaknya lagi, kalau naik kereta bisa melihat banyak hal; mulai dari hamparan sawah yang serba hijau, aktivitas masyarakat di sepanjang jalur kereta, anak-anak kecil yang dadah-dadah tiap kereta lewat, dan kadang membuat saya berpikir, “apa mereka yang tinggak di daerah kecil seperti itu pernah merasa bosan?” Tanpa bermaksud menyinggung atau apa, ya, tapi orang-orang yang tinggal di kota besar dan semuanya serba tersedia aja pasti pernah bosan dengan rutinitasnya, apalagi di sana yang jauh dari mana-mana. Tapi mungkin segala keterbatasan bisa membuat mereka lebih kuat dan mampu bertahan. Mungkin, ya. Entah.

This slideshow requires JavaScript.

Ketika perut sudah mulai keroncongan, akhirnya saya ke restorasi dan mendapatkan suguhan menu-menu makanan beku seharga Rp 23.000,- yang kemudian dihangatkan di microwave, saya sempat suudzon dengan rasanya tapi ternyata enak juga. Yang saya pilih adalah nasi goreng bakso, sebenarnya bahkan ada nasi rendang juga.

Pukul delapan malam, kereta kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Ya, sebenarnya nggak pas pukul delapan, pasti ngaret dikit. Maklum, jam Indonesia. Hahaha. Dari sana kami naik becak menuju hotel yang sudah dibooking di jalan Malioboro –kawasan yang paling terkenal itu. Suasana Jawanya berasa banget. Saya nggak pernah datang sendirian (tanpa travel agent) ke wilayah-wilayah Jawa sini,  jadi saya agak takjub ketika berinteraksi langsung dengan orang-orang yang bicaranya medok (terakhir kali ke Jawa itu ke Dieng, dan saya hampir tidak berinteraksi kecuali saat beli oleh-oleh sebab semuanya diurus travel agent). Saya sebenarnya juga menyukai tembang-tembang Jawa yang diputar di mana-mana, seperti menggema ke seluruh kota. Magis dan menenangkan. Mungkin benar kata orangtua-orangtua kita, Jogja adalah kota yang cocok dan nyaman untuk pensiun, tempat istirahat juga menenangkan diri.

Buat saya yang masih umur segini dan butuh banyak dana buat beli sebongkah berlian, rasanya mustahil untuk tinggal di sana dalam keadaan serba cukup. Saya realistis saja sebenarnya. Jogja enak untuk menyepi, tapi mungkin belum mampu dijadikan tempat mencari nafkah. *kata anak Jakarta*

This slideshow requires JavaScript.

Setibanya di hotel, saya dan teman kemudian beres-beres sebentar, ganti baju, mandi, kemudian memutuskan jalan-jalan di Malioboro malam hari. Sepanjang Malioboro, hal yang tak habis-habisnya adalah becak dan delman. Di sini, masyarakatnya masih gemar naik becak ke mana-mana dan delman sendiri biasa digunakan untuk keliling melihat-lihat (wisatawan asing banyak yang senang naik ini kayaknya). Dengan sekian puluh ribu rupiah, delman bisa mengantarkanmu keliling Malioboro hingga keraton dan mungkin juga Taman Sari jika sepakat.

Hal pertama yang saya coba malam itu adalah makan angkringan. Di Jogja, khususnya di angkringannya, ada salah satu kopi yang legendaris dan katanya wajib dicoba. Namanya Kopi Joss. Ada yang hitam, ada juga yang berbentuk kopi susu. Secara umum, kopi joss sendiri adalah kopi dengan arang di atasnya. Rasanya kurang lebih sama sih kayak kopi biasa -setelah saya mencoba keduanya, tapi memang ada sesuatu yang membuat kopinya terasa lebih nikmat dari kopi biasa. Nggak wah, tapi juga bukan berarti nggak enak. Secangkir kopi joss hitam dibanderol Rp 5.000,- dan kopi susu seharga Rp 6.500,- 🙂 kopi joss paling terkenal enak di Malioboro adalah Kopi Joss di Angkringan Mbak Siska. Dari arah Tugu langsung belok kiri, angkringannya di urutan kedua. Kebetulan banget yang malam itu saya datangi adalah angkringan tersebut. Saya dan teman saya merasa nggak salah pilih sebagai newbie  😛

This slideshow requires JavaScript.

(Visited 137 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *