Coretan

Menulis Surat dan Buku Harian, Masih Zaman Nggak, sih?

Photo credit: Pexels

Era digital semakin lama semakin berkembang, jenis media sosial bertambah, dan semuanya berlomba-lomba membuat fitur keren nan praktis –plus tentunya menyenangkan pengguna. Misalnya fitur stories mulai ada di mana-mana. Awalnya diciptakan Snapchat, belakangan Instagram, Facebook, Path, bahkan Whatsapp udah mulai sok stories. Meski yang sukses kayaknya cuma Instagram karena mampu bersaing dengan Snapchat meski tak seutuh Snapchat.

Well, di tengah-tengah lingkungan yang seperti ini, saya tiba-tiba saja terpikirkan tentang surat, buku harian, kartu pos, dan segala yang antik-antik itu. Kalau kartu pos, masih ada perkumpulannya sendiri –di mana para anggotanya memang senang bertukar kartu pos secara berkala. Kartu pos, saya juga menyukainya meski di sana  pula kesalahan terbesar saya. Saya berusaha terjun ke dunia mereka, meski saya kurang punya waktu untuk mampir ke kantor pos. Mereka banyak yang berniat baik dan mengirimi saya, sayangnya saya belum sempat membalas. Duh, saya kadang merasa jahat.

Skip.

Surat dan buku harian, kira-kira ada nggak sih yang masih menuliskan kedua hal ini di zaman sekarang? Di mana blog bisa diakses dengan mudah dan gratis, di mana curcol di media sosial pun ndak bayar dan tinggal klik post. Saya sedang membayangkan betapa manisnya cara berkomunikasi orang zaman dulu, mereka harus berlama-lama menulis surat, memikirkan kalimat yang apik agar enak dibaca. Kalau mau hapus kadang harus ganti kertas baru sekalian. Berbeda dengan era digital di mana bisa diedit sebelum dikirim. Bahkan di salah satu apps chat bernama Telegram, chat yang sudah dikirimkan pun bisa dihapus jika merasa ada kesalahan ketik. Ah, betapa praktisnya. Tapi betapa tak manisnya juga.

Saya hanya sekali pernah mendapatkan surat bertulisan tangan seumur hidup saya. Dari seorang kawan kantor yang resign dan memang meninggalkan pesan di meja semua temannya di pagi hari. Setelahnya tak ada lagi. Walau saya ingin tahu bagaimana rasanya balas-balasan surat dengan seseorang –dan melupakan sejenak bahwa tulisan saya nggak bagus. Hmm.

Pernahnya malah balas-balasan e-mail dengan seorang kawan dari komunitas buku. Ia mengusulkan hal itu karena merasa lebih praktis, namun tetap lucu. Ya, memang, ketika menulis surel, semuanya harus dipikirkan dan balasannya dirapel, nggak efektif mengirimkan satu kalimat demi satu kalimat seperti ketika di chat. Surel kami kemudian terputus entah di mana, dan saya belum pernah lagi berkirim surel selain dengan seorang kawan bule dari Australia yang menanyakan soal buku di Indonesia.

Sedangkan buku harian, lebih parah lagi. Kendati beberapa kawan yang saya kenal pernah memiliki buku harian di masa remajanya dan bangga pada hal itu, saya termasuk yang paling pemalu dan takut buku harian saya dibaca orang lain. Akibatnya, tiap kali ingin memulai, saya mengakhirinya hanya sebatas niat. Alias, nggak pernah ditulis sama sekali.

Padahal saya cukup menyukai konsep buku harian, Mungkin ketika tua nanti bisa dibaca bersama cucu, kemudian tertawa-tawa nggak jelas, dan agak malu ketika si cucu tahu neneknya pernah alay. Ya, sensasi-sensasi semacam itulah yang mahal dari sebuah kehidupan, bukan?

Sialannya, sampai hari ini saya masih belum berani menuliskan apa-apa. Mau menulis jurnal harian di aplikasi online pun rasanya kurang afdol. Saya selalu merasa ponsel masih sebuah alat yang punya keterbatasan meski menawarkan banyak kepraktisan. Saya tetap ingin punya jurnal harian yang ditulis tangan –meski lagi-lagi ingat bahwa tulisan tangan saya jelek.

Entah kapan saya mulai berani menuliskan kisah hidup sendiri dengan sejujur-jujurnya –tanpa takut malu dibaca orang (padahal tinggal disimpan baik-baik, toh).

Hmm, mungkin saya harus memulainya dengan dua hal dulu:

  1. belajar menulis yang rapi dan cantik
  2. Mencari teman untuk berkirim surat agar terlatih menceritakan sesuatu sekaligus menuliskannya langsung dengan tangan –alih-alih mengetik seperti sedang membuat novel.

Demikian.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *