Coretan

Ketika Usia Membatasi Diri

pexels-photo-28056
Gambar dari: Pexels

Tempo hari rusuh dengan berita bahwa anak kecil banyak yang membawa kendaraan bermotor dan pada akhirnya banyak menimbulkan kecelakaan di jalanan, serta tentunya bukan mustahil memakan korban jiwa. Orang-orang beramai-ramai memprotes hal ini,

mengapa anak-anak diperbolehkan membawa motor padahal mereka masih di bawah umur, bahkan masih duduk di sekolah dasar?!

Saya paham kekhawatiran itu, bukan karena saya sudah punya anak. Tapi setidaknya mata awam pun tahu bahwa rata-rata tubuh anak SD belum bisa membawa motor dengan stabil dan baik –layaknya orang dewasa. Wong yang dewasa aja bisa kok nggak sengaja ‘kepleset’ dikit lalu jatuh atau menabrak yang lain-lain, gimana anak-anak? Tapi kemudian muncul berbagai tanggapan dan keriuhan lain dari netizen. Ada yang bilang,

lah itu anak-anak di desa yang tidak ada transportasi apa-apa lagi sementara sekolahannya jauh banget dari rumah. Belum kalau hujan, harus gimana dong? Masa mereka jalan kaki di tengah hujan deras, melewati jalanan berkilo-kilometer itu?

Kemudian muncul lagi tanggapan lainnya,

anak di negeri kita itu terbiasa diajari manja, anak saya sekolah di Jepang, semuanya wajib jalan kaki nggak peduli hujan, badai, musim dingin, segala macamnya. Itu aturan pemerintah, baik daerah pegunungan maupun daerah kota. Anak dilatih mandiri, bukannya dikasih motor, terus nabrak orang.

Saya membaca tanggapan-tanggapan itu sambil makan ciki. Lucu banget deh rasanya membaca komentar-komentar orang yang bersitegang karena suatu hal. Sungguh serunya mungkin ngalah-ngalahin pertandingan bola favorit para lelaki –yang bisa bikin mereka begadang semalaman suntuk cuma demi nungguin beberapa butir gol.

Di satu sisi, saya pikir ya memang ada benarnya, anak kecil sebaiknya jangan diperbolehkan untuk bawa kendaraan bermotor sebab berbahaya. Tapi membandingkan anak kecil kita dengan anak kecil di Jepang, ya gimana ya. Selain pendidik aka pemerintahnya berbeda, situasi juga berbeda, sederhananya tak ada juga yang suka dibanding-bandingkan. Yang bisa kita lakukan mungkin (ini basi, sih) memperbaiki diri alih-alih membandingkan dengan sistem yang sudah bagus. Dih, Amerika aja udah bagus sistemnya, dih Jepang aja bagus, dih Australia aja bagus, terus kita gimana? Masih gitu-gitu aja? –misalnya. Ya, mulailah lakukan sesuatu setidaknya yang kecil. Ajari anak sendiri untuk mandiri dulu, itu lebih baik lagi. Mungkin bisa jadi contoh yang paling masuk akal untuk ibu-ibu tetangga, orangtua murid di sekolah, dan siapa saja di sekitarmu –yang sikon tempat tinggalnya masih sama, dan pemerintahnya masih di bawah satu atap.

Tuh kan, jadi meracau. Padahal ini hanya intro, lho.

Jadi panjang, kan.

Terus intinya apa sih, mput ?

Oke, nganu, sebenarnya ini karena tempo hari ada undangan terbuka untuk seleksi kelas menulis dan saya memberikannya kepada salah satu editor saya tapi beliau terkendala usia saat ingin ikut acara tersebut. Abaikan kenyataan bahwa beliau editor saya, sebab saya pikir semua orang berhak untuk terus belajar selama ia mampu dan ia ingin. Tapi pembatasan umur seringkali membatasi diri kita sendiri dalam melakukan banyak hal. Saya jadi tak enak, sebab saya yang membagikan informasi itu, dan saya pun nggak kepikiran masalah usia. Saya ikut kelas serupa sebelumnya, dan ternyata kenyataannya usia saya dan beliau cukup jauh bedanya.

Saya tak tahu apa alasan panitia acara tertentu membatasi umur pesertanya. Mungkin biar lebih spesifik aja, padahal ada sebagian kecil orang yang umurnya mungkin sudah melewati batas yang ditentukan tapi orangnya berpotensi untuk ikut. Mungkin karena kelas menulisnya untuk remaja-dewasa-muda, tapi apa salahnya kalau –misalnya, ada orang usia 35 tahun yang ikutan dan ia mampu membuat tulisan yang beraura dewasa-muda, bahkan remaja ?

Bukankah ketika kita memposting tulisan, tak ada cantuman usia ? Yang ada mungkin hanya nama, dan sedikit bio serta alamat media sosial masing-masing kontributor. Dan padahal lagi, itu juga harus melewati seleksi, yang artinya, sebenarnya bisa saja memasukkan segala usia, kemudian diseleksi lagi berdasarkan tulisan perdana yang mereka tulis, apakah jiwanya sesuai dengan yang diinginkan portal yang bersangkutan atau tidak. Entah, saya seringkali mendapat keluhan teman-teman (teman saya banyak yang usianya di atas saya bahkan jauh di atas saya), Mput, kalau share info yang bisa buat gue dong, yang kemarin umurnya nggak bisa. Udah kelewat umur gue. Dan saya seringkali agak sedih mendengarnya. Niat belajar seseorang seringkali dibatasi usianya –yang hanya berupa angka, bukan cerminan tua mudanya jiwa mereka sendiri.

Pada akhirnya, saya teringat bahwa dua tahun lagi saya pun akan memasuki batas usia kebanyakan, dua puluh lima tahun, dan saya lelah sendiri memikirkannya. Mungkin pada tahun-tahun itu saya juga akan merasakan apa yang kawan-kawan saya rasakan –dibatasi dalam banyak hal; mencari kerja, melanjutkan sekolah, bahkan sekadar ikut kelas menulis gratisan walau dengan niat menambah wawasan sendiri.

Pada saatnya itu akan terjadi, dan saya jadi ingin ikut banyak hal –ini dan itu, sekarang-sekarang ini. Selagi saya masih dua puluh tiga. Selagi masih muda dan belum dianggap ‘sudah tua untuk ikutan acara kami’ oleh panitia-panitia acara keren.

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *