#KentjanJakarta

#ChairilAnwarWalk – Menelusuri Jejak Hidup Chairil Anwar di Menteng Bersama @JktGoodGuide dan @GagasMedia

Ngumpul di Tugu Proklamasi. Ramai!
Ngumpul di Tugu Proklamasi. Ramai!

Pada hari Sabtu (21/8) kemarin, saya bersama Onty dan MbokDew ikut jalan-jalan bareng Jakarta Good Guide (lagi, sebab ini kedua kalinya untuk saya dan Onty, sedangkan Mbok tampaknya baru pertama kali). Kali ini, mereka bekerja sama dengan pihak Gagas Media. Kok bisa sih Jakarta Good Guide kerja sama dengan penerbit buku? Nah, ternyata, karena tak lama lagi Gagas Media akan menerbitkan buku biografi Chairil Anwar –siapa sih yang nggak kenal salah satu penyair ternama Indonesia ini? Beliau wafat dalam usia yang sangat muda, 27 tahun –yang kadang mengingatkan saya pada sosok Soe Hok Gie pula, sama-sama lelaki hebat dan sama-sama mati muda.

Dalam kesempatan tersebut, hadir kurang lebih 7 kru Gagas Media, dan juga penulis buku biografi Chairil Anwar, Hasan Aspahani. Kami berkumpul pukul 9 pagi di Tugu Proklamasi Jl. Pegangsaan, Menteng. Berbeda dari walking tour pertama yang dulu saya ikuti, walking tour kali ini lebih ramai. Entah karena menggandeng Gagas Media, atau karena tour terdahulu bertepatan dengan bulan puasa, jadi banyak orang malas jalan kaki ke luar. Di luar dugaan saya pula, ada banyak orang asing yang ikut. Mereka digabungkan dalam 1 kelompok kecil yang tour guide-nya khusus menggunakan bahasa Inggris.

This slideshow requires JavaScript.

Sedangkan sisanya –kami yang produk dalam negeri alias warga lokal, dibagi pula ke dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing dipimpin seorang tour guide. Di kelompok saya, tour guide-nya perempuan, namanya Mbak Bella. Orangnya ramah dan cekatan menjelaskan maupun menjawab pertanyaan kami mengenai tempat-tempat yang dilewati. Setelah mendengarkan pembukaan dan sedikit kata sambutan serta pembacaan puisi dari Mas Hasan Aspahani, kami mulai berjalan keluar dari Taman Proklamasi.

Sebelum keluar dari lokasi taman, Mbak Bella menjelaskan sedikit mengenai Tugu Proklamasi. Disebutkan, bahwa dulunya lokasi Pegangsaan –tepatnya di sekitar taman tersebut, adalah kediaman Presiden Soekarno semasa baru-baru kembali dari pembuangan di Bengkulu. Waktu itu, beliau masih bersama istri keduanya, Bu Inggit. Saya sempat menulis sedikit mengenai Bu Inggit, yang bisa kalian baca di sini. Waktu dan hari-hari di rumah Pegangsaan lebih banyak dihabiskan Bung Karno bersama Bu Fatmawati atau yang tidak lain adalah istri ketiganya. Di rumah itu pula anak-anak Bung Karno lahir.

Lalu, apa hubungannya rumah itu dengan Chairil Anwar? Dikisahkan, Chairil adalah keponakan dari Syahrir. Dan sesaat setelah merdeka, Bung Karno dan kelurga sempat mengungsi ke Bandung sehingga rumah yang di Pegangsaan ditempati Syahrir. Kala itu tahun 1941, Chairil Anwar baru berusia 19 tahun, datang dari Medan bersama ibunya dan tinggal di rumah sang paman. Syahrir adalah paman dari pihak ibu bagi Chairil Anwar. Kemudian, seperti yang bisa kita duga, sebagai anak muda tentu beliau rajin nongkrong tak jauh dari rumah. Dan seperti itulah mulanya Menteng – Cikini menjadi tempat nongkrong Chairil Anwar muda.

Chairil Anwar mulai menulis sajak ketika umur 20 tahun, dan jika ditarik hingga ke masa meninggalnya, bisa kita simpulkan bahwa beliau hanya sempat berkarya selama 7 tahun saja. Masa yang pendek, tapi cukup untuk membuat beliau menjadi orang yang cukup berpengaruh. Semasa di Medan, Chairil Anwar berasal dari keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah seorang Bupati, dan ia bisa mendapatkan banyak hal yang mungkin tidak dimiliki anak seusianya meski hanya lulus SD. Beliau bisa menonton film untuk 17 tahun ke atas meski waktu itu usianya belum genap 17.

This slideshow requires JavaScript.

Dan masih mengenai Tugu Proklamasi, sebelum kami benar-benar keluar dari sana, Mbak Bella menambahkan lagi. Monumen paling tua di tempat itu adalah sebuah bangunan putih yang tidak terlalu besar ukurannya, dibuat 1 tahun memperingati proklamasi RI –which mean, dibuat pada Agustus 1946. Kemudian ada Monumen Petir, dan yang paling baru adalah sepasang patung Bung Karno dan Bung Hatta beserta naskah proklamasi, ukurannya paling besar, diresmikan pada 1980. Selain ukuran yang paling besar dan paling wah di taman itu, monument sepasang proklamator ini ternyata marmernya sama dengan marmer milik Masjid Istiqlal –masjid nomor satu di Jakarta. Marmer-marmer tersebut didatangkan langsung dari Tulung Agung.

Kemudian, kami beranjak ke luar taman, menuju Cikini Raya dengan melewati gang-gang di perumahan sekitar sana. Pada sebuah jalanan yang di depannya ada pertigaan, Mbak Bella menjelaskan lagi, bahwa di sana ada jalan bernama Jl. Prambanan, Jl. Mendut, dan Jl. Borobudur. Stasiun radio Prambors berawal dari sana, dan nama ‘Prambors’ sendiri merupakan akronim dari nama ketiga jalan tersebut. Prambanan, Mendut, dan Borobudur adalah 3 nama candi terkenal di Jawa dan konon kabarnya posisinya terletak di satu garis lurus. Sehubungan dengan letak posisi para candi tersebut, katanya juga ada mitos tersendiri yang dipercaya oleh orang-orang Jawa. Dan sedikit informasi, Warkop DKI juga berawal dari Prambors, namanya Warkop Prambors. Baru ketika mereka mulai aktif di layar kaca, akhirnya berganti nama menjadi Warkop DKI –sebab jika terus menggunakan nama Prambors di belakang nama grup, berarti mereka harus terus bayar royalti.

Gedung lama RSCM
Gedung lama RSCM

Kami mengangguk-angguk, beberapa informasi tersebut sepertinya memang baru diketahui. Kemudian, Mbak Bella berjalan lagi, mengajak kami menyeberang ke arah RSCM yang tak jauh dari bioskop Metropole. Di depan situ kami diam dan berdiri, menyaksikan seorang kawan peserta tour membacakan sajak Chairil Anwar yang berjudul Yang Terampas dan Yang Putus. Dikisahkan, Chairil Anwar meninggal karena komplikasi penyakit –salah satunya paru-paru.

Beliau meninggal di RSCM, kala itu sekujur badannya bau sekali dan orang-orang mengiringi jenazah beliau meski tak bisa lagi melihat wajahnya sebab sudah dikafani. Banyak sastrawan Indonesia pada zamannya, dan juga murid-murid pelajar sastra yang ikut arak-arakan Kopaja, mengantarkan Chairil Anwar ke Pemakaman Karet Bivak yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Tiga bulan sebelum meninggalnya, Chairil Anwar menulis sajak mengenai Karet, seolah sudah bisa meramalkan kematiannya sendiri dan seolah tahu bahwa ia akan berakhir di sana. Pelukis Affandi tidak menghadiri pemakaman Chairil Anwar karena bergegas untuk melukis kisah meninggalnya penyair tersebut. Ia takut memori berharga itu akan terlupa begitu saja, sehingga memilih melukis ketimbang pergi ke pemakaman. Menurut data Tempo edisi terbaru yang memang merupakan edisi khusus Chairil Anwar bulan ini, lukisan tersebut kini berada di tangan seorang kolektor di Semarang. Jadi, bukan di museum, melainkan di tangan pribadi.

Pada saat ia meninggal pula, sekitar kurang lebih 5 media cetak memuat puisinya yang sama; Yang Terampas dan Yang Putus, hanya saja dengan judul-judul yang agak berbeda. Sebab, Chairil punya kebiasaan meminta uang muka ketika akan menulis di media cetak. Kelimanya menyanggupi, tapi ketika beliau meninggal baru 1 puisi yang jadi. Makanya, kelima media tersebut akhirnya memuat puisi yang sama tapi mengganti sedikit judulnya.

Sesaat sebelum meninggal pun, istrinya meninggalkan Chairil, membawa pergi anak mereka –yang hingga kelas 3 SD tidak mengenal siapa bapaknya dan bahkan tidak sadar bahwa ia adalah anak dari seorang Chairil Anwar.

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke arah Metropole. Bioskop lawas itu bangunannya masih khas kompeni. Dulu nama awalnya memang Metropole, tapi sempat berganti dan sekarang menjadi Metropole lagi. Saya sering melewati daerah ini ketika masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Menteng, tapi belum pernah coba nonton di Metropole. Dan baru-baru ini, saya jumpai lagi Metropole dalam film lawas Tiga Dara yang sedang tayang di bioskop. Di sana, Metropole menjadi setting di tahun 1950-an, dan suasananya memang masih jadul sekali. Dulu, sebelum menjadi bioskop, Metropole hanya tempat nongkrong anak muda. Chairil Anwar nongkrong di sana, sedangkan untuk nonton film, beliau pergi ke kawasan Pasar Baru. Metropole sendiri baru menjadi bioskop tahun 1950, sesaat setelah meninggalnya Chairil.

5

Kemudian kami berjalan ke arah Stasiun Cikini dan berhenti di depan sebuah kampus yang tidak terlalu luas, namanya Universitas Bung Karno. Kampus ini dibangun oleh Yayasan Bung Karno yang tidak lain merupakan yayasan milik putra-putri beliau. Kampus ini sudah dibangun semenjak 1980an tapi baru bisa beroperasi tahun 1999, sebab pada masa itu adalah masa-masa kejayaan Orde Baru dan Soeharto sedang berusaha meminimalisir apa-apa yang terkait Bung Karno dan Bung Hatta. Kemudian, kasus ini dibawa ke peradilan, dan baru tahun 1999 akhirnya SK keluar dan memutuskan bahwa Universitas Bung Karno boleh beroperasi.

6

Chairil Anwar juga suka nongkrong di daerah Cikini sana, tepatnya di dekat kawasan Cikini Gold Center sekarang. CGC adalah pusat jual beli emas terbaik di Jakarta, selain di kawasan Blok M. Konon, jika kita membeli emas di sini kemudian ingin menjualnya, harganya tidak akan terlalu jatuh dari harga belinya. Jika kita mengambil jalan lurus sedikit ke arah KFC Cikini, ada kawasan Pasar Kembang –tempat belanjanya Noni-noni Belanda tempo dulu. Selain pasar kembang di sini, Jakarta punya pasar kembang yang lebih besar dan elit, yaitu Rawa Belong di Jakarta Barat.

This slideshow requires JavaScript.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri Jalan Cikini Raya, sebab perhentian terakhir adalah Taman Ismail Marzuki. Jika kalian sering lewat Cikini Raya, kalian akan tahu bahwa di sana ada sebuah rumah jadul bernuansa putih yang dari luarnya agak menyeramkan, tapi ternyata di dalamnya antik sekali. Rumah itu milik Achmad Soebardjo –menteri luar negeri pertama Indonesia. Kini, rumah tersebut masih dimiliki oleh keluarga beliau, walau saya tidak tahu apakah rumah tersebut dibuka untuk umum seperti museum pada umumnya, atau tidak. Kebetulan sekali, Sabtu siang itu, mereka sedang ada di sana, dan ketika melihat rombongan Jakarta Good Guide sedang berbincang di depan pagar, seorang perempuan muda memanggil dari dalam rumah, mempersilakan kami masuk dan mengambil beberapa foto. Kebetulan yang menyenangkan bisa melihat kediaman Achmad Soebardjo sedekat itu.

1

Lalu kami pamit dan bersalaman dengan empunya rumah, sebelum kembali melangkah dan berhenti di depan sebuah sekolah. Perguruan Cikini, namanya. Anak-anak Bung Karno semuanya bersekolah di sekolah ini. Alkisah, suatu hari Bung Karno baru akan pulang dari menjemput raport anaknya. Beliau keluar dari salah satu acara bazaar sekolah dan seketika saja ada yang melempar 8 buah granat ke arah Presiden RI pertama tersebut. Ajudannya bergerak cepat mendorong Bung Karno ke arah lain. Sang proklamator selamat walau beberapa orang menjadi korban luka-luka. Diduga, pelakunya adalah orang anti komunis. Sebab waktu itu partai Bung Karno pro komunisme. Ada juga yang menduga bahwa penyerangnya adalah seorang dari Lombok atau daerah-daerah sana, yang tidak menyukai Bung Karno sebab dianggap suka main perempuan. Padahal, pada masa itu, perempuan merasa memiliki kehormatan yang baik jika bisa menjadi istri sang presiden, karena kharisma Bung Karno memang nggak ada yang mengalahkan.

4

Perhentian terakhir adalah Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jassin sempat berselisih dengan Chairil, karena menganggap salah satu sajak Chairil plagiat. Mereka bertengkar hebat, tapi kemudian besoknya berdamai lagi karena Chairil datang ke rumah beliau untuk minta makan. Begitulah seorang Chairil, yang semasa mudanya dikenal bandel, suka mencuri di toko buku milik Belanda, sering nongkrong dan kadang bikin ulah yang membuat kawan-kawannya harus menebus dirinya di pengadilan.

Perjalanan kami hari itu cukup menyenangkan, dan cukup banyak informasi yang saya dapatkan. Salah satu yang saya suka dari trip bersama Jakarta Good Guide adalah bahwa mereka punya banyak info tentang Jakarta yang kadang kita tidak tahu, atau tak terduga sama sekali. Jakarta ini sepertinya kecil, tapi ternyata ada banyak sekali hal yang tak pernah kita ketahui. Dan cobalah, sesekali jalan-jalan bareng mereka. Selain sistem pay as your wish alias bayar sesukamu setelah selesai tur, para tour guide-nya juga ramah-ramah. Hihi.

*

Catatan:

This slideshow requires JavaScript.

*Livetweet lengkap dan video pembacaan puisi bisa juga disimak di sini.

(Visited 133 times, 1 visits today)

5 thoughts on “#ChairilAnwarWalk – Menelusuri Jejak Hidup Chairil Anwar di Menteng Bersama @JktGoodGuide dan @GagasMedia

  1. Napak tilas sejarahnya seru. Ada beberapa informasi yang baru saya dapat dari tulisan ini. Yaitu kenyataan istrinya chairil yang meninggalkannya. Sampai anaknya yang bahkan tidak tahu-menahu dia adalah anak seorang chairil anwar.

    Nice article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *