Keluar Dari Jakarta

Jogja Trip 5: Melihat Masa Lalu di Istana Ratu Boko dan Prambanan

Ketika saya mendatangi sebuah daerah, hal pertama yang saya cari pasti wisata budayanya, instead of makanan, atau wisata alam. Walau bulan berarti saya tak menyukai dua hal terakhir yang saya sebutkan, tapi rasanya lebih asyik berburu candi atau tempat legendaris apa yang ada di sana. Seperti misalnya ketika saya ke Cianjur khusus untuk melihat sisa situs megalitikum Gunung Padang yang konon katanya pernah menjadi singgasana Prabu Siliwangi. Ketika saya ke Jogja kemarin, saya pun menyempatkan diri untuk ke Prambanan dan Ratu Boko –yang masih dalam satu kawasan.

Tepat pukul tujuh pagi, saya dan Ica keluar dari hotel tempat kami menginap, kemudian menunggu TransJogja menuju Prambanan. Dari sana kami menaiki TransJogja nomor 1A. Saya agak lupa apakah kami sempat transit di halte lain untuk berganti bus atau tidak, tapi yang jelas, TransJogja tersebut melewati Bandara Adi Sucipto, sebelum akhirnya merapat ke Halte Prambanan di Sleman.

Dari halte Prambanan, banyak becak yang bisa ditawar untuk mengantarkan kita ke kawasan candi. Sebenarnya tidak jauh kalau berjalan kaki, tapi jalanannya lumayan besar, sehingga kadang agak sulit menyeberang dan mungkin lebih aman naik angkutan seperti becak. Hanya saja, kalau tidak pintar menawar, bapak-bapak tukang becak tersebut tentu akan memasang harga tinggi, sekitar Rp 25.000,- misalnya, padahal rata-rata tarif normalnya hanya Rp 10.000,- hingga Rp 15.000,- sebab jaraknya yang sangat dekat jika ditempuh dengan becak. Dan jangan mau jika tukang becak tersebut juga menawarkan ke kawasan Ratu Boko sekalian, sebab dari Prambanan ke Ratu Boko (memang tidak jauh, tapi kalau menggunakan bus. Kalau naik becak, apalagi becak gowes, ya lama juga), perjalanannya sekitar 15-20 menit dengan bus mini atau elf. Bayangkan jika kamu menempuhnya dengan naik becak –selain bapaknya sendiri yang kasihan harus ngegowes, kamu juga akan wasting time.

IMG_20160801_090445

Tiket masuk Prambanan sebenarnya Rp 30.000,- saja. Tapi, jika kamu mengambil tiket terusan ke Istana Ratu Boko, harganya menjadi Rp 50.000,- dengan bonus tumpangan bus mini/elf khusus menuju Ratu Boko. Karena saya tak pernah setengah-setengah dalam wisata budaya dan sejarah, saya menyanggupi keduanya. Kami membayar, kemudian diminta masuk ke dalam mini bus karena penumpang saat itu sudah cukup banyak juga. Selama perjalanan pokemonnya sepi banget saya dan Ica sibuk menikmati pemandangan sambil sesekali mengobrol. Kebetulan kami mendapat duduk di depan –di samping mas sopir yang sedang bekerja. Sepintas saya ingat perjalanan dari Wonosobo menuju Dataran Tinggi Dieng. Nah, jalan dan kelokannya persis seperti itu tapi Dieng mungkin lebih ekstrem. Istana Ratu Boko terletak di puncak atas, sehingga setelah tiba di kawasan candinya, kita masih harus menaiki entah berapa anak tangga untuk bisa mencapai komplek atau kawasan utama.

Voila! Dan pagi itu ternyata kami (satu bus) adalah pengunjung pertama, sebab waktu belum lagi menunjukkan pukul sepuluh. Saya dan Ica turun dengan cepat, melangkah dengan tak kalah cepat, hanya demi ‘mengamankan’ candi yang masih kosong untuk difoto. Hanya ada para pekerja yang sepertinya sedang merenovasi sesuatu di sana. Selebihnya, saya dan Ica mendapatkan banyak foto-foto yang lumayan bagus di kawasan ini.

This slideshow requires JavaScript.

Istana Ratu Boko terdiri dari sebuah bangunan luas sebagai pendopo, di samping kirinya ada keputren atau tempat para putri raja, yang jalanan belakangnya mengarah ke arah goa tempat orang bertapa. Konon kabarnya, hingga sekarang pun masih banyak yang suka bertapa di sana. Kami eksplor Ratu Boko selama kurang lebih satu jam, kemudian kembali turun dan menunggu mini bus yang akan mengantarkan kembali ke Prambanan. Tidak butuh waktu lama, sebab mini bus tersebut akan datang tiap 15 menit sekali.

Setibanya di Prambanan, sudah hampir pukul 11 siang dan sudah lebih banyak pengunjung yang datang –baik lokal maupun mancanegara. Banyak turis asing sedang sibuk memotret Prambanan dari jauh, atau memotretkan kerabat mereka dengan latar Prambanan.

“Ikuti titik-titik foto bule itu, mereka biasanya tahu angle yang bagus untuk difoto,” kata Ica sambil tertawa.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi ada benarnya juga, sih. Mereka sepertinya paham dan sangat tahu, sebaiknya mengambil gambar dari sudut mana. Dan turis asing tidak sula selfie, mereka lebih baik difotoin temannya –atau meminta tolong pada orang lain  jika mereka traveling sendirian. Sepanjang mata memandang, hanya orang Indonesia saja yang menurut saya selfie berkali-kali (termasuk kami mungkin). Bule ternyata memang sangat total ketika traveling, seolah tidak ingin melewatkan secuil celah pun dalam berfoto, sebab mereka datang dari negeri yang jauh dan menghabiskan pundi-pundi yang tidak sedikit untuk bisa mencapai tempat tersebut.

Sempat pula ada bule yang meminta bantuan kami untuk difotokan, ketika mereka melihat kami sedang sibuk berpose. Banyak pula keluarga bule yang datang bersama anak-anak mereka, kemudian dengan wajah tertarik mendengarkan ‘dongeng’ pemandu wisata mengenai kisah Rama dan Shinta di epos Ramayana. Pemandu-pemandu wisata itu berceloteh dalam bahasa Inggris yang fasih, seolah sudah menghapal ceritanya di luar kepala. Tiap relief yang terpahat di dinding candi punya penjelasan dan cerita sendiri. Di kamar-kamar bagian dalam candi ada arca raksasa yang menggambarkan tokoh-tokoh tertentu. Saya lupa di arca siapa –mungkin Rara Jonggrang, yang kabarnya jika dimasuki oleh pasangan, maka hubungan mereka tidak akan awet.

This slideshow requires JavaScript.

Sekilas mengenai Rara Jonggrang, seperti yang kita semua tahu bahwa dia adalah gadis cantik –putri dari Prabu Boko, yang mencobai seorang lelaki bernama Bandung Bondowoso. Ia tidak ingin menerima cinta Bandung Bondowoso, sehingga memberikan syarat yang sangat sulit, yaitu menyelesaikan 1000 candi dalam semalam. Ternyata Bandung Bondowoso mampu memenuhinya dengan bantuan gaib, hingga menjelang pagi Rara Jonggrang membuat ayam berkokok lebih cepat dan kemudian menggagalkan usaha Bandung Bondowoso yang baru membuat 999 candi. Kemudian, kerena marah akibat kecurangan yang dilakukan Rara Jonggrang, Bandung Bondowoso mengutuknya menjadi candi ke-1000 yang sekarang ada di Prambanan.

Aduh, jadi kayak buku pelajaran sejarah. Pokoknya begitulah kira-kira kisahnya. Indonesia memang kaya akan sejarah dan kisah-kisah menarik. Walaupun epos-epos tersebut dulunya berasal dari India, tapi ketika masuk ke Indonesia, versi ceritanya berubah di beberapa bagian. Misalnya saja seperti Ramayana, tidak sama lagi dengan versi aslinya di India sana. Begitu juga mungkin dengan Mahabrata.

Setelah selesai dengan Prambanan, saya mampir ke pusat oleh-oleh terdekat untuk belanja dan makan siang. Sebelum sore kami sudah pulang kembali ke hotel, sebab malamnya akan mampir ke Monjali atau Taman Lampion Monumen Yogyakarta Kembali, kemudian berburu sate khlatak di Bantul. Tapi sepertinya saya hanya akan mencantumkan foto-foto saja mengenai taman lampion ini. Sejujurnya, Monjali sangat jauh dari ekspektasi kami berdua. Lelaki-lelaki yang mengantarkan kami keliling Jogja berkeras tidak mau menemani jika kami mengajak mereka ke taman ini, tanpa kami tahu sebabnya. Ternyata benar, taman ini memang agak membosankan. Lampionnya tidak semeriah dalam bayangan, dan sebenarnya malah digunakan untuk tempat main anak-anak dan keluarga. Kawasannya kecil, hampir tidak ada yang saya foto di sini. Hanya beberapa foto iseng yang kebetulan hasilnya lumayan.

This slideshow requires JavaScript.

Saya rasa akan lebih menarik menceritakan Bantul dan sate khlataknya, serta Alun-alun Kidul tempat kami menghabiskan malam terakhir di Jogja.

(Visited 187 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *