Keluar Dari Jakarta

Jogja Trip 6: Berburu Sate Khlatak Ala AADC 2 dan Menghabiskan Malam di Alun-alun Kidul

Hari itu adalah malam terakhir kami di Jogja, sebab keesokan harinya kami akan kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta sore. Seperti yang sudah saya bilang di postingan sebelumnya, ada dua orang kenalan yang bersedia mengantarkan kami berburu sate khlatak di daerah Bantul yang jaraknya sekitar satu jam dari Jogja kota. Memasuki daerah situ udah nggak ada TransJogja dan kami terpaksa jadi cewek manis yang nggak terlalu banyak bawel biar nggak ditinggal cowok-cowok itu di tengah jalan.

Mereka datang dan menjemput kami di depan Monjali (Monumen Yogyakarta Kembali) atau yang lebih dikenal juga dengan Taman Lampion, sebab berkeras tidak mau ikut masuk ke dalam. Setelah saya dan Ica kecewa dengan penampakan taman lampion yang ternyata yah-gitu-doang, kami minta dijemput segera untuk menghibur diri (halah) dengan berburu sate, siapa tahu satenya enak dan membuat mood kami jadi lebih baik.

Perjalanan cukup lancar sebab Jogja bukan Jakarta dan hampir tidak ada hambatan apa pun. Kami tiba di Bantul, tepatnya di sebuah wilayah yang memang sepanjang jalan penuh tukang jualan sate. Bau daging dibakar, terutama bau daging kambing menguar sepanjang perjalanan. Kalau menurut cowok-cowok, orang yang nggak suka bau kambing pasti pusing seketika jika melewati daerah ini, karena memang baunya tajam banget.

Sate yang kami cari adalah sate khlatak Pak Bari –yang mungkin tenar seketika ke seluruh penjuru Indonesia bahkan luar negeri karena kemunculannya di film AADC 2. Dalam adegan itu, di malam sebelum Cinta pulang ke Jakarta, Rangga mengajaknya jalan-jalan semalaman, salah satunya adalah makan malam di sate khlatak Pak Bari. Salah satu tempat lain yang mereka datangi adalah Klinik Kopi yang katanya baristanya memang senang mengajak tamu untuk ngobrol –suka kopi apa, biasa minumnya yang mana, dan berkisah tentang biji-biji kopi lokal (oke, saya pikir itu hanya di film aja, biar lucu. Tapi ternyata memang aslinya begitu. Dan cowok-cowok sekali lagi ogah diajak ke sana, sebab menurut mereka semenjak film AADC tayang, tempat ngopi satu itu sampai harus antre udah kayak nungguin dokter di rumah sakit. Dan seperti biasa, cowok ogah repot apalagi nunggu lama-lama hanya untuk sekadar ngopi).

Sayangnya, diulang, sayang seribu kali sayaangg, kami patah hati malam itu. Sebab Sate Khlatak Pak Bari ternyata tutup. Akhirnya kami beranjak ke sampingnya, namanya Sate Khlatak Pak Jono. Ya, sama-sama sate, sama-sama khlatak juga judulnya, tapi beda nama pemilik warung aja. Cowok-cowok kemudian nanya, mengapa di sebelah tutup, Pak Jononya bilang memang hari itu Pak Bari ada kepentingan jadi sementara tidak berjualan –tapi tutup sementara, bukan permanen, ya. Saya dan Ica cuma kurang beruntung aja karena datang di hari itu. Mungkin jika kami mendatanginya lain waktu, kami lebih berjodoh dengan sate khlatak milik Pak Bari yang legendaris tersebut.

IMG_20160801_202549

Akhirnya daripada jauh-jauh ke sana tapi nggak makan, kami makan di tempat Pak Jono. Pesan dua porsi sate khlatak dengan nasi (yang porsi nasinya buanyak banget dan kami hibahkan ke cowok-cowok). Sementara cowok-cowok jail itu pesan tongseng. Porsi keduanya –baik sate maupun tongseng, sama-sama membuat saya tercengang. Porsinya kecil sekali, tongsengnya mungkin geli-geli doang buat lambung mereka. Sedangkan sate khlataknya dihidangkan dalam 1 piring berjumlah 4 tusuk. Hanya satu piring itu. Sehingga saya dan Ica nyaris memanggil bapaknya lagi untuk nanya itu sebenarnya berapa porsi, sebelum cowok-cowok di samping kami tertawa dan berkata, “udah, itu dua porsi, kok.”

“Hah?”

“Satu porsi isinya 2 tusuk.”

“@#@$#%$$@@!”

Dan kemudian kami terbayang harganya.

Seporsinya dua puluh ribu tanpa nasi.

Rasanya memang lebih enak ketimbang sate kambing biasa yang ada di Jakarta, dan itu sate termahal mungkin yang pernah saya makan seumur hidup, kecuali mungkin jika nanti saya mencoba sate di warung Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang konon per porsinya mencapai Rp 50.000,-

Kami menghabiskan sate-sate itu dalam tempo singkat, kemudian masih merengek untuk diajak makan seafood. Tadinya cowok-cowok mau ngajakin ke kafe langganan mereka, dekat kampus katanya. Oke, dekat UPN Jogja, maksud saya. Tapi entah, karena satu dan lain hal, akhirnya batal. Ketika kami dalam perjalanan pulang menuju Jogja kota, kami melewati sebuah restoran bernuansa jadul, Kedai Rakyat Djelata namanya. Suasananya sih Jawa banget. Harganya juga ya masuk akal deh untuk minuman. Tapi menurut bisik-bisik dua driver pribadi kami malam itu (diketekin cowok-cowok), harga makanannya cukup kejam. Dan karena nggak mau lama-lama, akhirnya kami cuma memesan minuman. Ica cuma memesan kopi susu, sedangkan saya kopi hitam pekat kayak mamang-mamang mau ronda. Dua cowok lain malah pesannya minuman berwarna, kemudian mereka menggerutu, “ini yang pendatang siapa, sih? Kok kalian minumannya standar warkop banget?”

Hahaha, tapi memang malam-malam saya tidak mau minum es campur atau es-es apalah itu namanya yang khas sana. Saya takut nge-drop badannya.

Selepas Kedai Rakyat Djelata hendak tutup, kami beranjak lagi. Saya dan Ica belum mau pulang, walau malam sudah naik dan waktu itu kira-kira pukul dua belas malam. Karena tahu kami masih semangat 45, cowok-cowok sepakat ke Alun-alun Kidul dan menodong saya berjalan di beringin kembar sambil tutup mata. Oke saya nggak suka ditodong dan dianggap pengecut, jadi saya menyanggupi, walau sama seperti sebagian besar orang yang melewati beringin tersebut –saya gagal di kali pertama.

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya, Ica melihat mobil-mobil warna-warni penuh lampu dan langsung terpana. Karena bujuk rayu kami berdua, cowok-cowok akhirnya mengalah dan mau ikut main mobil unyu itu walau hal tersebut membuat mereka jadi kelihatan kayak alay-alay baru pertama kali ke alun-alun, hahaha. Selain itu, karena kami berdua dengan nistanya nggak bisa bahasa Jawa, mereka juga yang bantuin nawar ke abang-abangnya. Awalnya mereka berdua mau bantu nawar harga tapi ogah ikut main, karena merasa itu konyol sekali. Tapi cowok sepertinya memang lemah sama bujukan perempuan, sehingga akhirnya mereka malah kesenengan dan mau-mau aja diajak wefie di dalam mobil unyu. *ketawa setan*

AADC 3! Hahaha.

Setelah satu kali keliling alun-alun, kami beranjak menuju kedai-kedai kecil di pinggiran Alun-alun Kidul. Di sana banyak yang menjajakan makanan, minuman, maupun camilan ringan; mulai dari roti bakar, Indomie goreng/rebus, nasi goreng, wedang ronde, kopi, teh, dan minuman lainnya. Cowok-cowok mulai lelah sendiri dan pesan ronde serta minuman jahe hangat. Saya dan Ica yang tadi merengek masih lapar malah nggak pesan apa-apa karena terlanjur kesenangan abis main mobil unyu. Fokus kami bukan lagi makanan, teralihkan karena saking bahagilanya. Hahaha.

Apalagi ketika dua pengamen kemudian datang. Usai mereka menyanyikan satu lagu, cowok-cowok menantang mereka untuk menyanyikan lagu dengan unsur nama saya. Ini hal paling gila dari serangkaian liburan saya di Jogja, dan sekaligus paling menyenangkan. Para pengamen itu menyanyikan lagu Jikustik, judulnya Pandangi Langit Malam Ini. Kemudian, saya masih sempat request dan meminta mereka menyanyikan lagu Kla Project yang berjudul Yogyakarta –lawas banget memang. Dan karena tadinya cowok-cowok janji mau nyanyi buat saya, jadi mereka saya todong untuk ikut bernyanyi sekalian bareng pengamen-pengamen tersebut. Walau mukanya pada malu-malu, tapi akhirnya mereka nyanyi juga. Saya puas karena berhasil nodong nyanyian! 😛 malam terakhir kami di Jogja ternyata cukup menyenangkan, bahkan lebih menyenangkan dari apa yang saya duga. Dan dengan begitu, akhirnya Jogja yang sempat saya benci selama ini menyimpan kenangan yang baik untuk diri saya sendiri.

Dan demikianlah.

(Visited 107 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *