Coretan

Mendengarkan MixTape ‘Pulang’ dari Saturday Corner –Mengenang dan Membayangkan Sebuah Perjalanan

Photo Credit: Ifnur Hikmah

Kemarin sore saya iseng mampir ke sebuah blog bertajuk Saturday Corner –blog kolaborasi seorang kawan dengan kawannya yang lain. Dulu sekali, saya pernah ngobrol dengan salah satu penulisnya untuk kepentingan postingan mereka, dan saya pikir postingan mereka pun unik juga. Ketika saya memilih tab ‘Pojok Apa Ini?’, hal yang saya baca pertama kali adalah…

Apa yang ada di kepala waktu bangun pagi di hari Sabtu?

Mungkin itulah cikal bakal mereka menciptakan sebuah ruang maya bernama Saturday Corner ini. Di dalamnya ada bermacam-macam tulisan; mulai dari ulasan musik, ulasan film, ulasan buku, hingga racauan acak dalam kepala. Selain itu, juga ada mixtape yang dibuat oleh penulis-penulisnya dengan tema tertentu. Seperti yang kita ketahui, mixtape pada dasarnya adalah gabungan atau kompilasi lagu yang kita susun sesuka hati berdasarkan suasana hati atau tema yang ingin kita buat. Awalnya hal ini dilakukan untuk mempermudah seseorang mengarsipkan lagu favoritnya –sebab dulu manusia masih memutar musik lewat kaset lagu, jelas belum sepraktis sekarang yang tinggal klik judul di Spotify, Joox, atau ITunes dan voila! Jadilah satu folder pribadi sendiri. Nggak, dulu mendengarkan musik tak segampang itu.

Photo credit: Saturday Corner

Tapi meski zaman sudah berubah, saya tetap menyukai konsep mixtape ini. Beberapa kali kawan-kawan dekat saya pernah membuat hal serupa –meski saya belum. Menurut saya mixtape punya keunikannya sendiri. Kita bisa mengompilasi lagu yang kita pikir bagus dan easy listening untuk kemudian dibagikan kepada orang lain. Tak perlu berlangganan akun musik apa pun untuk mengaksesnya. Cukup sediakan unduhannya, dan orang akan bisa mendengarkan hasil mixtape-mu di mana pun mereka berada.

Kali ini, saya mendengarkan mixtape bertajuk ‘Pulang’ dari Saturday Corner. Saya tertarik mengunduh mixtape ini hanya karena membaca judulnya. Pulang, apa yang kalian pikirkan tentang pulang? Katanya, seluruh perjalanan pasti bermuara pada satu hal: pulang ke rumah. Tapi apakah sebenarnya pulang itu? Buat saya, pulang tak harus ke ‘rumah’. Rumah saya beri tanda kutip sebab bagi saya rumah itu sendiri tak harus benda yang biasa kita ketahui secara awam. Rumah bisa (si)apa dan di mana saja dalam hidup ini. Terlebih, pulang tak harus ke rumah. Kamu pernah mendatangi suatu tempat dan merasa telah pulang karenanya? Saya sering merasa kepala saya seacak itu. Kerap kali, saya mendatangi tempat baru untuk pertama kali dalam hidup –tapi saya merasa ia begitu tenang seperti rumah. Di sana saya merasa pulang, bahkan merasa ingin kembali lagi suatu hari.

Saya merasakan itu ketika mampir ke Malang, main ke Jogja, ketika mendaki puncak Sikunir dan menahan dingin demi menunggu matahari terbit di depan manik mata saya sendiri, ketika ke situs megalitikum Gunung Padang yang membawa saya kepada masa-masa yang telah lalu. Saya pulang di banyak tempat selain ‘rumah’. Saya bisa merasa pulang di mana saja, kepada (si)apa saja. Yang jelas, konsep pulang bagi saya adalah sebuah kenyamanan. Nyaman di suatu tempat, berarti sama saja dengan sebuah pulang yang menyenangkan (dan menenangkan).

Well, kemudian saya mengunduh mixtape itu dan mulai mendengarkan lagu-lagunya. Ada dua lagu indie yang sudah saya kenal sebelumnya –diletakkan sebagai lagu pembuka dan penutup. Sisanya lagu luar yang belum pernah saya dengarkan. Mungkin mendengarkan mixtape orang lain juga sekaligus bisa menambah referensi lagu dalam kepala. Jadi, saya pikir tak ada salahnya.

  1. Tigapagi – Alang-alang
Photo Credit: Youtube

Mendengarkan lagu ini membuat saya membayangkan dua hal: sebuah penyesalan, dan juga kerinduan. Khas lagu indie, lagu ini pun menurut saya cukup asyik di telinga (begini, prinsip sebuah lagu indie menurut saya pribadi: ketika kamu menyukai satu lagu indie, kemungkinan besar kamu akan menyukai seluruh indie yang lainnya juga. Mungkin hanya satu-dua lagu yang takkan kamu sukai. Dan sebaliknya, ketika kamu tak menyukai lagu indie, mungkin kamu takkan menyukai sebagian besar yang lainnya. Sebab, ini lagi-lagi menurut telinga saya, lagu indie punya ciri khas yang mirip-mirip. Ada sebuah kesederhanaan di dalamnya. Ketika kamu mendengarkannya, kamu tak perlu melakukan apa pun selain meresapi dan menikmati dalam diam) seperti indie yang lainnya.

  1. Simon and Garfunkel  – The Sound of Silence
Photo Credit: All Music

Lagu ini dirilis pada tahun 2002, tapi entah mengapa ketika mendengarkannya, saya teringat masa kecil (walau memang, tahun 2002 saya juga masih kecil. Tapi maksud saya sebuah masa yang lebih jauh di belakang itu). Nada-nadanya seperti lagu barat era lama yang sering diputar di rumah. Kemudian ayah akan mengajari saya berdansa sampai lagunya habis, bahkan melanjutkan dansa itu ketika lagu berganti yang lain –masih dengan nada-nada serupa. Ah, kenangan manis masa kecil. Lagu ini liriknya ‘sepi’, tapi terdengar manis bagi saya.

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share
No one dare
Disturb the sound of silence

  1. Passion Pit ­­– Where The Sky Hangs
Photo Credit: Campus Nooz

Uraian yang agak pendek, sih. Tapi tak ada salahnya. Lagu ini lebih nge-beat dibanding lagu yang lainnya. Alternative rock yang dirilis tahun 2015. Cocok untuk didengarkan sambil baca buku, dan menikmati matahari pagi. Jangan lupa secangkir kopi hitam (atau pakai susu sesuai seleramu sendiri). Saya rasa tak ada yang bisa saya komentari dari sebuah lagu yang lebih cocok dinikmati ketimbang dikomentari. Demikian saja.

I get caught up in your heartstrings
Way up, where another sky hangs
I’ll take all that I can get
Just don’t make me go, go

  1. Radical Face – Wandering
Photo Credit: Youtube

Genre lagu ini folk, kalau di Indonesia mungkin sejenis lagu-lagu Silampukau –akan saya bahas lain kali, juga favorit saya, lagu-lagu tentang Surabaya. Lagu ini seperti mengingatkan saya –bahwa sebaik apa pun hidup yang sedang dijalani sekarang, jangan terlena di zona nyaman. Keep moving, melangkah ke mana saja. Mencari sesuatu yang baru. Not bad.

  1. Float – Pulang
Photo credit: Youtube

Yang terakhir memang selalu acara puncak. Float salah satu band favorit saya. Selain ‘Sementara’, ternyata ‘Pulang’ (2007) juga tak kalah enak untuk diresapi. Meski lagu ini sunyi, membuat saya membayangkan perjalanan dengan kereta –sendirian saja, tanpa teman. Menuju tempat yang jauh dari yang pernah saya tinggali sekarang, sambil bertanya-tanya: hal baru apakah yang akan saya lihat nanti di sana?

 

Jelajahi waktu, ke tempat berteduh hati~ kala biru

Sekali lagi, konsep pulang saya mungkin berbeda dengan kebanyakan orang. Saya anak yang bahkan tak ingin pulang ke rumah sebab dalam empat tahun terakhir memang tak pernah ada ‘rumah’ lagi dalam kehidupan saya. Jadi, saya memilih pergi dan berkeliling ke mana saja untuk merasakan esensi sebuah ‘pulang’. Saya kira ini berhasil, sebab seperti yang saya ketik di paragraf sebelumnya, bahwa saya kemudian menjadi anak perempuan yang bisa merasa pulang di mana saja, pada (si)apa saja. Saya tak lagi bergantung pada konsep rumah. Saya menciptakan pulang yang baru dalam kepala saya sendiri.

Memudar biruku
Jangan lagi pulang
Jangan lagi datang
Jangan lagi pulang, rindu
Pergi jauh!
Dan lalu…

 

See? Ternyata pulang bisa membawa kita ke mana saja, tak harus ke ‘rumah’. Mixtape di atas membuktikannya, ia membawa saya ke mana-mana; kepada masa kecil, kepada keinginan untuk membaca buku dan menikmati pagi, kepada sepi, kepada trip pendek dengan kereta yang selalu saya sukai, kepada hal-hal menyenangkan lainnya.

Jika kamu tertarik, kamu bisa mengunjungi blog Saturday Corner dan mengintip apa saja yang mereka racaukan setiap Sabtu pagi. Barangkali juga bisa mengisi hari Sabtumu yang kosong, membuatmu ingin mendengarkan/bahkan menuliskan sesuatu.

Atau, kamu punya mixtape-mu sendiri?

(Visited 44 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Mendengarkan MixTape ‘Pulang’ dari Saturday Corner –Mengenang dan Membayangkan Sebuah Perjalanan

  1. Saya jadi inget grup Pure Saturday asal Bandung

    trus grup di atas yang saya kenal cuma FLoat, tapi tak akrab juga dengan lagu2nya

    dan duluu, jaman saya kuliah ya biasa bikin mixtape beneran gitu, dalam artian sebenernya, masa2 kere, beli kaset kosong, trus pinjem kaset temen2 lalu saya rekam aja lagu2 hitnya. Dan koleksi beberapa mixtape saya masih utuh, karena dulu saya kasihkan ke pacar saya dulu, trus jadi koleksi bersama sampai sekarang (malaah nostalgiaaa hahahaha)

    1. Hahaha, wah aku udah lama banget nggak denger kaset begitu. Sebenernya dulu waktu SD masih eranya kaset lagu, dan aku punya beberapa, misalnya album Britney. Justru aku melewati masa CD Player, karena pas kecil aku anaknya gak begitu hobi minta dibelikan barang-barang begituan, lebih suka dibelikan ponsel (lha, lebih mahal) 😛 Sekarang jadi penasaran gimana sensasinya dengerin mixtape pakai kaset begitu, euy. Punya mixtape (albumnya si)apa aja, om?

      1. Banyak dulu lagunya sih, campuran juga, jadi satu kaset isinya ga cuma satu band/penyanyi, dan ya lagu2 90-an lah, seperti yg aku inget ehmm roxette, g n’ r, mr. Big, dll intinya semua lagu yg saya anggap asik. Kadang kalau tak dapet kaset, ngerekam dari stasiun radio pun jadi. Perjuangan banget ya ngoleksi lagu jaman saya dulu ehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *