Coretan

Menjadi Perempuan, Menjadi Tangguh, Menghadapi Hidup, serta Segala Hal yang Mungkin Saja Berubah

Photo Credit: Pexels
Photo Credit: Pexels

Dunia takkan memberikanmu tempat yang istimewa hanya karena kamu seorang perempuan, tulis seorang kawan suatu hari, di salah satu media sosialnya. Tulisan itu membuat saya berpikir lama sekali. Memang rasanya, benar adanya. Sama seperti laki-laki, posisi perempuan di dunia ini pun hanya sebagai manusia –tidak lebih dan tidak kurang. Apa yang bisa dilakukan lelaki, rata-rata bisa pula didapatkan perempuan; mendapatkan pekerjaan, memiliki aset sendiri, berinteraksi dengan orang lain, mendapatkan pendidikan tinggi, dan sejumlah kebebasan yang mungkin meski harus didapatkan kaum perempuan setelah perjalanan panjang para pendahulunya.

Hidup berjalan, dan umur bertambah, orang-orang tempat kita berlindung selama ini bisa saja pergi atau malah berubah. Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa nasib dan manusia adalah hal yang sungguh lucu –bisa berubah kapan saja seperti mood seorang perempuan. Kita tidak akan tahu kapan orang-orang akan beranjak dan meninggalkan kita untuk mengatasi segala masalah sendirian. Tak ada yang pernah tahu, dan maka dari itulah menjadi perempuan tangguh dan mengurangi sifat manja sepertinya merupakan hal yang tepat untuk dilakukan seiring berjalannya waktu.

Suatu saat –sebagai perempuan, kamu akan bertemu dengan orang yang mungkin kamu cintai dan kemudian hidup bersamanya. Tapi bukankah masih tak ada yang tahu, sampai kapan? Menjadi tangguh membuatmu tidak perlu bergantung hidup kepada orang lain –termasuk orang yang paling kamu cintai sekalipun. Time flies, people changes, kata sebagian orang. Kalimat tersebut mengajarkan kita bahwa siapa saja pada akhirnya bisa berubah –entah menjadi lebih baik, entah juga tidak. Dan bagaimana jika kenyataannya orang yang kita pikir akan selalu ada, berubah menuju arah yang tidak kita inginkan?

Selain itu, menjadi mandiri membuat kita berkuasa atas hidup dan tubuh kita sendiri. Tidak ada yang memiliki dirimu selain dirimu sendiri. Orang-orang boleh datang dan (berkata bahwa mereka) mencintaimu, tapi ada baiknya agar kamu tetap realistis dengan hidup –dan tidak menambah-nambah drama dalam keseharianmu, atau bergantung kepada orang lain terus-terusan. Itu juga termasuk ke dalam alasan mengapa perempuan sebaiknya mengurangi sifat manjanya.

Pada hakikatnya, semua perempuan punya kecenderungan untuk bermanja-manja dalam dirinya. Tidak ada yang salah, karena memang demikianlah adanya. Tapi semakin dewasa, rasanya hal-hal seperti ini merupakan hal yang bisa diatur sedemikian rupa agar tidak berlebihan dan malah merepotkan dirimu sendiri. Saya pun pernah melewati tahap yang sama; menjadi manja, mengira semua orang akan selalu ada untuk saya, hingga saya kemudian tahu bahwa dunia tak pernah memberikan pengecualian bagi perempuan. Tidak pernah. Masalah tetaplah sebuah masalah, kehidupan tetaplah sebuah kehidupan, dan beban ya memang sebagai beban –begitulah adanya, dan kemudian harus saya selesaikan sendiri. Tidak akan ada orang yang selalu siaga untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup saya. Kita tetap hidup sendiri-sendiri pada akhirnya, tak peduli seberapa banyak pun teman yang mungkin kita temui di sepanjang perjalanan hidup.

Setidaknya, menjadi tangguh dan mandiri membuatmu bersiap menghadapi hal yang paling buruk yang bisa terjadi kapan saja.

(Visited 72 times, 1 visits today)

1 thought on “Menjadi Perempuan, Menjadi Tangguh, Menghadapi Hidup, serta Segala Hal yang Mungkin Saja Berubah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *