Coretan

Merayakan 4 Tahun Kepergian

Gambar: Pexels

Saya menuliskan ini tanggal 27 Januari malam, menjelang 28 Januari dinihari. Hari-hari di tanggal seperti ini merupakan saat paling menyedihkan dalam hidup saya empat tahun lalu, ketika tahu bahwa ayah saya ‘pergi’ karena penyakit yang dideritanya ‘hanya’ dalam rentang dua tahun dan berhasil meremukkan hampir seluruh tubuh. Saya pikir, mungkin itu akan jadi salah satu saat yang paling menyedihkan seumur hidup saya nanti. Sungguh 19 tahun yang terasa begitu singkat, dan masih banyak hal yang kami cita-citakan bersama. Ayah ingin saya kuliah sampai S2 bahkan S3, dan segudang harapan lainnya yang mendadak tak ingin lagi saya lanjutkan usai kepergian beliau.

Saya kehilangan separuh hidup dan tenaga saya seketika. Dan yang bisa saya lakukan setelahnya hanya tetap hidup, melanjutkan kewajiban demi kewajiban yang saya miliki –menghidupi ibu, bekerja, bersosialisasi dengan orang lain, dan bersikap sama seperti manusia lainnya, tanpa tahu akan jadi apa di masa depan.  Entah, saya tidak begitu punya rencana besar yang benar-benar ingin saya lakukan dalam waktu 5 atau 10 tahun ke depan. Tapi saya tetap punya rencana-rencana jangka pendek –yang sebagiannya terwujud dengan mulus, sebagiannya mengabur begitu saja.

Banyak yang masih ingin saya lakukan bersama ayah. Saya tidak sempat mentraktir dengan gaji pertama, membelikan kemeja baru, atau ya –hal-hal lucu yang biasa dilakukan anak perempuan untuk ayah-ayah mereka. Saya kadang ingin tahu bagaimana rasanya. Dan karena saya tipe orang yang agak pelupa, saya selalu takut melupakan wajah ayah. Makan apa dua hari lalu saja saya seringkali lupa. Jadi, saya menyimpan foto ayah di kamar, di dompet, di laptop, di gawai, di flashdisk, dan di mana saja yang saya bisa. Saya tidak ingin lupa sedikit pun raut wajah ayah, saya tidak ingin lupa bagaimana cara beliau tersenyum dan tertawa, saya tidak ingin lupa kenangan masa kecil.

Hari ini, 4 tahun setelah ayah pergi. Entah beliau ada di mana dan bagaimana. Saya tidak paham dengan after life, tapi jika kehidupan berikutnya memang ada, saya ingin menjadi anaknya sekali lagi. Sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, dan sejuta kali pun saya ingin.

Selamat tanggal dua puluh delapan Januari.

Selamat merayakan kepergian.

Karena pada akhirnya semua manusia memang harus pergi. Lenyap. Entah ke mana. Entah menjadi apa.

(Visited 27 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Merayakan 4 Tahun Kepergian

  1. dan wah ini theme baru, lebih ringan dibukanya, walo itu foto di atas buset candinya gede sementara..ahsudahlah ^^

    pokoknya saya lebih seneng theme ini dibanding yg lama yg berat itu ehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *