Keluar Dari Jakarta

Trip Jogja 3: Mampir ke The House of Raminten dan Nonton Cabaret Show ala Jogja

This slideshow requires JavaScript.

Siang setelah selesai dari Keraton dan Tamansari, akhirnya saya dan Ica memutuskan untuk makan siang di Raminten 2 yang di Kota Baru. Sebenarnya di Jogja ada 3 Raminten. Yang pertama kurang tahu ada di mana, yang kedua adalah yang di Kota Baru (yang mungkin selalu disangka Raminten 1 oleh orang-orang), dan Raminten 3 (di lt. 3 Hamzah Batik Malioboro).

Raminten 2 ini sebenarnya dari Malioboro sudah dekat, tapi tidak ada transportasi umum yang bisa menjangkaunya dalam waktu singkat kecuali taksi. Kalau kamu memilih TransJogja, maka kamu harus puter dulu sampai halte SMP 5 yang letaknya entah di daerah mana, kemudian transit naik TransJogja nomor lain untuk kemudian turun di halte portabel di depan Raminten 2. Oh, FYI, sekadar info, bahwa di Jogja banyak halte-halte portabel. Maksudnya portabel, sebab halte TransJogja-nya kecil sekali, hanya berupa tangga untuk naik-turun. Nggak ada loket untuk tap kartu.

Sebenarnya sempat wondering, gimana caranya orang yang naik dari halte portabel itu membayar biaya perjalanan. Saya pikir halte portabel hanya digunakan untuk menurunkan penumpang saja, tapi buat yang baru naik harus lewat halte-halte utama. Cumaaa, ketika saya melihat seorang anak SMA naik via halte portabel barulah saya sadar bahwa di tiang dekat pintu busnya ada mesin untuk tap kartu. Di sana kemudian kartu Flazz, e-money, atau kartu-kartu non tunai sejenis lainnya di-tap.

TransJogja ini prinsipnya agak berbeda dengan TransJakarta. Kalau di Jakarta, Transnya punya halte di tengah jalan, benar-benar di pertengahan jalan, sehingga naik turun lebih enak karena kedua arah jalan jadi punya halte. Sedangkan di Jogja sana, haltenya di pinggir jalan, jadi pilihannya kalau nggak di kanan ya di kiri jalan, dan ini membuat kamu harus muter ke mana-mana dulu hanya untuk mencapai sebuah tujuan yang mungkin sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat kamu berangkat. Ketika akan pergi ke Raminten 2, saya dan Ica berpikir tempat ini jauh sekali. Sebab kami menempuh kurang lebih 1 jam (sekaligus transit sebentar di SMP 5 itu) dari Malioboro. Ternyata pas pulangnya, naik dari halte dekat Raminten, menuju Malioboro tinggal lurus belok sono dikit, nggak sampai 15 menit. Lokasinya memang dekat sekali sebenarnya. Dan hal-hal seperti ini akan membuatmu kehilangan banyak waktu jika jalan-jalan di Jogja tanpa kendaraan pribadi. Tapi namanya juga backpacker alias liburan murah meriah, segala hal harus dicoba dan dijalani 😛 Cuma kalau kamu tipe yang nggak nahan sama hal beribet macam ini, mending sewa mobil harian sama driver atau berdayakan teman-teman lelaki yang bisa kamu minta mengantarkan keliling Jogja. Kenapa teman lelaki? Pengalaman sih, teman lelaki lebih betah menemani jauh-jauh bahkan nyaris keluar kota Jogja. Lelaki lebih fleksibel dan berani dalam hal ini.

Sekali lagi, Jogja bukan Jakarta di mana cewek berani-berani aja bawa kendaraan pulang pergi ke Bogor bahkan malam-malam. Di kota ini saya perhatikan, menjelang malam, populasi cewek yang bawa kendaraan sendiri mulai berkurang. Rata-rata pergi dengan laki-laki. Jogja memang kota 24 jam, tapi transportasinya nggak ramah sama sekali, dan yang pasti sih nggak 24 jam. Seorang kawan pernah nonton bioskop di Jogja, ia membeli tiket tengah malam dan berpikiran bahwa isi studionya akan tetap membludak seperti bioskop Jakarta jam 12 malam. Ternyata kasus nonton film itu malah berakhir agak menyeramkan, ia nonton sendirian di studio hingga tengah malam 😛 Jadi baiknya, jangan bawa-bawa kebiasaan hidup di Jakarta ketika berada di Jogja, kamu akan banyak kagetnya.

Oke, kembali ke Raminten. Di sini ternyata harus antre dan waiting list ketika makan siang, saking ramainya orang yang mau makan. Kami berdua diminta menyebutkan nama, kemudian menunggu di kursi yang telah disediakan. Di sana, kemudian saya mencium wangi-wangian yang bikin bulu kuduk berdiri, little bit bau menyan gitu, deh. Kalau kamu pernah makan di resto vintage semacam Lara Djonggrang di kawasan Menteng, seperti itulah spooky-nya. Tapi mungkin Lara Djonggrang tingkat seramnya lebih hebat sebab restorannya pun lebih luas dan ada pohon beringin tua di parkiran. Sedangkan Raminten langsung menghadap ke jalanan dan tidak ada parkiran luas.

Pelayan kemudian memanggil nama Ica dan mengantarkan kami ke lantai dua, di mana tersedia meja yang baru saja kosong. Entah ini firasat saya aja atau memang Raminten hanya menerima pekerja-pekerja lelaki yang ganteng-ganteng, soalnya pelayan cowok di sini rata-rata kekar dan mukanya memang kayak cowok LMen. Ada yang tatoan juga, hahaha. Sedangkan pelayan perempuan mengenakan kemben dan kain sarung. Bayangkan bagaimana mereka bisa bergerak cepat di dalam resto yang tidak terlalu luas dengan pakaian cantik seperti ini setiap harinya non stop? Pengin tepuk tangan jadinya.

Harga makanan di Raminten 2 ternyata nggak terlalu mahal, bahkan sama ramahnya dengan harga makanan di warung kecil, walau Raminten tergolong sebuah restoran. Saya dan Ica memesan nasi goreng, tempe mendoan, dan minuman yang saya lupa namanya. Yang pasti, minuman saya adalah kombinasi leci dengan Redbull, dibanderol dengan harga Rp 17.000,- yang tergolong murah, tapi ternyata di Raminten 3 harganya dibanderol Rp 25.000,-

Raminten 3 ada di Malioboro, tepatnya di Hamzah Batik (seberang gerbang Pasar Beringharjo) lantai 3. Di sana restoran Ramintennya lebih kecil, tapi ada yang istimewa setiap akhir pekan di tempat ini. Setiap hari Jumat dan Sabtu, ada pertunjukan Cabaret Show yang bisa dinikmati selama 1,5 jam dengan harga tiket Rp 50.000,- (regular) dan Rp 60.000,- (VIP). Sebenarnya untuk golongan pertunjukan ini termasuk harga yang murah. Entah, kalau bagi masyarakat Jogja, mungkin ini harga normal. Yang jelas buat saya dan Ica, kami merasa menyesal tidak bisa mengamankan posisi VIP yang harganya cuma beda Rp. 10.000,- saja.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi tempat duduknya memang tidak banyak –seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, bahwa Raminten 3 ini tempatnya tergolong kecil, jadi tiket VIP ludes lebih cepat daripada yang kami sangka, padahal posisinya bagus banget, di meja-meja depan dan bisa melihat bahkan berinteraksi langsung dengan artis-artis yang tampil di panggung. Saya menempati meja urutan kedua, tepat di belakang meja VIP, jaraknya masih dekat, tapi agak menyebalkan jika orang yang kebetulan duduk di depan kita adalah orang berbadan besar dan tidak mau mengalah. Untungnya, yang duduk di depan saya adalah mbak-mbak berbadan sedang, jadi sedikit menguntungkan karena membuat saya berhasil merekam banyak video selama show berlangsung.

Pada malam hari menjelang jam 7, kami sudah harus masuk ke dalam resto dengan menunjukkan tiket yang sudah dibeli. Beberapa lagu kemudian diputar sebelum acara dimulai –dari lagu pop Indonesia yang galau-galau hingga lagu boyband Korea yang saya tidak mengerti siapa penyanyinya. Tak lama, acara diumumkan akan dimulai, penonton mulai diam dan menunggu. Ternyata Cabaret Show lebih menyenangkan dari apa yang saya kira dan mungkin lumayan buat kamu-kamu yang belum sempat nonton versi aslinya di Thailand, di sini nggak kalah lucu, kok. Para ladyboy cantik itu lincah sekali di atas panggung, menari-nari seperti sedang bermain drama musikal, kemudian ada juga yang lipsing menyanyikan lagu-lagu lokal dan mancanegara. Seorang ladiboy yang menyanyikan lagu Anggun didandani mirip sekali dengan Anggun C. Sasmi. Hal ini membuat saya takjub, betapa miripnya dia dengan pemilik asli lagu Snow on Sahara yang tengah dinyanyikan tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Hal-hal kocak juga terjadi di dalam, misalnya ketika para ladyboy memanjat tiang-tiang sekitar panggung dan menarik lelaki-lelaki ‘beruntung’ yang kebetulan menduduki singgasana VIP. Pelajaran buat cowok yang takut dicolek bahkan diarak ke panggung (atau lebih parah: dicium) ladyboy, jangan beli VIP. Berikanlah nak, tiket itu pada cewek-cewek yang butuh hiburan, seenggaknya cewek nggak akan ditarik ke panggung atau digodain selama show. Hahaha.

Malam itu sekitar 2 atau 3 lelaki yang menjadi bahan tertawaan di dalam karena dikerjai para ladyboy, tapi itu membuat suasana tetap fun dan pertunjukan semakin menyenangkan. Penonton bersorak gembira, meneriaki mereka dengan bahagia, dan menghujani tepukan tangan. Acara ditutup dengan perayaan ulang tahun seorang ladyboy yang ada di sana, teman-temannya memberikan kejutan manis berupa kue ulang tahun di atas panggung, sebelum mereka kembali bernyanyi untuk mengakhiri acara.

Setelah pertunjukan selesai, kami bahkan boleh memburu para artis-artis cantik tersebut dan meminta foto bareng mereka. Mungkin hal ini sudah biasa terjadi, sehingga mereka menanggapinya dengan senang hati. Ternyata aslinya, walau di depan laki-laki, mereka bukan tipe yang suka colek-colek sana sini. Keisengan hanya ada di atas panggung. Di luar panggung, para ladyboy Cabaret Show adalah orang-orang yang elegan dan sangat ramah. Mereka melemparkan senyum dan tak segan menyanggupi untuk memegang kamera/ponsel kita saat sedang selfie.

Sayangnya saya tak sempat bertemu dengan empunya Raminten, padahal beliau ada di panggung malam itu. Entah beliau keluar dari arah mana, atau memang beranjak sebelum pertunjukan selesai. Padahal saya pengin juga punya foto bareng ibu-ibu misterius (yang gambarnya dipampang besar-bersar di tiap restoran Raminten) itu 😛

(Visited 3,081 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *