Coretan

Solo, Solitude –Istirahatlah Kata-Kata; Sisi Sunyi Wiji Thukul Semasa Pelarian

WhatsApp Image 2017-01-23 at 9.36.51 AM

Akhirnya kemarin saya berhasil menonton Film Wiji Thukul –Istirahatlah Kata-kata, setelah sekian lama menunggu film ini dibuat dan apakah memang akan ditayangkan di bioskop atau tidak. Akhirnya film ini tayang, dan saya ketar-ketir ingin menontonnya dalam waktu dekat karena takut ‘turun layar’. Bukan saya pesimis pada film tersebut, tapi seringkali film yang segmented dan pasarnya tidak umum, tak bertahan lama di bioskop. Namun, di luar dugaan, hari-hari pertama tayang ada kabar bahwa film itu meledak dan studio banyak yang penuh. Menimbang itu, beberapa bioskop lain menaikkan filmnya sehingga malah jadi ‘tambah layar’.

Saya senang, saya menjadi orang yang ikut menonton perjalanan Thukul tersebut. Saya membaca buku-bukunya bertahun yang lalu, membaca biografinya dalam sebuah buku terbitan Tempo, membaca majalah yang membahas beliau. Dan sekarang saya menyaksikan Thukul di layar sinema –meski bukan nyata-nyata Thukul yang memerankan dirinya, sebab ia tak kunjung kembali sejak dinyatakan hilang 1998 yang silam.

Kalau ada yang berharap film ini bermuatan politik, jangan berekspektasi lebih. Sesungguhnya film ini menyajikan sisi sunyi seorang Wiji Thukul selama dalam pelarian ke Pontianak. Bagaimana ia merasa sepi jauh dari istri dan anak-anaknya. Bagaimana teman-temannya berusaha menghibur; mengajak ngobrol, menanyakan buku yang ia baca, dan berbagai jenis hiburan lainnya. Di Pontianak, Thukul menumpang di rumah seorang kawan –kadang berpindah, tapi tak juga hilang rasa rindunya pada Sipon –sang istri, serta Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, anaknya.

Seperti yang kita semua tahu, Wiji Thukul yang kurus dan cadel ‘R’ itu hanya seorang desa yang tidak tampak berbahaya. Tapi rezim orba takut pada kata-kata dan puisinya, juga pada semangatnya. Itulah mengapa ia dihilangkan. Seperti dialog dalam film yang bersangkutan, Thukul –yang diperankan Gunawan Maryanto, mengatakan rezim ini memang bangsat, tapi masih takut pada kata-kata!

Semangat Thukul menyala-nyala, mengobarkan semangat orang banyak, menyebabkan rumahnya diawasi intel, digeledah, bukunya disita paksa, istrinya diinterogasi, anaknya didatangi. Tapi aku berterima kasih, kalian telah mengajarkan apa itu penindasan kepada anak-anakku, sejak dini. Perbuatan kalian adalah pelajaran yang tidak tertulis, batin Thukul ketika ia tengah berada di atas sebuah perahu sederhana di sungai Kapuas, usai menerima kabar bahwa rumahnya digeledah paksa.

Sipon, istri Thukul, diperankan oleh Marissa Anita. Meski menurut saya secara pribadi, beliau kurang mirip secara fisik dengan Sipon, tapi aktingnya harus saya akui cukup oke. Saya juga dikejutkan oleh hadirnya Melanie Subono yang berperan sebagai seorang istri dari kerabat Thukul, Ida namanya. Saya melihat sisi Melanie yang jauh berbeda dari yang saya tahu.

Overall, film ini cukup sesuai dengan ekspektasi saya. Memang takkan ada huru-hara atau adegan demo buruh yang membuat sebelah mata Thukul ditembak aparat, tapi justru memang itu yang saya bayangkan. Hanya ada kisah sebuah pelarian sepi. Buat yang belum mengenal jauh siapa Thukul, pergerakannya, atau belum membaca puisi dan biografinya, mungkin akan sedikit merasa kurang greget dengan film ini. Jadi, kalau saran saya sih, mending dibaca dulu sebelum nonton. 🙂 Yang membuat saya merinding adalah ketika menjelang ending, muncul suara Fajar Merah dan Cholil, yang menyanyikan Bunga dan Tembok bersama-sama, sebuah lagu dari puisi yang ditulis Wiji Thukul. Lewat lagu itu saya tahu, jiwa dan semangat Thukul masih ada dan akan terus ada meski raganya kini dinyatakan hilang. Rezim Orba mungkin bisa melenyapkan tubuh kurusnya dari kerumunan masyarakat –entah hilang, entah mati, entah hidup dan bersembunyi selamanya, tak ada yang tahu. Tapi puisinya tak pernah hilang, kata-katanya tak pernah mati, semangatnya tak padam.

Mereka terus ada. Berlipat ganda.

Dan menjadi sebuah kutukan.

Kemerdekaan itu nasi. Dimakan jadi tai!

(Visited 152 times, 2 visits today)

9 thoughts on “Solo, Solitude –Istirahatlah Kata-Kata; Sisi Sunyi Wiji Thukul Semasa Pelarian

  1. Saya jd makin pnasaran pengen nonton film ini, ohiya theme blogmu ini rada berat pas dibuka euy. Coba dibikin ringan & dipasangin plugins wordpress mobile biar ringan dibuka di hape *pembaca riwil

    1. Om Warm bukanya pakai web browser HP, ya? Kalau dari apps WP baik-baik aja, sih. Tapi noted, plugins wordpress mobile kan. Nanti aku coba cari dan pasang, hehe. Soalnya entah kenapa, lagi sreg sama theme ini 😛 *author bandel

      Btw, nonton!
      Filmnya oke, hahaha.

      1. haha lha iya orang2 jg mesti lebih sering buka dari browser hape atuh, juga skalian instal plugins yg bikin kinerja theme lebih ringan, biar dibuka di browser pc jg cepet, tp lupa aku nama2 pluginsnya, pokoknya gitu deh dan terserah empunya blog sih ahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *