Coretan

The Virgin Suicides dan Kegelisahan Anak Perempuan yang Jarang Diketahui Orang Banyak

Photo Credit: Subscene

Tak penting rasanya dari mana saya mengetahui film ini, atau apa yang membuat saya tiba-tiba saja ingin menonton The Virgin Suicides (1999). Sebenarnya, saya sempat punya bukunya, kemudian saya hibahkan kepada orang lain karena saya rasa saya takkan membacanya. Selain karena saya tak suka baca terjemahan (bukannya sombong atau sok fasih berbahasa Inggris juga, sih, tapi karena saya memang tersugesti bahwa sesuatu yang diterjemahkan ceritanya tak lagi sejelas dan se-greget yang asli. Begitu saja), ternyata saya tahu bahwa The Virgin Suicides ada filmnya.

Film berdurasi 1.5 jam ini menceritakan mengenai keluarga Lisbon. Oke, titik sentralnya memang keluarga Lisbon dan kelima anak perempuan mereka yang masih remaja –berumur kisaran 13-17 tahun. Tapi sebenarnya film dilihat dari sisi sekelompok remaja laki-laki yang penasaran dan kemudian mengamati keluarga ini. Jika tidak ditilik secara langsung dan hati-hati, orang luar hanya tahu bahwa keluarga Lisbon adalah keluarga yang bahagia -plus religius! Para anak remaja mereka tertawa, tersenyum, dan ceria di hadapan tetangga maupun teman-teman sekolahnya. Ayah mereka seorang guru matematika di sekolah. Apa yang salah? Tak ada. Semuanya lebih dari cukup.

Photo Credit: chelseagirl

Sampai tiba-tiba suatu hari, Cecilia (13 tahun), putri bungsu mereka mencoba bunuh diri. Psikiater tidak melihat ada keinginan yang benar-benar kuat dalam diri Cecilia untuk mati. Cecilia hanya sedang minta tolong –begitu kata psikiaternya. Kemudian, Tuan Lisbon melunak dan membujuk istrinya mengadakan pesta di rumah, mengundang remaja laki-laki dari rumah-rumah sebelah untuk datang. Harapannya, Cecilia kembali ceria dan berteman. Keempat saudarinya senang dengan pesta ini, sebab rumah mereka sepertinya jarang terbuka apalagi untuk anak lelaki. Tapi miris, malam itulah akhirnya Cecilia memilih mengakhiri hidupnya. Ia tampaknya tahu, bahwa pesta itu tidak tulus diadakan karena ingin pesta, tapi karena mereka hanya ingin ia ceria.

Photo Credit: literaryramblings

Saya pikir usai Cecilia meninggal, semuanya akan baik-baik saja. Mungkin sedikit kesedihan, tapi seiring waktu, orang-orang akan lupa dan kembali seperti sediakala. Tapi ternyata para saudarinya juga mengalami depresi yang sama. Usut punya usut, ternyata keluarga mereka sangat ‘mengurung’ anak-anak perempuannya dari dunia luar. Mereka mencoba meminta tolong kepada orang lain, di balik tawa-tawa yang mereka tampilkan, meski tak ada yang menyadarinya, kecuali keempat remaja lelaki tersebut. (Endingnya bisa ditonton sendiri. Mari kita bahas yang lain sebelum terlalu spoiler).

Film ini perlu ditonton para orangtua –terutama yang memiliki anak perempuan di dalam rumah. Saya tidak bilang remaja, sebab menurut pengalaman saya berteman dengan beberapa orang, anak yang dikurung orangtuanya tak hanya remaja. Seharusnya, seorang anak mendapat hidup sama seperti manusia pada umumnya –punya hak bergaul dengan teman-teman seumuran, bahkan jika sudah lewat batas usia minimal, berhak menentukan kehidupan dan pilihannya sendiri. Tapi itulah anehnya dunia ini, masih banyak yang menghalangi anak-anaknya berbuat ini itu, menghalangi keinginan mereka, dan kemudian masih berpikir bahwa ia memberikan yang terbaik untuk anaknya padahal nyatanya malah sedang menyiksa hati si anak.

Bahkan di kultur dan budaya kita, menikah dengan siapa atau hak atas tubuh seorang anak perempuan juga masih sangat dikekang keluarga (anak di sini posisi sebagai anak perempuan dalam keluarga, ya. Bukan remaja atau anak di bawah umur saja). Saya tidak mengatakan bahwa orangtua harus membebaskan anak perempuannya menjadi sebebas mungkin sampai tidak tahu aturan. Tapi ini masalah sampai batas mana aturan harus dibuat dan diterapkan, apakah aturan itu memanusiakan manusia, atau malah menjadikan anak-anak perempuan sebagai robot hidup yang tak punya pilihan.

Selain itu, mungkin ada pengaruh gender di sini. Kalau kamu bertanya-tanya mengapa banyak aktivis berteriak mengenai gender equality hingga hari ini, kamu juga harus tahu bahwa sampai hari ini, tidak ada keadilan antara anak perempuan dan anak laki-laki. Pengaruh patriarki membuat kita terbiasa dengan paham bahwa perempuan harus patuh dan berada di bawah laki-laki. Laki-laki adalah leader, tapi saya kira, kita tak bisa mematikan hak-hak dasar pada diri perempuan. Kembali lagi, sampai di mana batasnya aturan itu harus diterapkan.

Kemudian, orangtua semakin yakin bahwa anak perempuan akan aman jika dilarang keluar malam, keluar dengan lelaki, dan sejenisnya. WTF, saya benci pemahaman aneh ini. Keluar malam tak akan menjadikanmu pelacur. Melacur yang akan menjadikanmu pelacur. Pun, keluar dengan lelaki takkan membuat tubuhmu rusak –kecuali kamu yang merusaknya sendiri. As simple as that. Saya pernah berceloteh tentang ini dan terlalu bosan untuk mengulang-ulangnya lagi di sini.

Tapi saya harap para orangtua berkaca pada kekeliruan Nyonya dan Tuan Lisbon di The Virgin Suicides, yang akhirnya kehilangan segalanya, justru ketika mereka berusaha mengikatnya erat-erat. Sebab anak yang diikat dengan banyak hal, sekalinya lepas –percayalah, takkan kembali lagi. Tapi anak yang diberi kebebasan, ke mana pun kakinya melangkah, ia akan selalu ingat rumah. Terkadang orangtua hanya terlalu angkuh untuk mengakui itu.

Dan postingan ini sebenarnya bukan murni postingan film –ini sekalian misuh-misuh (lagi) 😛

(Visited 60 times, 1 visits today)

7 thoughts on “The Virgin Suicides dan Kegelisahan Anak Perempuan yang Jarang Diketahui Orang Banyak

  1. baru aja mau ngomong, endingnya misuh2 lagi hihihi
    dan saya juga punya buku ini, memang bermasalah pada penerjemahannya kok, saya ga betah bacanya karena menganggu sekali terjemahannya (mbulet)

    1. Iya, pilihan buat pembaca cerewet kayak aku memang cuma 2 om: baca karya asli penulis Indonesia, atau pinter-pinter berbahasa asing biar nggak lemot-lemot amat kalau baca edisi bahasa Inggris. Hehe. Beberapa buku, aku sudah membaca edisi aslinya saja –itu juga yang bahasa Inggrisnya bukan level dewa. So far, aku merasa lebih puas dan bahagia. 😀

  2. Kayaknya seru mbem buat ditonton sama dibaca.

    Aku setuju kalau terkadang ortu tuh salah dalam menilai apa yang baik buat anak. Makanya aku takut juga jadi ortu *hmm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *