Sejatinya saya anak yang iseng dan senang mencoba sesuatu yang baru. Beberapa tahun lalu saya  sempat bergabung dan membuat akun Tumblr meski akhirnya hilang karena saya tak sengaja menghapusnya –oke, ini pelajaran, jangan ngedit blog ketika mata mengantuk. Skip! Selanjutnya saya membuat akun Medium –serupa Kompasiana kalau di Indonesia. Saya cukup menikmati Medium dan posting beberapa hal secara berkala di sana.

Tetapi saya tak puas, saya masih mencari-cari alternatif selain blog –sebuah wadah yang mungkin asyik untuk menumpahkan unek-unek dalam kepala. Seorang kawan lalu menyarankan menulis di Opini. Meski, sebelumnya saya mengenal Opini sebatas video 1 menit, dan video itu jadi favorit saya sampai sekarang. Ada di sini. Jujur, sebagai penulis konten, saya sering berselancar di dunia maya untuk mencari berita, dan Opini adalah salah satu portal yang saya sukai konsepnya.

Yang menarik dari Opini.id?

This slideshow requires JavaScript.

Video 1 menit itu ciamik banget. Intinya, kamu tak perlulah repot-repot membaca panjang, cukup tonton video dan semua inti ceritanya sudah dirangkum di sana. Saya senang mencari ide di Opini –hingga kemudian mencoba menuliskan sesuatu di sana.

Berbeda dengan platform lain seperti Blogger atau WordPress yang tampilannya memang tampilan blog pada umumnya, Opini tiba-tiba muncul dengan konsep ‘buku’-nya, alias konsep slide. Umumnya tulisan di Opini berbentuk listicle dan masing-masing poin diberi nomor atau setidaknya penanda. Selintas bentuknya seperti Steller –aplikasi yang katanya saingan Instagram itu. Bedanya, opini lebih menonjolkan isi artikel daripada foto, Steller sebaliknya.

Ini juga sesuatu yang menurut saya ciamik dari Opini. Mau tak mau, saya yang terbiasa menulis narasi panjang dan tiada habisnya semacam ‘diharuskan’ menulis dalam bentuk listicle. Meski awalnya bingung, semakin lama saya merasa bahwa tulisan saya malah cenderung menjadi listicle dengan sendirinya. Seperti refleks ketika hendak menulis. Selain itu, poin per poin juga mengerucutkan materi yang dibahas dan itu sangat membantu sekali.

Apa tujuan Opini?

Saya sempat pula bertandang ke kantor Opini dan bertemu dengan kru mereka. Di sana, kami ngobrol random mengenai masyarakat Indonesia yang malas membaca –harus diakui, sebab peringkat literasi negara kita ada di urutan 60 dari 61 negara. Sungguh malu-maluin. Ehe, dan sialnya lagi… juga malas menulis.

Jadi setelah tim Opini mencari tahu mengapa minat baca masyarakat kita rendah, mereka mendapati kenyataan bahwa masyarakat kita tak suka tulisan panjang. Itulah mengapa terkadang orang membaca koran atau majalah hanya skimming alias baca cepat. Sisanya? Lihat foto liputannya dong, ah. Biar fotografer nggak sia-sia membidiknya dengan sepenuh jiwa. Hihi.

Masyarakat kita masih tipe yang perlu disuapin sedikit demi sedikit –hingga akhirnya Opini mengubah arah haluannya, yaitu menyajikan tulisan pendek tetapi mengena untuk anak muda. Kini, di situs Opini saya menemukan berbagai ragam tulisan yang bermanfaat dan ditulis oleh orang-orang muda seperti saya. Eh, bener, lho, saya masih muda 😛 dan sejujurnya saya pun menyukai idealisme tim Opini.

Menuntaskan hutang pada diri sendiri

Salah satu alasan saya membuat banyak akun di banyak platform adalah untuk menuntaskan hutang menulis pada diri saya sendiri. Tiap kali baca buku atau artikel bagus, saya selalu merasa bahwa saya ingin ada di posisi penulisnya. Tetapi sialnya semakin lama saya semakin malas menulis –terlebih fiksi, sebab saya sekarang terbiasa menulis non fiksi.

Seluruh kehidupan di alam semesta ini sejatinya hanya masalah kebiasaan dan ketekunan. Sialnya lagi, saya pun tak memiliki keduanya dalam hal menulis. Pertama, saya tidak biasa menjadwalkan kapan saya harus menulis dan berapa jam. Menurut saya itu mengganggu, seandainya di hari tertentu saya malah tidak sempat melakukannya. Jadi beban, dan menurut saya cinta/bagian dari hobi, pun, tak seharusnya demikian. Kedua, saya tidak setekun itu memperjuangkan sesuatu. Jadi satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah berlatih meski tidak setiap hari –di platform yang berbeda-beda, agar saya bisa merasakan taste dari beragam platform serta membaca beberapa karya milik penulis mereka.

Well, dengan hadirnya Opini.id saya berharap agar minat membaca/menulis anak muda kita bisa jauh lebih meningkat dari sebelumnya, serta tidak takut menyuarakan apa yang mereka rasakan. Kalau agak malas membaca tulisan panjang, di Opini.id ada banyak listicle pendek tapi asyik, plus masih berbobot kok isinya. Kalau malas menulis panjang, di Opini.id kamu bisa menulis listicle-mu sendiri, hanya dengan bermodalkan ponsel pintar serta kuota internet.

(Visited 25 times, 3 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *